
Bellova mengepalkan tangan dan menundukkan wajah karena malu, meski sesekali mengangkat wajah dan tersenyum sedikit.
“Kak, kamu datang dengan Bellova?” Arshinta mulai bertanya.
Pertanyaan nya sama seperti apa yang ada dalam pikiran keluarga nya yang lain.
“Iya.” Jawab nya singkat sembari meminum kopi yang sudah di buatkan pelayan.
“Apa… kenapa kakak datang bersama nya? Apa kalian… ada… hubungan?” Arshinta bertanya lagi dengan hati-hati agar tidak salah paham atau marah.
Abraham menggaruk kening dan melirik Bellova yang memainkan jari-jari nya yang juga gugup.
“Sebenar nya kami sudah menikah, sudah beber-
“Apa?” Arshinta yang terkejut hingga berdiri.
Ina yang juga terkejut, menarik tangan Ina perlahan agar kembali duduk lagi. Serius, semua nya sedang berwajah serius, kecuali Adam dan Abraham.
“Abram, sebenar nya apa yang terjadi? Kenapa kau menikah dan tidak memberitahukan kami?” Eva pun mulai bertanya.
Abraham menghela napas. Dia mulai menceritakan semua nya dari awal, alasan apa sehingga dia menikah dengan Bellova.
__ADS_1
Eva dan Adam pun saling bertatapan.
“Itu tidak masuk akal kak. Kakak tidak bisa bermain-main dengan pernikahan, apalagi hanya karena alasan untuk melindungi nya saja. Bagaimana kalau suatu saat kakak-
“Shinta, aku tidak menganggap pernikahan itu permainan kok. Walaupun kami sama-sama tidak ada perasaan tapi bukan berarti aku menikahi nya hanya untuk iseng saja.” Abraham menyela ucapan Arshinta.
“Lalu bagaimana kalau kakak jatuh cinta dengan-
“Tidak akan!” Abraham menjawab dengan cepat dan yakin.
“Apa kakak yakin?”
“Selama ini aku kan tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun kan? Jadi itu tidak mungkin-
“Ck, aku pastikan itu tidak akan terjadi.” Abraham menjawab dengan tegas dan serius.
“Ma…maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk-
Semua tatapan mengarah pada Bellova, seakan menunggu penjelasan dari wanita yang sedari tadi diam itu. Bellova pun terdiam.
“Tidak apa-apa kok Bellova. Kamu jangan gugup seperti itu.” Eva menenangkan Bellova yang gugup dengan ramah.
__ADS_1
“Dulu papa dan mama juga seperti itu kok. Memang nya apa kalian pikir kalau kami menikah karena sama-sama saling mencintai pada awal nya?” Tanya Eva melirik Adam, yang masih duduk diam sebagai penyimak saja.
“Maksud nya mama?” Tanya Ina yang juga penasaran.
“Papa dong yang menjelaskan nya. Dari tadi diam mulu.” Ucap Eva melirik Adam.
Sekarang tatapan mengarah pada Adam. Merasa risih, Adam melihat anak-anak dan pasangan yang di bawa anak-anak nya juga, bahkan Rakha yang sibuk makan biskuit dan susu juga ikut menyimak.
Adam menghela napas, meletakkan gelas kopi yang sedari tadi di genggam.
“Seperti yang mama mu katakan, kami menikah tidak memiliki perasaan apapun, kecuali mama kamu yang takut pada papa.”
“Lalu kenapa papa menikah dengan mama?”
Arshinta bertanya dan menunggu jawaban.
“Sama seperti yang di lakukan Abraham, awal nya hanya ingin menjaga dan melindungi mama kalian saja. Papa juga tidak merencanakan pernikahan itu, yang penting mama kamu aman, dan hanya papa yang bisa menjamin
keamanan dan keselamatan nya, maka nya papa yang melamar nya untuk menikah dengan papa. Mama kamu tentu saja sangat terkejut, tapi akhir nya dia mau menerima lamaran papa.” Jawab Adam.
“Kemanan dan keselamatan? Memang nya kenapa papa harus menjaga dan melindungi mama?” Tanya Arshinta lagi.
__ADS_1
Pertanyaan yang membuat Eva dan Adam sedikit terkejut.