
Lucifer meninggalkan rumah sakit milik Aditya, yang di berikan papa nya, Steven. Bersama dengan kedua anak buah nya, Aris dan Hendra.
“Apa kalian tahu kenapa Abraham pergi terburu-buru?” tanya Lucifer sembari berjalan menuju parkiran mobil.
“Ada pengacara dan beberapa anggota Shadow yang datang ke kantor polisi untuk meminta melepaskan anak buah mereka yang tertangkap.” Jawab Aris.
Lucifer hanya diam sembari menganggukkan kepala.
“Tuan, bagaimana dengan nona Audrey?”
Tap…
Langkah kaki Lucifer berhenti mendadak.
“Apa kami harus melenyapkan nya saja tuan? Bisa saja dia adalah mata-mata dari Shadow.” Ucap Hendra.
“Jangan. Justru kalian harus melindungi nya. Pasti sebentar lagi akan datang anak buah nya ke sini.” Jawab nya melanjutkan langkah.
Hendra segera membuka pintu mobil untuk tuan nya, dan berlari kedalam mobil sebagai juru kemudi nya.
Setelah Lucifer masuk, Aris pun masuk dan duduk di samping Hendra.
“Arahkan banyak anak buah kerumah sakit ini. Karena mereka akan datang dan mengacak-acak tempat ini, perketat keamanan.” Perintah Lucifer.
__ADS_1
“Sebentar lagi, pasti aka nada peperangan lagi yang akan kita hadapi, persiapkan diri kalian.”
“Baik tuan.” Jawab Aris dan Hendra bersamaan dengan yakin.
***********
Abraham yang baru tiba di tempat kerja nya, sekitar 30 menit sebelum makan siang. Di lihat sudah banyak orang di sana. Bukan untuk membuat laporan kasus, tapi untuk meminta melepaskan anak buah Shadow.
“Wah..wah..wah… sudah banyak tamu di sini ya.” ucapan nya menjadi pusat perhatian.
Seorang pria berkaca mata berdiri menghampiri Abraham.
“Apa anda Abraham?” tanya nya dengan menekan nada.
Abraham yang tidak suka dengan pertanyaan nya, hanya diam menatap dengan sinis.
“Anda datang-datang sudah bicara tidak sopan ya.” Abraham memotong ucapan pria yang mengaku sebagai pengacara, sambil duduk di meja kerja rekan nya.
Si pengacara itu bingung, mengernyitkan dahi nya.
“Apa maksud anda.”
“Anda mengatakan diri anda adalah pengacara, tapi anda sendiri tidak tahu tata krama kesopanan. Aku bingung, dari mana sih anda mendapatkan sertifikat anda itu? murni gak ya?” Abraham berbicara tanpa rasa takut atau gugup. Ucapan nya malah membuat lawan nya kesal.
__ADS_1
“Kau yang harus sopan! Karena sa-
Brak..
Semua orang yang ada di sana termasuk tahanan yang ada dalam sel melihat aksi Abraham yang memukul meja. Alasan nya adalah karena ketidak sopanan si pengacara itu, dan karena dia berteriak pada Abraham, hal yang
paling tidak di sukai.
Abraham bangkit berdiri.
“Terus kenapa kalau kau pengacara? Polisi juga kan bisa menangkap pengacara.”
“Tapi kami bisa membela klient kami.”
“Iya memang, itu kalau kalian sanggup.” Balas Abraham tidak mau mengalah.
“Aku adalah Komisaris Polisi di sini. Seharus nya anda memanggil ku dengan sopan! Bukan malah sok hebat hanya karena jabatan anda sampai lupa dengan kesopanan. Jika kau menghormati orang lain, maka kau pun akan di hormati.” Ucap Abraham.
Ridwan dengan anggota polisi di sana pun geram dengan aksi si pengacara itu.
Abraham berjalan, dan berhenti tepat di depan sel di mana Felix dan anak buah lain nya berada.
“Hey, sampah masyarakat, apa sekarang kalian pun ikut jadi sombong karena datang orang yang ingin membela kalian?” tanya nya pada mereka.
__ADS_1
“Jangan sombong dulu, karena aku tidak bisa segampang itu ingin melepaskan kalian!” ucap nya lagi dengan serius dan tegas.
Tatapan mata Abraham membuat mereka ketakutan. Bahkan ada yang mengalihkan pandangan mereka agar tidak bertatapan dengan nya.