KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 61


__ADS_3

Abraham melihat Bellova, seperti ada pikiran ingin mengerjai gadis polos itu.


“Siapa bilang? Kau pikir ponsel itu gratis? Tentu saja harus di bayar.” Jawab Abraham.


Gadis itu masih diam, menunggu penjelasan Abraham lagi yang seperti menggantung cerita nya.


“Dan bayar nya juga harus pakai uang kan?” Abraham melihat Bellova, yang berdiri di depan nya.


“Iya Pak Abraham, maksud saya, apakah gaji saya di potong untuk membayar ponsel ini?” tanya Bellova, menunggu inti dari pertanyaan yang sebelum nya.


Abraham melihat Bellova, berusaha untuk menahan bibir nya agar tidak tersenyum atau tertawa.


“Tentu saja, gaji mu harus di potong untuk membayar ponsel itu, harga nya 4 juta. Jadi harus potong gaji, mengerti kan Bellova?” jawaban yang membuat Bellova terdiam, wajah nya sedikit murung.


“Ya….ya udah pak Abraham, tidak apa-apa kalau gaji saya di potong.”ucap Bellova, berusaha tegar.


“Lagian siapa suruh sih membeli ponsel untuk ku?” ucap gadis itu dengan suara pelan.


Abraham bisa mendengar nya dengan jelas, karena tidak kuat menahan bibir nya, dia menunduk kan wajah.


“Eeehhemm…. aku dengar loh ucapan mu yang barusan..” ucap Abraham.


“Maafkan saya pak….” Balas Bellova, ponsel yang ada di tangan nya, di ketuk-ketuk dengan jari nya.


“Pppffftt…” akhir nya Abraham tidak bisa menahan tawa nya.


Bellova merasa ada yang aneh, tatapan nya heran melihat Abraham.


“Ada apa Pak Abraham? Anda kenapa?” tanya nya.


“Ehhem… kamu tuh gampang banget ya di bohongi.”


Kernyitan di dahi Bellova.


“Aku hanya bercanda, gaji mu tidak usah di potong untuk membayar ponsel itu. Anggap saja itu adalah hadiah bonus dari pekerjaan mu.” Ucap Abraham, memberi penjelasan pada gadis itu. Dia tidak tega untuk lebih lama membohongi nya.


“Benar kah pak Abraham? Jadi gaji saya utuh kan pak?” tanya nya dengan semangat. Wajah nya kembali tersenyum seperti biasa nya.


Abraham mengangguk kan kepala nya.


“Bikin kan es kopi dong, ingat… yang manis ya.” Pinta nya pada Bellova, gadis itu segera membuat nya, berlari ke dapur dengan semangat, tentu saja ponsel masih di genggam nya.


**********


Dddrrtt…..Dddrrtt….Ddrrtt…

__ADS_1


Ponsel Adley bergetar.


“Hallo, Ca? ada apa?” Adley menerima panggilan telepon dari pacar nya.


“Sayang, bisa tolong aku tidak?” tanya kekasih nya itu, suara nya manja untuk bisa membujuk Adley.


“Tolong apa? Apa kau membutuh kan sesuatu?” tanya Adley, yang bersiap-siap untuk pulang.


“Tolong, belikan aku salad dong sayang, aku biasa nya membeli nya di Pi*****t,  salad sayuran ya, tapi jangan pakai bayam, dan habis itu, beli kan aku nasi goreng, jangan terlalu pedas dan tidak pakai bawang, lalu lemon tea, yang dingin. Itu saja kok sayang, bisa kan?” tanya nya mengajukan permintaan pada Adley.


Adley menggaruk-garuk kepala nya, permintaan kekasih nya itu membuat nya kelelahan, padahal belum sempat membeli tapi di rasa sudah pusing mendengar nya.


“Sayang? Apa kamu mendengar kan ku?” panggil kekasih nya Ica.


“Iya Ca, aku dengar kok, ya udah aku akan segera membeli nya. Aku akan antar kan ke rumah mu ya..” walaupun sangat lelah, Adley menuruti permintaan kekasih nya.


“Ok sayang, terima kasih ya, aku akan menunggu mu, mmuuaacchh…” setelah itu, Ica langsung menutup ponsel nya, tanpa menunggu kalimat penutup.


