
Sepasang muda-mudi sedang berjalan bersama. Bergandengan tangan di salah satu Mall. Kedua tangan nya penuh membawa paper bag, aneka merek. Sementara sang wanita nya berjalan santai hanya membawa tas kecil di
bahu nya.
“Sayang, kita ke toko sana yuk..” ajak wanita itu pada kekasih nya.
“Aduh sayang, kamu mau beli apa lagi sih? Ini saja sudah banyak…” balas si cowok yang sudah merasa kelelahan sambil menunjuk belanjaan nya.
“Ini masih kurang, aku mau beli sepatu lagi…
“Tapi kamu kan sudah beli ini, warna merah, putih sampai aku saja ingat warna apa yang kau beli.” Ucap si pria memotong ucapan kekasih nya.
“Tapi aku belum beli yang warna putih. Lihat itu, itu cakep banget kan…. Lucu..” ucap si wanita yang tidak mau mengalah. Dia membujuk
dengan menunjuk wajah imut nya.
Pria itu bernama Adley, yang sedang menemani kekasih nya berbelanja. Dia sangat kelelahan seharian mengikuti pacar nya yang hobi berbelanja.
“Gini saja, kamu masuk saja ke sana, biar aku menunggu mu di sini. Enggak apa-apa kalau barang belanjaan mu aku yang jaga di sini.” Ucap Adley menyerah.
“Enggak mau, kamu harus ikut. Ayo… aku udah lama suka dengan sepatu itu. Ayo temani aku…” rengek nya menarik tangan Adley.
“Lama-lama aku menyerah dengan wanita ini.” Gumam Adley yang masih diam.
Adley melihat pacar nya dengan tatapan tajam, seperti emosi yang masih berusaha di tahan.
“Ya udah kalau begitu, kamu tunggu di sini aku masuk ke sana. Tapi janji jangan pergi ninggalin aku ya.” Wanita itu mengalah, pergi
sendiri tanpa di temani Adley.
Adley melihat pacar nya dengan semangat masuk ke toko, sementara dia duduk di bangku yang sengaja di sediakan untuk menunggu sambil menjaga barang belanjaan.
Beberapa kali menghela napas.
“Apa aku bisa bertahan lagi dengan sikap nya? Dia saja tidak menghargai ku. Dan… sebenar nya hubungan apa yang kami jalani ini? Aku malah merasa seperti pelayan nya saja..” gumam Adley.
“Hey… apa kau seorang pelayan si wanita itu?” terdengar suara wanita muda dari samping nya yang muncul tiba-tiba.
Merasa seperti suara yang pernah di dengar nya, dia melihat arah samping, dan ternyata sudah ada wanita yang duduk sambil menatap seperti mengejek.
“Hah… si cewek gila.” Gerutu nya pelan.
“Apa kau bilang? Kau mengatakan aku cewek gila?” tanya Monica kesal.
Adley diam mengabaikan. Dia lebih memilih diam beristirahat.
Tanpa di suruh, Monica duduk di samping Adley, hanya seorang diri nya saja, dengan memakai rok pendek berwarna hitam.
__ADS_1
“Apa wanita itu pacar mu? Tapi kok seperti bukan pacar ya? Lebih ke…..
Wanita itu mendekati telinga Adley.
“Pelayan dan majikan.” Ucap Monica.
Adley kesal, melirik Monica dengan tajam, Monica malah tersenyum tanpa takut.
“Kasihan banget ya, maka nya kalau punya pacar tuh di disiplinkan, dan tegas! Biar tidak semena-mena sama kamu.” Nasihat Monica.
“Aku tuh udah dari tadi ngikutin kamu dan wanita itu, awal nya aku pikir kalau kau pelayan nya, karena sifat mu yang lembek kayak balon!”
ledek Monica.
“Hhhmm… hati-hati, balon juga bisa pecah, dan kalau sudah pecah, selain suara nya yang berisik, kulit nya bisa mengenai mata.” Balas
Adley.
