KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 149


__ADS_3

Abraham yang sangat marah, sedang berada di depan anggota kepolisian yang sengaja di kumpulkan. Gemeritik gigi nya terlihat dari pergerakan rahang nya. Wajah nya sangat serius, dengan tatapan yang sangat tajam di lemparkan pada anak buah nya yang sudah merasa ketakutan.


15 menit belum ada percakapan, Abraham memegang pinggang dengan kedua tangan nya, berdiri dengan tegak.


“Adley!” teriak Abraham.


“Siap pak!


“Berapa polisi yang kau suruh untuk mengawasi rumah sakit?”


“Sekitar 25 orang pak.”


“Lalu kenapa hanya ada tiga orang saja di sana? Kemana 22 orang lagi? mati??” tanya nya dengan suara keras.


Adley hanya diam menghela napas. Dia juga ikut emosi, karena ulah anak buah nya, dia pun harus terkena amarah Abraham. Padahal sudah di beri tugas tapi lalai.


“Menghadap ku sekarang yang di tugaskan menjaga di rumah sakit! Sekarang!!” teriak nya lagi. Suara bass nya yang keras terdengar jelas di seluruh ruangan.


Akhirnya polisi yang di tugaskan Adley datang, dengan ketakutan. Mereka hanya menundukkan wajah nya.


“Polisi seperti apa kalian ini? Hah? Jalan saja seperti karet gelang. Sebagai polisi harus berjalan dengan tegak dan berani! Heran aku, kenapa orang seperti kalian bisa lolos menjadi polisi.” Ucap Abraham yang sudah berhadapan dengan anak buah nya.


Tidak ada jawaban, mereka hanya diam.


“Di mana dan apa yang kalian lakukan selama masa tugas?” Mulai bertanya dengan tegas.


“Sa…saya sedang di toilet pak.”


“Saya… saya sedang menerima…telepon dari keluarga saya pak.”

__ADS_1


“Saya sedang makan siang pak.”


Beberapa mereka memberikan alasan.


“Bersamaan banget waktu nya ya? bisa begitu?”


“Hah… mau di tanya bagaimana pun, mana mungkin kalian menjawab dengan jujur dan benar kan?”


Mereka menelan ludah karena tebakan atasan nya memang benar.


“Kalian santai-santai di sana, sedangkan rekan kalian bertaruh nyawa melawan mereka. Di mana tanggung jawab kalian?”


Tidak ada yang menjawab, mereka masih menundukkan wajah.


“Adley!”


“Mulai sekarang, skors mereka selama enam bulan!”


Polisi yang salah itu terkejut dan mengangkat wajah.


“Tapi pak-


“Apa? Kalian keberatan dengan hukuman kalian?”


“Pak, saat itu kami tidak tahu kalau mereka akan datang.”


“lagi pula pak, kami juga sangat takut dengan anak buah Bossa, kami tidak ingin mati kony-


“Wah… ternyata ini jawaban yang sebenar nya ya. Katakan saja kalau kalian itu penakut, jangan pakai alasan yang sudah pasaran.” Abraham bisa menebak langsung.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan rekan kalian? apa kalian pikir mereka tidak takut? Tentu saja takut! Tapi mereka bertanggung jawab dengan pekerjaan mereka. Kita adalah pelindung negara! Tidak boleh takut dengan ancaman apapun, kalau kita mati di medan perang, kita tidak akan membuat keluarga kita malu, mereka akan bangga. Sebelum kalian masuk menjadi polisi, apa kalian tidak mendapat pelajaran? Atau langsung lompat saja jadi polisi?” ucap Abraham.


Mereka kembali menundukkan wajah.


“Abraham bren***k! sombong sekali kau. Pantas saja banyak yang menjadi musuh dan membenci mu.” Batin salah satu polisi yang mendapatkan hukuman.


Abraham merasa ada yang menatap nya dengan tajam.


Tap…


Tatapan mereka langsung bertemu, dengan polisi yang berada di barisan paling belakang.


“Hhmm..” Abraham tersenyum sinis, dia tahu makna dari tatapan tajam polisi yang menatap nya.


Sementara itu, Bellova baru saja tiba di kantor polisi, bersamaan dengan Monik yang juga ingin mengantarkan makan siang pada pelanggan nya.


“Ada apa? Kenapa sangat ramai di dalam?” tanya Bellova tidak tahu.


“Itu karena pak Abraham sedang marah besar.” Jawab Monik.


“Apa? Marah… besar?” Bellova mulai takut.


Mereka berdua masih berada di depan kantor, di halaman depan.


.


.


__ADS_1


__ADS_2