
Sekolah Cinta Kasih, saat ini sedang banyak sekali pelamar kerja dalam bidang pendidikan, baik pria dan wanita, rata-rata masih berusia muda. Guru jamilah dan lain nya merasa ada yang aneh dengan kehadiran mereka.
Karena hari ini adalah panggilan interview untuk menyambut dan menerima guru-guru baru yang akan menggantikan mereka, guru yang tidak becus mengajar.
“Bu Shinta, semua nya sudah ada di ruangan sebelah, sesuai dengan arahan anda.” Ucap Ruly memberi laporan.
“Bagus, ada berapa semua nya Rul?” tanya nya yang duduk di kursi, menatap Ruly.
“Ada sekitar 50 orang, tapi hari ini ada 25 orang, saya bagi bu, sisa nya akan datang besok.”
Arshinta menganggukkan kepala, mengerti.
“Aku akan kesana sekarang, suruh mereka persiapkan diri saja.” Ucap Arshinta yang masih fokus pada pekerjaan nya.
“Baik bu, kalau begitu saya permisi dulu.” Ruly meninggalkan Arshinta seorang diri. Arshinta yang beberapa hari ini akan memiliki banyak
pekerjaan, baik untuk memilih guru dan memperbaiki bagian dari bangunan sekolah
nya. Dia ingin langsung tahu apa yang harus di perbaiki atau di ganti.
Saat sedang fokus, ponsel yang di letakan nya di atas meja bergetar beberapa kali.
Di letakkan nya dulu bolpoint yang ada di tangan untuk meraih ponsel nya.
“Hallo Satma? ada apa?” tanya nya menerima panggilan tersebut, setelah mengetahui siapa yang menghubungi nya.
“Shin, apa kau sedang sibuk hari ini?” tanya Satmaka dengan ragu.
“Sangat sibuk sekali nih, kenapa? Apa kau mau mengajak ku sesuatu?”
“Aku…aku ingin mengajak mu makan siang, kebetulan aku membawa Rakha ke kantor ku, karena dia merengek terus ingin bertemu dengan mu. Tapi kalau kau…
“Boleh….boleh… bawa saja, kita ketemuan nya di mana?” tanpa di duga ternyata Arshinta tidak menolak ajakan Satmaka. Karena dia juga menyukai anak kecil yang menggemaskan itu.
Satmaka merasa senang dan tersenyum.
“Aku akan mengirimkan alamat nya. Kita ketemu saat makan siang saja, atau kau mau aku menjemput mu? Ada yang ingin aku bicarakan juga sih.”ucap nya sambil memperhatikan Rakha yang bermain naik turun di sofa.
Sejenak Arshinta diam, sedang berpikir.
__ADS_1
“Baik lah, kalian datang saja. Aku akan menunggu.” Jawab Arshinta tanpa merasa keberatan.
“Oke, aku dan Rakha akan kesana nanti, sampai jumpa ya.” Ujar Satmaka, setelah mengatakan itu, mereka mengakhiri panggilan nya. Tanpa sadar, pria itu tersenyum sendiri.
Sebenar nya yang ingin bertemu dengan Arshinta itu adalah Satmaka, hanya saja dia tidak tahu harus bagaimana untuk mengatakan nya.
“Papa kenapa? Senyum sendiyi?” Rakha menyadari kalau papa nya yang tersenyum tanpa apa-apa.
“Tidak apa-apa sayang, oh ya, nanti siang kita makan dengan kak Shinta ya.”
“Benayl pa? Akha bisa jumpa sama Kak
Shinta…yyyyeeeeeeeee…..”
*****
Sementara itu di kediaman Abraham, karena pulang tengah malam dari acara ulang tahun papa nya, dia masih tidur di kamar nya. Salah satu kesamaan nya dengan Arshinta adalah bisa tidur dalam waktu yang lama, bahkan
bisa seharian, tapi kalau sudah fokus bekerja, mereka lupa untuk tidur.