“Ups… iyakah? Berarti ini tinggal menunggu pecah nya saja ya? Kapan?” Monica tidak mau mengalah, selalu ada saja yang membuat adley
terpancing emosi.
Adley memilih diam, walau gerah dengan kicauan Monica.
Monica juga diam, duduk tenang di samping Adley, tidak jauh jarak nya, sampai orang berpikir kalau mereka adalah sepasang kekasih.
“Ternyata dia bisa sabar juga pada wanita, aku pikir dia hanya bisa kasar.” Gumam Monica melirik Adley yang memejamkan mata.
memilih-milih sepatu.
“Ckckckck… kasihan sekali pria ini, memiliki kekasih yang tidak punya perasaan.” Gumam Monica lagi.
“Jangan lihat aku, nanti naksir lagi..” ledek Adley, dia menyadari kalau wanita itu masih menatap nya.
“Idih… siapa juga yang naksir. Wajah pas-pas an gitu percaya diri banget ya…”jawab Monica dengan cepat.
“Harus nya kamu bangga tuh, bangga kalau….
“Sayang, aku dah selesai. Pulang yuk.” Ajak kekasih nya Adley yang sudah keluar dari toko.
Wanita itu melirik tidak suka pada Monica, begitu juga sebalik nya.
“Siapa wanita ini sayang?” tanya nya melirik.
“Bukan siapa-siapa. Sudah lah, kalau kamu sudah selesai, aku antar kamu pulang.” Adley berdiri, mengangkat belanjaan yang di letak kan di lantai tadi.
“Iya, aku udah selesai kok, aku juga sudah lelah banget nih sayang, mau cepat pulang.” Dengan cepat dia menggandeng lengan Adley, sengaja
di depan Monica.
“Aku pamit dulu ya, kalau tidak ada urusan lagi sebaik nya kau pulang, dan hati-hati di jalan.” Adley memberi pesan dengan sopan dan pamit pada Monica.
__ADS_1
“Dia…….” Gumam Monica, merasa tersentuh dengan ucapan Adley.
Monica masih melihat pasangan itu berjalan di depan nya, hanya sebentar saja wanita itu menggandeng tangan Adley, lalu melepas nya lagi, bahkan berjalan seperti menjaga jarak.
“Memang terlihat seperti pelayan dan majikan, ckckckckckck…” ucap pelan Monica menggelengkan kepala.
*******
Abraham sedang menonton Tv di ruang tamu atau ruang santai.
Acara yang di tonton adalah berita kriminalitas, kasus pemerkosaan terhadap anak kecil, hingga pembunuhan terhadap kekasih atau selingkuhan.
“Ya ampun…. Semakin lama manusia semakin gila ya. Ada-ada saja kejahatan nya, apa mereka tidak sadar? Tidak takut dengan hukuman yang
menunggu?” ucap Abraham berbicara pada diri sendiri.
“Pak Abraham, kalau mereka sadar, mereka tidak akan melakukan nya, dan tidak akan mendapatkan hukuman.” Celetuk Bellova yang duduk tidak jauh dari nya.
Abraham melihat gadis yang lebih muda dari nya.
“Tapi mereka kan punya otak, bisa berpikir…
“Semua manusia memang memiliki otak pak, hanya saja mereka tidak mau berpikir panjang.” Celetuk Bellova lagi, dan Abraham melihat Bellova lagi.
“Karena tidak bisa berpikir, maka nya mereka jadi tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan. Mereka menginginkan sesuatu, dan itu
adalah alasan yang sangat kuat buat mereka untuk mencapai atau mendapatkan nya.” Ucap Bellova tanpa ragu.
Abraham sekali lagi senang berbicara dengan Bellova, terkesan berani namun ucapan nya masuk akal. Tidak asal bicara atau tidak sok
tahu.
.
.
.
.
.
.
.
Abraham : “ Pintar bicara juga kau…”
Bellova : “ Bukan cuma pintar bicara, tapi aku juga pintar
__ADS_1
untuk mengambil hati mu.”