
Ina pergi, meninggalkan Sakya dan Meta yang menatap nya.
“Bu bos mau makan siang dulu ya… bye…” ledek Ina lagi melambaikan tangan nya.
Sakya dan Meta saling memandang, melihat tingkah bos nya.
“Kalau begitu, kita juga makan siang yuk Meta, ajak Zafran juga.” Ucap Sakya.
“Dia di mana?” tanya Meta yang tidak keberatan.
“Enggak tahu, telepon saja. Kalau lama, kita berduaa saja, biar gak terlambat masuk.” Ucap Sakya, menunggu.
*****
Ina yang sudah menunggu di depan gedung, melihat jam tangan nya, tidak lama kemudian Aditya datang dengan mengendarai mobil nya.
“Hallo nona cantik, sudah lama menunggu nya?” tanya Aditya, dia tidak turun dari mobil, hanya menurunkan kaca jendela, agar bisa berbicara dengan Ina.
“Tidak terlalu sih, baru 2 menit.” Jawab Ina, membuka pintu mobil dan masuk.
Setelah Ina memasang sabuk pengaman, Aditya melajukan mobil nya.
“Kita mau makan di mana nih?” tanya Aditya.
“Terserah, yang penting ada nasi dan ikan nya saja. Dan jangan terlalu jauh, karena aku ada meeting habis makan siang.” Ucap Ina, membuka menu ponsel nya.
“Oke…” Aditya sekarang tahu mau membawa Ina makan di mana.
“Bagaimana dengan pekerjaan mu?” tanya Ina dan Aditya bersamaan.
“Loh? Hehehe…” lagi mereka serentak tertawa.
“Kamu dulu aja yang jawab, lady first kan…” ucap Aditya.
“Pekerjaan ku biasa saja sih. Tidak ada masalah , untung saja aku di bantu karyawan-karyawan yang cekatan dan pintar, apalagi
Sakya,Zafran dan Meta.” Ina memuji rekan kerja nya.
Aditya mengangguk kan kepala nya.
“Bagaimana dengan mu?” sekarang giliran Ina yang bertanya pada Aditya.
“Padat. Mulai dari subuh sampai siang ini, sudah 3 operasi yang ku lakukan, nanti jam 2 siang ada lagi, hhuuftt….” Ucap Aditya menghela napas, sambil menggelengkan kepala nya.
“Ya ampun, semangat ya… pasti sangat lelah ya…” Ina menepuk bahu Aditya pelan.
“tanx ya..” Aditya tersenyum pada Ina.
“Tapi kamu udah hebat loh, bisa menyelamatkan nyawa orang.” Puji Ina.
“Aku hanya berusaha semaksimal ku saja, hidup dan mati jawaban akhir nya ada pada Tuhan kan. Yang ku lakukan, tetap serius dan
__ADS_1
menganggap penting.” Ucap Aditya, ucapan nya terasa hangat, di sertai dengan tersenyum.
“Aku semakin bangga pada mu.” Puji Ina lagi.
*******
Di dalam kantor polisi…
“Ponsel nya sangat jelek sekali. Dia tidak tahu tren ponsel yang keren…” Abraham sedang memperhatikan ponsel Bellova yang masih ada di tangan nya.
“Ponsel siapa yang jelek? Itu? punya Bellova kan?” tanya Adley menunjuk ponsel di tangan Abraham, rekan nya itu mendengar ucapan Abraham walau suara nya pelan.
“Iya, ini punya Bellova, lihat nih, kuno banget kan. Kamera nya aja buram, kecil lagi.” ucap Abraham menunjuk ponsel Bellova.
“Beliin lah, kau kan majikan nya. Tunjuk kan kalau kau perhatian dan perduli pada nya.” Ujar Adley.
Abraham diam berpikir tentang masukan saran dari Adley.
“Ngomong-ngomong, tentang Shadow dan Deadly Poison, ada informasi, kalau Bosa sedang ada di Filipina, dan 7 hari lagi dia akan ke Indonesia.” Ucap Adley, memberikan laporan nya.
“Oke, siap kan untuk menangkap nya saat dia datang ke Indonesia, dan untuk Lucifer, kita selidiki dulu.” Abraham berdiri, mengambil
kunci mobil.
“Mau kemana?” tanya Adley.
