KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 151


__ADS_3

Saat itu Arshinta dan Rakha duduk di sofa yang membelakangi Satmaka. Kalau di lihat dari belakang, hanya kepala Arshinta saja yang terlihat, sedangkan Rakha yang karena masih kecil, tidak kelihatan sama sekali.


“Oh… maafkan papa tidak melihat Rakha, hahahahha..” tawa Satmaka merasa bersalah.


“Sejak kapan ada di sini? Kenapa tidak ada suara?” tanya nya duduk di depan mereka.


“Sudah dari tadi sih, malahan aku pikir tadi berisik, dan aku melihat kalau kau masih sangat sibuk, jadi kami diam saja dulu.” Jawab nya.


“Iya sih, memang saat ini aku sedang sangat sibuk, maaf ya.” Satmaka menggaruk kepala nya.


“Tidak apa-apa. Kau sudah sangat bekerja keras. Sekarang ayo kita makan siang dulu,” Arshinta membuka kotak makanan nya.


“Ini kamu masak sendiri lagi?” Satmaka membantu membuka kotak makanan nya.


“Tidak, aku juga tidak sempat kan, jadi ini aku beli di salah satu rumah makan saja.” Jawab nya sedikit tertawa.


“Tidak apa-apa. Jangan di paksakan kalau kau sedang sibuk.” Jawab Satmaka yang tidak mempermasalahkan.


Mereka bertiga makan siang bersama, Rakha berada di antara dua orang dewasa. Sembari di suapin makan.


“Bagaimana kalau sehabis makan nya, kita beli cincin pernikahan?” tanya Satmaka sambil mengunyah.


“Boleh, tapi apa kau tidak sedang sibuk? Aku tidak mau mengganggu pekerjaan mu loh.”

__ADS_1


“Tidak kok. Aku sengaja berusaha keras menyelesaikan pekerjaan ku, supaya bisa mempersiapkan rancangan pernikahan sampai terlaksana.” Jawab Satmaka tersenyum.


“Menurut aturan, Abraham dan Bellova resepsi, lalu Ina dan terakhir kita, yang tiga bulan lagi.” ucap Satmaka yang masih ingat dengan pembicaraan mereka ketika berkumpul bersama keluarga Arshinta.


Arshinta tersenyum menganggukkan kepala.


“Sebenar nya aku juga ingin mengatakan itu, tapi aku tidak mau merepotkan mu.”


“Jangan begitu dong. Sebentar lagi kita kan akan menjadi suami isteri, jangan ada jarak dan sungkan lagi. Tapi kita saling menghormati.” Balas Satmaka.


“Wah, jadi suami isteri ya. Satmaka jadi suamiku.” Arshinta merasa malu dan gugup, tapi berusaha untuk tersenyum. Dia tidak menyangka akan segera menikah.


“Papa dan Kak Shinta mau menikah?” tanya Rakha yang ikut mendengar.


“Benar sayang.” Jawab papa nya mengusap kepala Rakha.


Satmaka tersenyum, “Tentu dong sayang. Mulai sekarang kamu panggil mama juga tidak apa-apa, anggap saja sambil latihan.” Ucap Satmaka melirik Arshinta.


Rakha melihat Arshinta, “Mama.” Ucapan pertama kali pada Arshinta.


Arshinta menahan tawa karena senang, “Oh anak ku, hehehhehe..” Arshinta memeluk Rakha dengan tertawa kecil karena masih sedikit malu dengan wajah yang memerah.


Satmaka pun ikut menahan tawa.

__ADS_1


***********


Eva baru saja mengantarkan kopi untuk suami nya yang duduk di ruang tamu.


Tak…


Kopi sudah di letakkan di atas meja.


“Apa Audrey akan baik-baik saja? Aku takut kalau mereka akan kembali mengulangi perbuatan nya lagi.” ucap Eva membuka obrolan di samping Adam.


“Tidak usah khawatir, karena sudah ada banyak anak buah yang menjaga di sana.” Jawab Adam mengambil potongan buah dan memakan nya.


“Apa tidak sebaiknya kita bawa Audrey kesini? Lagipula-


Adam melihat nya dengan serius membuat Eva berhenti berbicara.


“Aku tidak mau.”


“Kenapa? apa kau masih membenci nya? Aku belum pernah melihat keadaan nya sekarang, tapi mau sampai kapan dia berada di rumah sakit, tidak ada yang menjaga nya.”


Adam masih terus mengunyah.


“Paling tidak, carikan tempat tinggal yang aman untuk nya, kalau suamiku ini tidak mau dia berada bersama kita.” Eva menggenggam tangan Adam yang sudah terlihat kesal mendengar nama Audrey.

__ADS_1


“Aku akan memikirkan nya dulu.” Jawab nya singkat.


Eva tidak ingin membahas itu lagi. Dia tidak mau suami nya teringat masa lalu yang kelam lagi.


__ADS_2