KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 50


__ADS_3

Di dalam kediaman Ina, gadis itu masih terbaring di ranjang nya. Hari itu yang seharus nya pergi berangkat bekerja, masih terbaring lemah di kamar.


Tok…Tok…Tok…


“Kak Ina… sudah bangun belum?” Arshinta mengetuk pintu kamar Ina.


“Kenapa tidak ada suara nya ya… Kak? Aku masuk ya..?” masih belum ada jawaban, akhir nya Arshinta masuk sendiri.


Ceklek…


Arah mata Arshinta langsung tertuju di tempat tidur, terlihat ada sesuatu di dalam selimut. Merasa penasaran, di dekati nya perlahan.


“Kak? Kak Ina… kakak kenapa belum bangun? Kakak enggak berangkat bekerja?” tanya Arshinta yang sudah dekat dengan Ina.


Ina yang masih dalam balutan selimut sampai kepala, hanya terlihat rambut hitam nya saja.


“Kak Ina…apa kakak tidak….


“Ya ampun, kakak demam ya? Badan nya panas banget.” Arshinta menyentuh kening Ina, wajah nya juga sudah memerah, dan pucat.


“Ck… kenapa enggak bilang sih kalau kakak lagi sakit…..


“Shinta…..kamu…kamu ngapain….


“Akhir nya bersuara juga kak Ina, aku dari tadi manggilin kakak loh dari luar, karena tidak ada jawaban aku masuk. Dan ternyata…. Badan


kakak panas, kakak sakit nih.” Ucap Arshinta duduk di dekat Ina yang baru membuka mata nya dengan kecil.


“Aku panggilin Aditya ya…” ucap Arshinta, dia hendak berdiri.


Tap…


Ina menahan tangan Arshinta, “Jangan Shin, sebentar lagi juga kakak sembuh, hanya….


“Sebentar lagi apaan? Badan udah panas gini, telur kalau di letakin di jidat tuh udah bisa mateng loh.” Celetuk Arshinta.


“Tapi..


“Udah diam. Kakak istirahat di sini, biar aku panggil Aditya, dan cepat memeriksa kak Ina. Dan sekarang juga tidak usah masuk kerja


dulu….


“Tapi kakak lagi ada meeting…


“Cancel aja. Lebih penting kesehatan dari pada pekerjaan. Suruh saja Zafran dan Sakya yang mewakili sementara.” Arshinta memaksa Ina


untuk tetap berbaring sambil menunggu kedatangan Aditya.


Mau tidak mau, Ina akhir nya menyerah. Lagi pula memang benar tubuh nya sekarang tidak berdaya karena sakit. Bahkan untuk bangun dari tidur nya saja tidak bisa.


“Uhhuukkk…Uuuhhuukk…Uuuuhhuukk….” Beberapa kali Ina batuk.

__ADS_1


Arshinta setelah menghubungi Aditya, pergi ke dapur untuk membuat sarapan bubur untuk kakak nya.


Dia sendiri yang membuat tanpa bantuan dari pelayan, meski mereka menawarkan bantuan untuk membuat nya. Arshinta sama seperti papa nya, mahir memasak bubur dan enak.


Setelah selesai membuat nya, Arshinta membawa ke kamar Ina.


Terus berjalan dengan perlahan, agar bubur nasi dan potongan daging ayam yang


masih panas tidak tumpah.


Ceklek…


Pintu yang tidak di kunci di buka Arshinta, dia masih melihat Ina berbaring lemah.


“Kak Ina, makan dulu ini bubur nya. Sebentar lagi Aditya datang, habis sarapan, minum obat.” Suruh Arshinta.


“Letakin aja di situ dek, nanti kalau lapar aku makan..” jawab Ina dengan suara serak, masih menutupi diri dengan selimut.


“Tidak bisa seperti itu, kakak harus bangun dan segera sarapan dulu.” Ucap Arshinta setelah meletakkan bubur di atas meja, segera


membuka selimut yang di pakai Ina.


“Ayo… bangun..” Arshinta membangun kan Ina, menarik tangan nya dengan pelan.


Mau tidak mau, Ina bangun, bersandar di bagian kepala ranjang nya.


“Uuuhhuukk…Uuhhuukk… aku lagi sakit loh, kamu jangan dekat-dekat, nanti kalau aku menularimu bagaimana? Kamu akan ikut sakit juga.” Ina tidak ingin menularkan penyakit nya, pasti akan merasa bersalah.


