
Ranti menangis tertunduk. Adley mengerti dan mengangguk kan kepala nya.
“Luar biasa..” gumam Adley.
“Jadi saya mau tanya lagi, dan tolong agar nona Ranti bisa mengatakan yang sejujur nya.” Abraham menatap Ranti, dengan kedua tangan yang di letak kan di atas meja.
“Siapa…yang..sebenar nya, memperkosa anda?” tanya Abraham, nada bicara yang menekan, tegas namun tenang. Abraham sudah tahu kebenaran nya, tapi dia ingin menguji kejujuran si korban yang menuduh orang tidak bersalah.
Ranti yang tidak menjawab, malah menangis menunduk kan wajah nya. Itu tidak berpengaruh pada sikap Abraham.
Apib, dengan polos nya mengusap punggung wanita itu, dengan maksud ingin memberikan dukungan dan agar Ranti bisa bersabar.
“Hey gob**k, jangan pegang anak saya, dasar tol*l!” ayah dari Ranti marah, menarik tangan Apib dan menghempas nya.
Apib bisa merasakan sakit di pergelangan tangan.
“Maaf..Apib.. hanya…hanya…
“Diam bodoh! Najis aku..
Bbbrraagghh…
Abraham memukul meja dengan keras. Pukulan nya yang keras membuat semua terkejut dan ketakutan, kalau sudah seperti itu, berarti Abraham sedang dalam keadaan marah.
“Anda anggap apa kantor polisi ini? Berani anda bersikap seperti itu di depan saya? Anda bilang dia (menunjuk Apib) bodoh, tolol… padahal kalimat hinaan itu lebih cocok untuk anda!!” teriak Abraham berdiri.
Si ayah Ranti juga tidak bisa berkutik lagi.
Sekarang Abraham kembali melihat Ranti, menunggu jawaban yang keluar dari mulut nya.
“Nona Ranti? Apa anda dengar pertanyaan ku? Siapa yang sebenar nya melakukan itu pada anda? Jawab!” tanya nya menekan.
Masih menangis.
“Ranti, kamu harus jawab, jangan diam saja. Katakan yang sebenar nya. Biar polisi yang sombong ini….
Ayah nya berhenti bicara saat di pelototin Abraham.
“Pak…. Saya… saya takut pak… saya…
“Maka nya aku akan membantu mu.” Abraham memotong ucapan Ranti.
__ADS_1
Ranti melihat kedua orang tua nya dengan takut.
“Apakah saudara Apib yang melakukan nya?” tanya Abraham untuk memastikan status Apib.
Dengan ragu, Ranti menggelengkan kepala nya, dan Abraham mengangguk kan kepala, dia mengerti.
“Apa? Kenapa kau bilang bukan Ranti?” teriak Ayah nya tidak terima.
“Memang bukan Apib yang melakukan nya ayah!... bukan dia!... dia hanya di tuduh Abay….
Ranti sudah menyebutkan nama yang lain, spontan wanita itu langsung menutup mulut nya.
“Jadi… bukan Apib… tapi… Abay? Abay pelaku nya kan nona Ranti?” tanya Abraham menyudutkan.
Ranti mengangguk kan kepala nya, namun masih menunduk kan wajah.
“Ranti!!” teriak ayah nya yang tidak terima.
“Kalau anda tidak diam, melakukan keributan di sini, aku akan mengusir atau memasuk kan mu ke dalam sel, bersamaan dengan penjahat lain
yang ada di sana.” Tunjuk Abraham, sel yang di penuhi hasil penangkapan.
“A…Abay mengancam saya pak Polisi, dia…dia sudah menikah dan punya anak, kata nya… kata nya dia mencintai saya, dan berjanji akan
Terlihat sekali wanita itu mengumpulkan keberanian nya, wajah dan leher nya sudah basah karena keringat. Wanita itu pun tidak berhenti menangis, melihat nya menangis, Apib yang duduk di samping nya ikutan menangis.
“Nafsu mengatas namakan cinta, tapi menyeret orang yang tidak tahu apa-apa, bahkan ‘tidak normal’ seperti kalian. Apa kalian tidak ada
rasa kasihan? Bahkan kalian memukuli nya tanpa memikirkan rasa sakit yang di derita nya. Apa kalian tidak takut dengan karma? Karena aku percaya itu.” ucap Abraham berdiri dan keluar dari meja nya.
