
“Kalau begitu, aku akan ambilkan dulu ya.” dengan cepat Monik keluar menuju mobil nya. Para pria itu masih melihat Monik.
Adley seperti tidak senang melihat kedekatan Monik dan Leo, tapi dia tidak tahu apa alasan nya.
Monik membuka pintu di kursi belakang nya, dia membawa satu ikatan yang berjumlah lima kotak makanan. Melihat itu, Adley ingin maju membantu…
“Ya ampun… sini biar aku bantu.” Leo bergerak dengan cepat membantu Monik.
Langkah Adley pun terhenti melihat itu, Ridwan yang ada di belakang nya merasa kasihan.
Adley melihat Leo membantu membawakan kotak bungkusan makanan di kedua tangan nya, mereka berdua tersenyum bersama, apalagi Monik yang terlihat seperti sudah sangat akrab dan dekat.
Mereka membawa masuk.
“Ini, ini untuk Leo.” Dengan senang hati, Monik mengambil satu kotak makanan untuk di berikan pada Leo.
“Beneran nih tidak apa-apa? Ini kan pesanan mereka, nanti kalau mereka tidak dapat, bagaimana?”
“Enggak kok, itu hanya sisa nya saja, maksud ku hanya untuk cadangan, siapa tahu ada yang mau, begitu.” Jawab Monik, menyelipkan rambut ke belakang telinga nya.
Leo mencium bau dari dalam makanan, sebentar di intip.
“Wah… bau nya enak banget nih. Rasanya pengen langsung makan. Juru masak kamu pasti hebat banget.” Puji Leo.
Adley tidak mau melihat lebih jauh, dia pergi meninggalkan mereka berdua yang masih mengobrol.
“Apa dia cemburu lagi?” gumam Ridwan.
“Itu, aku yang masak kok.” Jawab Monik masih malu-malu kucing.
“Kamu? Monik yang masak?”
__ADS_1
Monik mengangguk, menyelipkan rambut nya lagi.
“Hebat kamu. Jarang loh ada wanita muda dan cantik seperti kamu bisa masak. Pasti suami kamu beruntung punya isteri seperti kamu.” Puji Leo.
“Ah… aku.. aku belum menikah kok.” Ucap Monik.
“Apa? Belum menikah? Masa sih? Aku enggak percaya loh.” Goda Leo.
Monika diam, tapi wajah nya memerah.
“Leo? Apa yang kau lakukan di sini?” Abraham muncul di belakang Monik.
Leo dan Monik melihat Abraham yang berjalan kearah mereka.
“Oh, aku datang ingin bertemu dengan mu. Ada yang ingin aku katakan.” Jawab Leo yang kembali berbicara serius, dengan cepat merubah ekspresi wajah nya.
“Tapi ngomong-ngomong kamu kata tante sudah menikah ya? kapan? Kenapa tidak undang-undang? Apa-
“Nona cantik, aku pergi dulu ya, terima kasih makanan nya, aku pasti makan dan menikmati nya.” Ucap Leo tersenyum melambaikan tangan nya.
Monik membalas lambaian tangan sembari tersenyum, seperti sedang kasmaran.
Leo mengikuti Abraham untuk masuk kedalam ruangan nya.
Tidak lama kemudian Adley muncul, menghampiri Monik yang kembali sibuk dengan pesanan yang sudah di hampiri.
Adley membantu nya, mengambil dan membagi-bagikan sesuai nama si pemesan yang di tulis di kertas kotak makanan.
Monik melihat Adley, “Terima kasih pak Adley.” Ucap nya tersenyum pada Adley, sembari masih sibuk membagikan.
Adley hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
“Ya ampun Pak Adley, kalau suka… katakan, kalau cemburu…juga katakan.” Gumam Ridwan dalam hati.
************
“Kau ini ya, kenapa tidak mengundang ku pernikahan kalian?” Leo duduk di kursi kayu tradisional.
“Dadakan.” Jawab nya singkat.
“Kok bisa? Apa kau meng-
Plak…
Abraham melempar buku kecil kearah Leo agar diam. Leo mengembalikan buku keatas meja kerja Abraham.
“Cepat sekali marah nya, sama seperti paman Lucifer.” Ledek Leo.
Abraham menatap nya dengan tajam.
.
.
.
Apa ada yang tahu, apa pekerjaan Leo?
Apakah Leo dan Monik saling suka?
Apakah Adley diam saja dengan perasaan nya?
Jangan lupa Like N Koment nya ya.
__ADS_1
Terima kasih.