“Aku mau beli ponsel baru untuk Bellova.” Jawab Abraham jujur.
“Lah? Kan itu saran mu. Aku sebagai majikan nya juga pasti ikut malu kalau dia katro gitu.” Ucap Abraham memberikan alasan.
“Oke…oke…. Pergilah.” Adley melambaikan tangan nya.
********
Aris, Hendra, Steven beserta isteri nya datang berkunjung bertemu dengan Lucifer dan Eva. Rumah itu menjadi ramai, karena mereka yang
menceritakan masa lalu.
“Jadi, aku dengar ada yang memakai nama ku ya…. Siapa orang itu?” tanya Lucifer tajam.
Keadaan yang sebelum nya ramai, tiba-tiba diam. Pertanyaan yang di pusat kan pada Aris dan Hendra.
“Aku pikir kau tidak tahu Fer.” Ucap Steven.
“Walaupun Abram belum bicara pada ku, aku tahu berita itu.” ucap nya.
“Jadi, kapan kau akan memberitahukan nya? Kalau pada Arshinta dan Ina, mungkin mereka bisa mengerti, tapi untuk Abraham, kau tahu
kan kalau kau dan putera mu itu beda ‘jalan’?” tanya Steven, tanpa ragu berbicara seperti itu.
“Pasti, aku pasti akan memberitahukan nya. Kalau dia datang ke sini, berarti dia sedang ingin mencari kebenaran nya, dan di situ lah akan aku katakan.”
__ADS_1
“Apa tidak masalah?”
“Tidak, aku tidak masalah.” Ucap Lucifer santai.
Sekarang tatapan Lucifer kembali pada kedua asisten nya.
“Apa kalian tahu kasus nya?” tanya nya lagi.
“Kami sudah menyelidiki nya tuan, seperti nya ada anak buah kita yang menggunakan nama anda.” Jawab Aris.
“Apa? Berarti benar itu dari Deadly Poison?” tanya Lucifer terkejut.
“Benar tuan.” Aris mengangguk kan kepala nya.
“Apa anda mau kami membawa orang itu menghadap anda?” tanya Hendra semangat.
“Tidak, biarkan anak ku yang melakukan nya. Aku yakin dia pasti bisa menangkap nya. Kalian hanya awasi dan jaga dia dari belakang,
Arshinta dan Ina juga.” Lucifer menahan maksud Hendra yang sangat berapi-api beraksi lagi.
“Baik tuan.” Jawab mereka bersamaan.
“Aku dengar, kalau Bosa ada di Filipina, dan akan datang ke Indonesia.” Ucap Lucifer meminum kopi nya.
“Benar tuan, 7 hari yang jatuh di hari selasa, dia akan datang. Apa ada tugas yang anda berikan pada kami?” tanya Aris.
Lucifer mengetuk lantai dengan kaki nya, sambil berpikir.
“Awasi saja, ingat! Jangan sampai Abraham tahu kalau kalian menjaga nya, karena dia keras kepala dan tidak mau menerima pertolongan tanpa alasan.” Suruh Lucifer.
“Sama seperti kamu, keras kepala juga…” celetuk Eva yang duduk di samping nya.
Lucifer tersenyum mendengar nya.
“Iya, nama nya juga bapak dan anak, pasti sama.” Dengan bangga Lucifer mengucap nya.
“Kalau menurut ku, Arshinta yang lebih mirip dengan Lucifer, guru-guru yang tidak becus saja bisa di atasi tanpa gugup dan takut…..
“Jelas saja. Adam lebih sering membawa Arshinta latihan menembak, tombak dan pedang. Aku khawatir pria yang seperti apa nanti yang akan menjadi suami nya.” Ucap Eva.
Mereka hanya tertawa mendengar gerutu Eva.
******
“Pak Abraham, ini ponsel buat saya kah?” Bellova menerima ponsel dari majikan nya.
“Aku kan sudah memberikan pada mu, ya pasti untuk kamu lah.” Jawab Abraham, melepas jaket dan duduk di sofa.
“Wah…. Terima kasih ya pak Abraham. Tapi…. Apa ini potong gaji?” Bellova panik, tidak ingin gaji nya di potong.
Abraham melihat Bellova, seperti ada pikiran ingin mengerjai gadis polos itu.
__ADS_1