“Adley, tangkap Abay dan bawa ke sini sekarang. Dia yang menjadi tersangka nya.” Suruh Abraham.
“Siap Pak.” Adley memberi hormat dan pergi dengan beberapa rekan nya untuk menjemput penjahat yang sebenar nya.
“Nona Ranti, kalian harus membayar biaya pengobatan saudara Apib akibat pengeroyokan, apalagi salah sasaran. Dan pengakuan anda akan menjadi bukti saat di butuhkan.” Ucap nya pada Ranti.
“Dan kalau bapak dan ibu sebagai orang tua Ranti, berani mengancam atau lari dari tanggung jawab nya, maka aku bisa menetapkan kalian sebagai tersangka juga, bermaksud menyembunyikan atau bekerja sama dengan penjahat. Jika Ranti mengalami penyiksaan atau pengancaman dari anda atau pihak lain, akan aku tangkap juga, jangan coba-coba menipu ku, karena aku…punya insting yang kuat.” Ucap Abraham, tegas dan menekan.
“Bagaimana pak? Apa anda keberatan?” tanya nya.
Ayah nya menggelengkan kepala, dia tidak mau bermasalah lagi.
__ADS_1
“Saya… saya akan bertanggung jawab dengan pengobatan nya.” Jawab nya ketakutan.
**********
“Hebat banget pak Abraham, bisa memecahkan kasus nya dengan cepat.” Puji Ridwan, yang ikut bersama Adley untuk menjemput tersangka yang sebenar nya.
“Itu kecil buat Abraham, tidak perlu banyak waktu, langsung kelar. Insting nya kuat, sama seperti papa nya.” Ucap Adley menambahkan.
“Tapi kasihan juga ya, sama yang nama nya Apib itu, di jadikan ‘tumbal’ dari hubungan terlarang mereka.” Ucap Ridwan lagi.
“Tapi Abraham sudah mengatasi nya kan. Si Apib nya juga akan di obati dan nama baik nya juga akan kembali baik.” Dukung Adley.
********
“Jadi kau ada tugas di luar kota?” tanya Arshinta pada Satmaka.
“Iya, lima hari. Maka nya aku minta tolong pada mu untuk menjaga Rakha selama aku tidak ada.” Pinta Satmaka.
“Aku tidak masalah kok, aku akan menjaga nya. Tenang saja, tidak akan terlantar bersama ku.” Arshinta berjanji pada Satmaka.
“Aku percaya itu. Sorry ya merepotkan mu, aku tidak tahu harus menitipkan nya kemana, dan tidak ada yang akrab dengan Rakha selain kamu.” Ucap Satmaka.
“Tidak apa-apa. Tapi aku akan membawa nya ke rumah ku ya? aku tidak bisa pulang pergi dari rumah mu.” Ucap Arshinta, agar tidak ada
timbul fitnah.
Satmaka pun tidak keberatan.
“Kapan kamu berangkat nya?” tanya Arshinta.
“Besok. Tapi mulai sekarang aku sudah harus menyerahkan Rakha pada mu.” Jawab Satmaka.
Arshinta mengangguk kan kepala nya. Rakha yang sibuk dengan makanan nya tidak mendengar ucapan kedua orang dewasa itu.
Satmaka yang akan pergi ke Kalimantan, bertemu dengan Arshinta sebelum pergi untuk menitipkan anak nya. Lebih percaya dengan Arshinta daripada pelayan yang ada di rumah.
Arshinta akan membawa Rakha ke rumah nya, menjaga dan merawat selama beberapa hari, baik di sekolah maupun di rumah.
“Terima kasih ya. Kau mau aku bawakan apa dari Kalimantan?” tanya Satmaka.
“Mmm…. Apa ya… karena aku lebih suka makanan, bawa makanan cirri khas dari Kalimantan saja ke sini. Dan kau pun harus pulang dengan selamat. Oke..” pinta Arshinta.
__ADS_1
Satmaka mengangguk kan kepala dan tersenyum.