“Pacar mu?” tanya Ridwan, melihat ekspresi Adley menghela napas.


Adley mengangguk kan kepala nya.


“Harus nya senang dong dapat telepon dari pujaan hati, tapi kenapa  wajah nya di tekuk kayak lipatan kertas.” Ledek Ridwan.


******


“Kamu beli sepatu ini untuk orang itu lagi Mon?” tanya teman Monica, Desy menunjuk pada sepatu dalam box.


“Iya dong, dia tuh penyelamat hidup ku. Dan aku sudah jatuh cinta pada nya pada pandangan pertama.” Jawab Monica, dengan bangga nya dengan perasaan nya itu.


“Jangan yakin dulu, cowok keren lewat juga entar kamu naksir, lupa deh sama penyelamat hidup mu itu.” ledek Tari.


“Enggak kok, aku tuh setia loh…


“Iya, sayang nya cowok nya yang tidak setia ya, heheheheh…” Desy dan Tari meledek Monica.


Mereka bertiga mengobrol sambil bergosip di café dengan menikmati makanan dan minuman yang sudah terhidang di atas meja.


“Udah yuk pulang, udah sore nih.” Ajak Monica melihat jam tangan nya.


“Tumben jam segini udah pulang, biasa nya juga pulang larut malam. Ada apa kah gerangan..?” ledek Tari lagi, seperti senang meledek Monica.


“Capek. Pengen cepat bobok.” Dengan santai menjawab pertanyaan teman nya.


Mereka bertiga berjalan keluar menunggu supir Monica datang dengan mobil nya.

__ADS_1


Beberapa pria datang, mendekati Monica dan teman nya.


“Hai nona-nona cantik, lagi apa nih?” salah satu dari mereka menggoda Monica.


Monica diam mengabaikan.


“Sombong amat sih, gak baik loh mengabaikan pertanyaan dari pria, nanti bahaya buat kamu..” ucap nya, sedikit berbisik.


“Pergi sana! Sok keren dan sok penting.” Dengan kasar, Monica mendorong tubuh pria yang menyapa nya.


Pria itu mundur beberapa langkah, memegang dada nya.


“Wah… nona, kau jangan sombong, kami kan datang nya baik-baik..” teman nya yang lain mendekati Monica lagi.


“Mon, udah biarin saja, nanti juga mereka akan pergi.” Bisik Desy, dia menarik sedikit tubuh Monica agar tidak terbawa emosi.


“Kenapa? Sudah mulai takut? Hah..?” pria itu menyentuh pipi Monica.


Monica dengan kasar menghempas kan tangan pria itu.


“Hhhmmm…. Aku suka dengan wanita yang jual mahal seperti mu, karena kau sudah memancing ku, sebaik nya kau ikut dengan ku.” Pria itu menarik tangan Monica.


“Kalian juga harus ikut dong, biar ada yang menemani kami..” dua rekan nya juga menarik tangan Desy dan Tari.


“Lepaskan tangan mu bre****k!” Monic berusaha melepas tangan itu.


“Enak saja, kau kan sudah mulai duluan. Harus nya kau bangga karena aku datang mengajak mu bersenang-senang. Ayo…” pria itu tidak perduli dengan penolakan gadis muda itu.


Mereka terus menarik tangan nya.


Plak…


Tangan kanan Monica menampar pria yang menarik tangan nya. Pria itu merasa kesakitan memegang pipi nya.


“Kurang ajar… kau berani menampar wajah ku…” pria itu marah.


Monic tidak takut, tatapan mata nya juga masih terpancar kemarahan.


Plak….


Pria itu membalas tamparan dari Monica, tamparan yang sangat keras, Monica merasa kesakitan, dia langsung memegang pipi nya. Walau kesakitan, tapi dia tetap menatap pria itu dengan tajam tanpa rasa takut dan gentar.


Desy dan Tari jadi khawatir, mereka tidak ingin pria itu menyakiti Monica. Tapi mereka juga tidak tahu harus berbuat apa, karena teman


dari pria itu juga menahan mereka.

__ADS_1


__ADS_2