
“Terima kasih ya pak Polisi, seandai nya saja anak saya belajar dengan benar, dan bisa jadi polisi seperti anda, saya akan merasa bangga sekali, tidak seperti…seperti sekarang, hhiikkss…hhikkkss… membuat kami orang tua nya merasa sangat malu.” Ucap si ibu, melirik pada Tedy.
Mereka hanya bicara di balik jeruji besi.
“Anak ku yang malang, kenapa bisa jadi seperti ini sih nasib mu nak..” si ibu yang menangis tersedu-sedu.
Tedy awal nya merasa heran, karena kedipan mata dari ibu nya, dia datang berjalan mendekati nya.
“Ibu…ibu, hhhikks…hhiikkss…” Tedy menangis, menggenggam tangan si ibu yang memegang terali besi.
“Ini makanan kesukaan mu ibu buat kan. Kamu harus makan ya nak. Hhiikkss…hhikkss… padahal ibu sudah melarang mu, agar jangan bekerja di tempat orang jahat, tapi kamu…
Kantor polisi yang berisik dengan suara tangisan yang sendu.
“Sudah lah bu, memang kita juga yang salah karena tidak bisa mendidik nya dengan benar.” Sang ayah berusaha menenangkan isteri nya.
Jam besuk pengunjung juga sudah hampir habis, si petugas pun mengingatkan mereka untuk pergi.
“Nak, kami pergi dulu ya, ayah dan ibu akan berusaha untuk melepaskan kalian, ini… makanan nya jangan lupa untuk di makan.” Si ibu yang mengingatkan Tedy dan kawan-kawan nya.
“Iya bu, tolong sampaikan maaf saya pada kakek ya bu. Dan tolong keluarkan saya…” pinta Tedy menangis.
Si ibu berpura-pura menangis.
******
Abraham dan Adley sedang mengamati tempat yang di informasikan sebagai tempat tinggal nya Bossa.
__ADS_1
“Ketat sekali pengawasan nya ya.” ucap Abraham, di dalam mobil tidak jauh dari lokasi.
Mereka melihat dengan menggunakan teropong yang canggih.
“Apa dia ada di dalam rumah itu?” tanya Abraham pada Adley.
“Ada, karena kata anak buah kita, terakhir dia di rumah dan masih belum keluar.” Jawab Adley dengan yakin.
“Tapi setiap malam selalu ada banyak orang yang datang, dan…. Pak Irwan Prasetyo juga datang ke rumah itu.” ucap Adley.
“Sudah ku duga, pantas saja dia seperti tidak suka dengan ku.” Balas Abraham.
“Pppfftt… kalau dia suka pada mu, apa kalian akan berpacaran?” ledek Adley.
Abraham melihat Adley, “Berisik..”
“Ambil gambar dan video mereka, terutama Bossa dan Irwan.” Suruh Abraham.
******
Monik siang itu juga datang mengantar makan siang untuk Ridwan setelah anak buah Bossa mengantar makanan.
“Selamat siang pak Ridwan.” Monik memberi hormat.
“Eh, nona Monika, hehehe selamat siang..
“Tuh kan, jangan panggil nona dong, kan sudah sepakat kemarin.” Monik risih jika ada yang memanggil ‘nona’ pada nya.
__ADS_1
“Tapi kamu juga kan memanggil saya ‘pak’,” balas Ridwan.
“Iya ya… Mmm.. Ridwan, ini aku bawakan makan siang untuk kamu.” Monik memberikan kotak makanan nya lagi, seperti biasa, dia yang membuat nya.
“Terima kasih ya. Ini aku kembalikan lagi kotak makan nya, sudah aku cuci bersih juga.” Ridwan mengeluarkan kotak makan tadi pagi.
“Apa nona Monika datang kesini sebenarnya untuk bertemu dengan Adley?” gumam Ridwan.
“Monik, pak Abraham dan pak Adley ti…
“Aku tidak mencari mereka kok.” Monik memotong ucapan Ridwan.
“Ooh.. maaf..” Merasa bersalah.
“Kamu sudah makan siang belum?” Ridwan membuka kotak makanan nya.
“Sudah, sebelum datang kesini, aku makan dulu di rumah.” Jawab Monik.
“Tapi beneran loh, masakan kamu ini enak banget, kayak nggak percaya kalau kamu yang masak ini.” Ridwan mengatakan kejujuran yang ada dalam pikiran nya.
“Iya, ini aku yang masak sendiri. Aku buka restaurant, yah… tidak terlalu terkenal dan besar sih, di dapur aku sering mencoba berbagai
resep masakan.” Ucap Monik.
“Jadi kamu punya bisnis? Hebat dong, aku pikir kamu wanita manja, maaf ya, jadi salah paham begini.”
“Tidak apa-apa kok, wajar pemikiran seperti kamu. Aku yakin, bukan cuma kamu saja yang berpikiran seperti itu.” balas Monik tanpa merasakan
__ADS_1
sakit hati.
“Pak Ridwan, ada yang keracunan di dalam sel.” Seorang petugas yang berlari menemui Ridwan, melaporkan kejadian yang terjadi.