Bubur itu di aduk Arshinta dan meniup nya agar tidak panas.


“Nih, di makan… sudah tidak terlalu panas kok.” Dengan sendok Arshinta menyuapi Ina.


“Biar kakak saja….


“Jangan protes deh. Kakak hanya tinggal buka mulut dan menerima makanan ini.” Arshinta tidak mau mengalah.


Ina pun tidak bisa marah, justru dia merasa lucu.


Hingga akhir nya sendok pertama masuk kedalam mulut nya.


“Aku dulu masih ingat, saat sakit papa juga menyuapi ku bubur, sama seperti cara mu ini, keras kepala, hahahaha…. Di antara kita


bertiga, aku yang sering sakit.” Ucap Ina mengingat masa kecil mereka.


“Karena kakak yang paling lemah kan.” Celetuk Arshinta memasukkan suapan berikut nya.


Ina mengangguk kan kepala.


“Lalu kalau malam, mama yang selalu setia menemaniku sampai tertidur. Pokok nya…. Aku sangat senang sekali mendapatkan keluarga seperti kalian.” Ucap Ina dengan mata yang berkaca-kaca.


“Udah…. Jangan cengeng, habisin bubur nya..” celetuk Arshinta. Dia paling bosan kalau kakak nya itu selalu merasa sedih. Arshinta tahu, kalau sampai saat ini Ina masih sering merasa mender dan tidak enak kan.

__ADS_1


“Benar… jangan cengeng.” ucap Aditya tiba-tiba muncul dari belakang.


Ina dan Arshinta melihat putra dari Lisna itu datang dengan membawa tas kerja nya.


Aditya datang hanya menggunakan pakaian casual tanpa di damping seseorang itu berjalan mendekati mereka.


“Apa yang kau rasakan Ina? Bagian mana yang sakit?” tanya nya pada Ina, membuka tas dan mengeluarkan stetoskop nya.


“Kepala dan perut ku. Pusing dan mual.” Jawab Ina, menyentuh kepala dan perut nya.


“Jangan-jangan hamil lagi…” celetuk Aditya.


“Heh?” tanya serentak Ina dan Arshinta.


“Canda, hehehehe…” tawa Aditya.


Candaan yang tidak membuat Ina dan Arshinta ikut tertawa.


“Sini biar aku periksa dulu.” Aditya yang sudah memasang alat di telinga dan mulai melakukan pemeriksaan.


******


Abraham yang sudah berpakaian rapi untuk berangkat bekerja, setelah selesai sarapan dengan masakan yang di siapkan Bellova.


“Baiklah, aku pergi dulu. Nanti sore masak yang enak lagi.” Ucap Abraham berpamitan pada gadis itu.


“Siap pak, saya akan memasak yang enak lagi.” Dengan semangat Bellova menjawab sambil memberi hormat.


“Hhhmm.. bagus…bagus…” Abraham senang mendapat jawaban seperti itu.


“Pak Abraham, bagaimana kalau saya juga mengantarkan makan siang untuk anda? Jadi anda tidak usah makan di luar.” Tanya nya.


“Tidak usah. Nanti yang lain pada ngikut dan minta, apalagi si Adley..”


“Saya bisa membuat nya banyak, dan…


“Tetap tidak bisa! Dengarkan aku… mengerti…?” tolak Abraham, walau apapun alasan Bellova.


“Bbbaaiikkkllllaahhh…”


Setelah itu, Abraham mengambil kunci mobil dan berangkat sendiri. Tinggalah Bellova di rumah yang besar itu seorang diri.


Sebentar gadis itu beristirahat sambil sarapan, karena dia tidak sempat sarapan, untuk mengutamakan majikan nya dulu.


*****


Setiap hari banyak masyarakat yang melaporkan kejahatan, tidak pernah sepi. Adley dan lain nya terlihat sangat sibuk. Banyak juga yang datang hanya untuk bertemu dengan Abraham untuk menyampaikan rasa terima kasih mereka karena Abraham yang berhasil menyelesaikan permasalahan mereka.


Bbrruuummm…..


Suara mobil Abraham yang berhenti di depan kantor. Sementara itu di belakang tidak terlalu jauh, Monica sedang mengamati Abraham.

__ADS_1


“Akhir nya kau datang juga, aku kangen banget sama kamu.” Ucap nya pelan.


__ADS_2