
Venam yang mengemudikan mobil dengan cepat membuka pintu, agar Abraham yang baru saja keluar dari gedung sembari menggendong Bellova segera masuk.
“Venam, cepat bawa kami kerumah sakit!” teriak Abraham yang sudah duduk di bangku belakang.
Tanpa menjawab, Venam mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh, Aditya juga sudah dengan sigap duduk di samping Venam.
Karena darah yang keluar banyak di tempat penembakan, di bagian dada, dia berusaha menahan agar tidak keluar terus, dengan tangan nya menutup luka Bellova.
Bellova yang tidak sadar lagi, matanya tertutup membuat Abraham semakin panik.
Pakaian Abraham juga sudah terkena darah Bellova.
“Tolong bertahanlah.” Bisik Abraham berharap.
************
Di tempat lain, Lucifer sudah menangkap orang yang menembak menantunya, dan sekarang sudah di tahan bersamaan dengan anak buah Shadow.
Pria kurus yang sudah di ikat dan mendapatkan luka siksaan dari anak buah Lucifer.
Tap…tap…tap..
Lucifer baru saja memasuki ruangan penyiksaan setelah selesai berbicara dengan isterinya melalui
telepon.
“Tuan-
Lucifer mengangkat tangannya agar anak buahnya diam.
__ADS_1
Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan si pengacau acara. Tersangka yang duduk di tanah dengan
tangannya saja yang diikat, menatap Lucifer yang berjalan kearahnya dengan tatapan tajam dan menyulitkannya bernapas.
Tap…tap…tap…
Langkahnya semakin dekat dengan pria yang di ujung kematian.
“Jadi… siapa yang menyuruhmu melakukan itu?” tanyanya dengan tatapan tajam, mengunci gerak-gerik tersangka yang sudah ketakutan.
“Deadly… Deadly Poison yang menyuruhku melakukannya.” Jawabnya dengan cepat tanpa tahu siapa orang
yang ada di hadapannya.
Anak buah Lucifer saling menatap heran dan terkejut setelah mendengar jawaban pria itu.
“Berani sekali dia berbohong…
Komentar dari anak buahnya dengan berbisik pada rekan-rekannya.
Bisikan-bisikan mereka dengan jelas di dengar pria berbohong itu. Dia kembali melihat Lucifer yang masih berdiri di hadapannya sambil menatapnya dengan tajam.
“Berani sekali kau berbohong, dan membohongiku. Apa…kau sudah bosan… hidup?” tanyanya dengan
berjongkok di depan pria itu, wajah nya sangat dekat dengan pria yang sudah gemetaran ketakutan.
“Saya…saya tidak berbohong. Deadly Poison lah yang menyuruhku, dia berjanji akan memberikan
hadiah banyak uang kalau aku berhasil membunuh wanita itu.” ucapnya dengan suara terbata-bata.
__ADS_1
“Namanya? Siapa nama yang menyuruhmu?” masih berusaha mencari informasi, karena dia juga sadar memiliki banyak anak buah.
“Lu…Lu-
Brugh…
Sebuah tinju di berikan pada wajah orang yang masih bertahan berbohong itu, hingga dia terpental kebelakang.
“Hah…. Sial! Harusnya aku bersabar, tapi…
Lucifer berdiri, membenarkan rambutnya dan menatap tajam pada pria kurus itu.
“Jadi, maksudmu… Lucifer yang menyuruhmu untuk mengacau disini?” tanyanya lagi dengan tegas.
“I..iya, dia sudah memberikan uang muka padaku. Dan-
“Ah… benar-benar menyebalkan, rasanya aku ingin menggilingmu sampai halus terus aku buang ke kandang buaya.” Lucifer mengusap wajahnya.
“Hendra!”
“Iya tuan.” Jawab Hendra yang langsung datang setelah namanya di panggil.
“Congkel salah satu matanya karena berbohong padaku.” Perintahnya pada Hendra.
“Baik tuan, saya akan melakukannya dengan cepat.” Dengan semangat Hendra mengeluarkan pisau dengan
mata ujung yang runcing.
“Jangan terburu-buru, lakukan dengan pelan-pelan, biar dia bisa merasakan rasa sakitnya.” Ucapnya lagi, berbalik duduk di kursi sambil menyaksikan tugas yang akan di kerjakan Hendra.
__ADS_1
“Jangan… tolong jangan bos, saya hanya di suruh, saya mohon.” Pria itu memohon saking ketakutannya dia
mengeluarkan air bau pesing dari bagian bawahnya.