
Bellova sudah selesai memasak, dan makanan pun sudah di hidangkan di atas meja. Tidak lama Abraham datang dengan memakai piyama berwarna hitam nya. Bellova melirik sekilas, sempat kagum dan terpesona, lalu mengalihkan pandangan nya lagi.
“Waw… makanan nya sudah siap ya. Kelihatan nya enak banget.” Abraham membuka kursi untuk di duduki.
Bellova yang masih sibuk di dapur mengambil lain nya, Abraham menunggu.
“Lov, kamu di mana? Apa masih ada kerjaan lagi di dapur ya?” Tanya Abraham melirik kedapur.
“Ah…iya.” Isteri nya datang dengan membawa gorengan yang sudah di masak nya.
Tap…
Dia meletakkan nya di atas meja. Bau enak nya semakin menggoda Abraham.
“Sudah? Ini saja? Tidak ada yang lain lagi?” Tanya Abraham.
“I..iya, Bram.” Jawab Bellova murung.
__ADS_1
Sebenar nya Abraham bertanya seperti itu bukan maksud apa yang di siapkan Bellova masih kurang, tapi karena Abraham hanya tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Dia menunggu Bellova dan bisa makan bersama. Hanya
saja Bellova salah mengartikan, dia pikir kalau Abraham kecewa dan berharap banyak menu makanan lagi yang harus di hidangkan.
“Besok kamu tidak usah masak makan malam ya.” Ucap Abraham memasukkan makanan kedalam mulut nya.
“Uhuk..uhuk.. ke..kenapa? apa… apa masakan nya ada yang kurang?” Tanya nya panik.
Abraham memberikan gelas minuman pada Bellova untuk di minum.
“Pelan-pelan dong makan nya. Besok kita akan ke rumah mertua mu. Di sana juga-
“Anda?” Abraham menatap nya dengan tajam karena masih memanggil nya dengan sebutan itu.
“Ma…maafkan…ak-
“Kamu itu keras kepala juga ya. Harus bagaimana lagi sih biar kamu itu nurut? Sejak kita menikah kenapa sikap dan perilaku kamu berubah?” Abraham mengambil gelas yang sudah berisi air minum, dan meminum nya.
__ADS_1
“Apa ini sifat asli mu? Atau apa kamu karena tidak mau menikah dengan ku karena kau tidak menyukai ku? Lalu-
“Bukan!.. bu…bukan begitu. Sa…Aku hanya belum terbiasa. Aku.. aku akan berusaha untuk terbiasa. Aku… aku menyukai an.. Abraham kok.” Jawab Bellova gugup, terlihat tangan nya gemetaran di atas meja, dan Abraham bisa melihat nya.
Abraham menghela napas, meletakan gelas nya lagi.
“Baiklah. Lebih cepat kalau kamu terbiasa. Aku suka dengan sikap dan tingkah mu sebelum nya, jadi jangan berubah. Kalau kamu berubah, aku juga pasti risih dan tidak nyaman. Salah satu kenapa aku mau menikah dengan mu, karena aku merasa nyaman bersama mu.” Ucap Abraham dengan santai dan tenang, sementara itu wajah Bellova memerah dengan pujian Abraham.
“Aku ingin memberitahukan pada keluarga ku tentang pernikahan kita, lagi pula kau sudah pernah bertemu dengan mereka kan? Jadi kau pasti tidak akan terkejut.” Ucap Abraham.
“Bagaiamana kalau mereka tidak suka Abraham menikah dengan ku?” Tanya Bellova menatap nya.
Abraham tersenyum, membuat wajah Bellova memerah.
“Aku senang kau bisa memanggilku dengan benar tanpa gugup.” Ucap Abraham memberi alasan tersenyum nya.
“Ehem… keluarga ku tidak seperti itu. Mertua mu itu lebih memilih kebahagiaan anak-anak nya dari pada memaksakan kehendak mereka pada kami bertiga. Paling mereka akan terkejut dan menanyakan alasan kenapa aku menikah dengan dadakan seperti ini. Setelah di jelaskan pasti mereka mengerti. Jadi kau tenang saja. Oke?” Abraham tersenyum lagi pada Bellova.
__ADS_1
“Oke.” Tanpa sadar Bellova menjawab dengan cepat.
Dan Abraham pun tersenyum kembali dengan jawaban isteri nya yang terkesan imut di mata nya.