
Eva dan Ina menghela napas, dia tidak menyangka kalau itu yang di rasakan isteri Abraham.
“Setiap apa yang aku siapkan, makanan atau pakaian anda, anda tidak mau makan atau menggunakan nya. Anda selalu pulang tengah malam, padahal aku selalu menunggu anda, dan ingin bertanya, tapi anda lagi-lagi selalu menghindar.”
“Ternyata… ternyata aku harus lebih tahu diri lagi, aku tidak boleh terlalu rakus dan egois, tidak boleh! Aku harus sadar diri-
Tap…
Abraham menggenggam tangan Bellova, wanita itu terkejut.
“Jangan bicara seperti itu lagi, cukup.” Suara Abraham yang pelan.
“Apa aku berisik? Maafkan aku berbicara seperti ini, hah… harus nya aku bahagia, walau di abaikan aku harus tetap bahagia, karena ini-
Abraham menarik Bellova, untuk masuk dalam pelukan nya. Tanpa ragu dia memeluk isteri nya yang selalu menyalahkan diri nya sendiri. Dengan lembut dia mengusap kepala Bellova.
__ADS_1
“Maafkan aku, tanpa sadar aku menyakiti perasaan mu, aku memang tidak peka. Aku pikir, dengan cara ini, kamu biasa-biasa saja, ternyata kamu selama ini tidak nyaman ya, maafkan aku.” Dengan suara pelan dan lembut, mengusap kepala Bellova berulangkali.
Bellova hanya diam, tapi air mata nya semakin deras mengalir. Kedua tangan nya juga ikut memeluk Abraham.
“Lalu, apa alasan anda bersikap seperti itu?” tanya Bellova, berusaha mengendalikan suara nya.
Abraham melepas pelukan nya, ingin melihat wajah Bellova.
“Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaan mu jika kau mencintaiku. Aku takut kalau aku tidak bisa membalas nya, dan membuat mu semakin sakit hati dan bersedih. Aku pikir dengan cara ku menjaga jarak, hubungan kita hanya sebatas teman.” Ucap Abraham.
Dia berusaha menenangkan Bellova.
Eva mengajak suami dan anak nya untuk turun, tidak usah menguping lagi di depan pintu, karena menurut nya keadaan sudah membaik.
Bellova sudah berhenti menangis.
__ADS_1
“Bagaimana? Apa kau memaafkan ku?” Abraham menatap Bellova.
Isteri nya menganggukkan kepala nya.
“Bagus lah.” Kembali Abraham memeluk nya.
“Kalau begitu, aku tidak boleh jatuh cinta pada nya. Cukup seperti ini saja, aku tidak mau jauh lagi dari nya. Aku sudah bahagia hanya dengan dia ada di sisi ku, benar! Aku tidak boleh egois.” Ucap Bellova dalam hati, yang masih dalam pelukan Abraham.
***********
Sementara itu, Eva dan yang lain nya duduk di ruang tamu, dengan sama-sama diam, suasana yang hening. Hanya terdengar suara Rakha yang bermain dengan mainan yang sudah di bawa sebelum nya. Eva sesekali melirik Abraham, karena teringat dengan diri nya dan suami nya, hanya saja dia tidak tahu, siapa yang lebih dulu mulai jatuh cinta. Lalu dia tersenyum lagi, Adam heran dengan isteri nya yang tersenyum sendiri.
“Ada apa?” bisik nya di telinga Eva.
Eva hanya menggelengkan kepala, tapi masih tersenyum. Adam tidak memaksa bertanya lagi, dia diam sambil menyaksikan isteri nya yang masih tersenyum.
__ADS_1
“Ternyata Abraham dan Bellova hampir memiliki kesamaan dengan ku dan Adam ya.” ucap Eva dalam hati.