Hari ini adalah hari libur nya, jadi bisa menikmati waktu untuk tidur lebih lama.
Sudah siang hari, namun Abraham belum bangun juga, dan dia juga baru selesai memasak untuk makan siang.
“Kenapa pak Abraham belum bangun ya? Atau aku harus membangun kan nya?” ucap nya melihat keatas.
“Lebih baik aku bangun kan saja, biar bisa pak Abraham makan siang.” Tanpa membuka celemek nya, dia pergi naik tangga untuk memanggil Abraham.
“Kamar nya yang ini kan? ……. Tidak apa-apa kan kalau aku ketuk pintu nya?.... ya udah deh, aku ketuk saja.”
Saat tangan kanan nya di angkat ingin mengetuk pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam. Wanita itu terkejut.
“Ada apa Bel?” tanya Abraham yang melihat Bellova berdiri mematung di hadapan nya.
“Ma…maafkan saya pak Abraham, saya tadi ingin membangunkan anda untuk makan siang.” Jawab nya dengan berani menatap Abraham.
“kamu masak atau beli dari luar?” tanya nya yang tidak tahu kalau Bellova bisa masak.
“Saya masak pak, tapi sangat sederhana sekali, saya hanya mengolah bahan yang ada di kulkas saja, karena saya tidak ada uang untuk belanja.” Jawab nya dengan pasti.
__ADS_1
“Oohh…. Apa kamu sudah makan juga?” di anggukkan kepala mendengar jawaban Bellova.
“Be….belum pak, saya…. Saya nunggu anda untuk makan lebih dulu saja.” Jawab nya gugup.
“Ya udah, kita makan dulu, nanti kita belanja bahan-bahan nya.” Ajak Abraham yang keluar dari kamar.
“Saya rapikan kamar anda dulu pak…
“Tidak usah, nanti kan bisa. Ayo makan dulu, sekalian ada yang ingin aku bicarakan.” Abraham memaksa Bellova untuk ikut makan dengan nya.
Mereka berdua pun berjalan bersama, Abraham yang berada di hadapan nya, dan dia di belakang. Dia selalu menunduk, dan menjaga jarak agar majikan nya tidak terganggu akan langkah nya.
Kalau Abraham tidak bekerja, dia hanya memakai kaos dan celana pendek, dan kelihatan lebih muda.
***********
Satmaka dan Rakha baru tiba di depan halaman parkir sekolah yang di miliki Arshinta. Rakha yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu segera berlari setelah keluar dari pintu mobil.
“Rakha, kamu jangan lari-lari nak, nanti bisa jatuh. Tunggu papa sini.” Satmaka mengejar Rakha agar bisa meraih tangan nya.
Rakha menghentikan langkah nya di depan ruangan kelas yang terdiri dari anak-anak sebaya nya, anak-anak TK, di lihat mereka yang bermain dan berlari bersama teman teman nya.
“Rakha, kamu lihat apa?” tanya Satmaka setelah berhasil menyusul nya, di genggam tangan anak nya agar tidak lari lagi.
“Papa, meyeka lagi apa?” tunjuk nya pada anak-anak itu.
“Mereka sedang bermain nak. Bermain sambil belajar.” Jawab nya.
“Akha juga mau pa, Akha mau main sama meyeka..” pinta nya masih menunjuk kelompok anak-anak itu.
“Kalau kamu mau, kita ngomong dulu sama kak Shinta nya ya. Sebaik nya kita kesana, kak Shinta nya pasti nungguin kita.” Tanpa bertanya lagi, anak nya pun ikut dengan papa nya. Mereka berjalan bergandengan tangan.
Tentu saja kehadiran mereka menjadi pusat perhatian. Sepanjang lorong sekolah,
bahkan siswa-siswa bisa melihat Satmaka dari balik jendela kaca. Sungguh pesona
yang luar biasa di mata mereka.
Sepanjang perjalanan pun, Satmaka tidak henti nya tersenyum terus menerus, dan Rakha selalu melihat kiri dan kanan jalan.
__ADS_1