KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 241


__ADS_3

“Ya ampun, ada apa dengan kalian? kenapa kalian kembali lagi kesini?” Aditya berlari menghampiri Abraham dan lainnya yang baru tiba di rumah sakit.


“Diamlah! Cepat obati isteriku.” Abraham menggendong Bellova, berjalan lebih cepat untuk langsung keruang pasien.


Arshinta dan Satmaka masih mengikuti Abraham dari belakang, juga Aditya.


Tap…


Bellova sudah di baringkan di atas tempat tidur pasien.


“Love, semua sudah baik-baik saja. Sekarang kita sudah sampai di rumah sakit, kau akan segera di


obati ya.” ucap Abraham, wajahnya dekat dengan wajah Bellova yang tatapan matanya melemah, walau begitu, dia masih bisa mendengar dan merespon ucapan Abraham, dengan menganggukkan kepala.


Aditya dan perawat sudah datang, dan akan memeriksa Bellova.


“Bagaimana ini, apa kau mau membuka kancing baju isterimu ini? Atau Ar-


“Biar aku saja.” Dengan cepat Abraham datang dan bersiap membuka kancing baju Bellova yang sudah basah dengan darah.


Samar-samar Bellova melihat Abraham membuka kancing bajunya. Rasanya malu, dan ingin mengangkat tangannya, tapi karena tidak berdaya dia hanya pasrah.


“Aku akan menyuntikkan obat bius dulu untuknya, dank arena lukanya juga baru habis operasi, aku akan


merapikan jahitan untuk menghentikan darah yang keluar-


“Jangan banyak bicara! Lakukan saja apa yang sebaiknya di lakukan sebagai dokter.” Ucap Abraham, suara


nya pelan tapi penuh penekanan.

__ADS_1


“Baiklah… baiklah.”


**************


Di markas Lucifer…


Bossa dan anak buah yang tersisa sudah berada di sana, Rock juga namun belum bangun dari pingsan akibat kena tendangan dari Arshinta.


Bossa yang hanya diikat tangan, kedua matanya juga sudah di tutup. Untuk kaki sengaja tidak diikat, karena percuma saja.


Rock tidur tergeletak dengan tangan diikat.


Cccrriitt… cccrrittt…


Mobil baru saja berhenti di depan markas, dan mereka sudah tahu siapa yang datang.


“Tuan Lu-


Anak buah yang memberi hormat seketika langsung diam saat Lucifer mengangkat tangan agar orang itu


diam saja.


Langkahnya terus di arahkan pada tempat dimana Bossa berada, di hadapan nya.


Kepala Bossa bergerak ke kiri dan kekanan, karena mendengar suara langkah kaki yang semakin


mendekatinya.


Anak buah mengambil kursi, seperti biasa Lucifer akan mengamati dulu, bermain sebentar.

__ADS_1


Duk…


Dia sudah duduk di kursi kayu.


“Buka penutup matanya.”suruhnya pada anak buah yang sedang menunggu perintah.


Bossa terkejut karena ada yang menyentuhnya.


Setelah penutup matanya di buka, Bossa langsung melihat orang yang berada dihadapannya, Lucifer yang duduk tidak jauh dengan tatapan tajam.


Dibiarkan sebentar keadaan hening dan diam itu. Dilihat jam tangan, Lucifer berdiri berjalan kearah Bossa.


Anak buah Lucifer saling menatap rekannya.


“Sebentar lagi akan dimulai.” Bisiknya pada rekannya yang juga tahu apa yang akan terjadi.


“Cepat bawakan alat-alatnya kesini! Aku ingin ‘mengoperasi’ si kepa*at ini.” Teriaknya pada anak buahnya.


Dengan cepat segera diambil kotak yang berisi beraneka alat ‘mainan’ Lucifer.


Bragh…


Kotak itu sudah di letakkan di sisi Lucifer. Kotak itu langsung dibuka, Bossa terkejut melihat benda apa saja yang ada di dalam.


“Kenapa Bossa? Apa kau sudah lama menantinya?” tanya Lucifer yang melihat Bossa melirik kotak mainannya.


“Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya dengan suara gemetar.


“Jangan membuat suara seperti itu bang*at, wajah dan suaramu itu tidak mempan bagiku.” Lucifer mengeluarkan obeng yang sudah berkarat, mengusap-usapnya di depan Bossa, sesekali meniup higga debunya beterbangan.

__ADS_1


__ADS_2