
“Shinta, kamu harus bisa mengendalikan emosi mu! Kamu wanita loh.” Ucap Abraham menghela napas nya.
“Siapa yang tidak marah kak? Tiba-tiba saja mereka datang dan cari masalah. Tuh, lihat kepala si Rakha, memang nya siapa yang melakukan itu sampai kepala nya berdarah?” tanya Arshinta membela diri.
Abraham melihat Rakha yang memang terluka.
“Si preman-preman yang di sana! Jadi… aku tidak salah memberi mereka pelajaran..lagi pula mereka kan belum mati.” Ucap nya lagi.
“Siapa yang memukul Rakha sampai seperti itu?” tanya Abraham, melihat preman-preman yang sudah ada di dalam jeruji besi. Mereka
sangat takut dengan Arshinta, bersyukur sudah berada di dalam penjara sebelum
mendapat pukulan lagi dari wanita itu.
“Itu… yang pakai baju kuning, udah kayak kotoran yang lagi ngambang di sungai.” Tunjuk Arshinta, pada pria itu, dia terkejut setelah di tunjuk.
“Pppfftthh..” tahan tawa dari Adley dan Satmaka.
“Kalau begitu biar kakak saja yang mengurus mereka.”
“Tapi kak… ada yang ingin Shinta tanya juga pada mereka. Shinta ingin tahu siapa yang menyuruh mereka menyerang kami. Dan aku juga masih….belum puas memukul mereka.” Ucap Arshinta, bersikeras untuk melampiaskan kemarahan nya lagi.
Abraham dan Adley sekarang menggelengkan kepala nya.
“Shinta, biar kakak saja yang melakukan nya ya, lagi pula ini adalah kewajiban dari tugas kakak. Jadi… sekarang kamu serahkan sama kakak, dan kakak pasti akan cepat mendapatkan jawaban nya. Okey?” tawar Abraham.
Tidak ada jawaban dari Arshinta. Memang benar, kalau itu adalah kewajiban dari tugas pekerjaan nya. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan kakak nya terkena masalah dari hasil kemarahan nya.
“Baiklah kak. Aku serahkan pada kakak. Tapi tolong cepat ya, karena aku gak mau terlalu lama penasaran. Pusing kepala ku kalau sampai penasaran.” Jawab Arshinta memegang kepala nya.
“Iya, iya. Kamu tenang saja ya. Sekarang kalian pulang saja dulu. Udah mau malam juga. Kasihan Rakha, dia pasti sudah lapar dan lelah dengan kejadian hari ini.” Suruh Abraham. Mereka melihat memang anak itu sudah beberapa kali menguap dan bersandar pada Satmaka.
Arshinta dan Satmaka mengerti, mereka menganggukkan kepala nya, sepakat.
Setelah berpamitan, mereka akhir nya pulang. Preman-preman yang ada di dalam penjara mereka lega, mereka menghela napas nya.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang Bram?” tanya Adley, menunggu aksi dari Abraham.
Abraham melihat Adley dengan tersenyum, salah satu alis nya naik. Adley sudah mengerti. kalau sudah bertingkah seperti itu, Adley tahu apa yang akan di lakukan Abraham. Abraham pun mulai berjalan ke arah di mana preman-preman itu di penjara.
“Hhhmm… Bram, ingat… kau pun harus mengendalikan emosi mu… jangan cuma Arshinta saja yang kau nasehati…” ucap Adley menggelengkan kepala nya.
Abraham hanya menjawab dengan mengangkat salah satu tangan nya ke atas, lalu di gerakkan ke kiri dan ke kanan, tanpa menoleh Adley yang ada di belakang nya.
********
__ADS_1
Beberapa hari setelah kejadian itu, Venam dan dua rekan nya datang ke kediaman Agus Wido, dengan membawa surat ijin untuk membawa si pemilik rumah ke kantor polisi.
“Pak, kami sudah berjaga-jaga di sekitar nya.” Salah satu rekan Venam sudah berjaga di luar.
“Bagus.”
Tok…Tok…Tok…
Beberapa kali Venam mengetuk pintu, masih belum ada tanda-tanda untuk di buka.
Sekali lagi Venam mengetuk nya. Sampai ke delapan kali akhir nya ada terdengar langkah kaki dari dalam mendekati mereka.
“Seperti nya ada yang ingin datang. Bersiaplah.” Suruh Venam pada dua rekan yang ikut dengan nya.
Dan benar saja, suara pintu kunci dari dalam sudah di buka, dan pintu nya pun di buka secara perlahan. Seorang wanita setengah tua muncul di balik pintu, sama seperti sebelum nya, wanita itu tidak membuka pintu nya lebar, malah terlihat sekali kaki nya menahan pintu agar tidak sampai terbuka
luas.
“Maaf, cari siapa ya?” tanya wanita itu.
“Maaf kami mengganggu, kami ke sini ingin bertemu dengan pak Agus Wido.” Jawab Venam, masih memberikan senyum ramah nya.
“Tidak ada pak. Beliau sedang berada di luar bekerja. Dan anda sekalian ini siapa ya?” dia bertanya setelah menjawab pertanyaan dari
Venam.
“Kami dari pihak kepolisian, kami sedang ingin mengintrogasi tuan Agus atas kasus hilang nya wanita muda yang bernama Dyna.” Jawab Venam tidak menutup identitas nya.
Wanita itu menelan ludah nya saat mendengar kata ‘polisi’.
“Ma…maafkan saya, tapi saat ini tuan kami sedang tidak berada di rumah, dan…
“Kapan bapak itu keluar dari rumah?”
“Ta…tadi pagi…
“Lalu kapan kembali?”
“Sa…saya ti….tidak tahu…
“Kenapa anda tidak tahu?”
“Karena…
“Sudah berapa lama anda bekerja di sini?”
__ADS_1
“Lima..lima tahun…
“Lima tahun? tapi kata rekan saya anda bekerja baru lima minggu?”
“Apa?.. iya, maksud saya lima minggu..
“Apa anda berusaha membohongi kami?”
“Ti…tidak, saya tidak…
“Lalu siapa yang ada didalam rumah ini sekarang?” beberapa kali Venam memberikan serangan pertanyaan pada wanita yang terlihat semakin gugup dan panik itu. Sengaja dia memberikan pertanyaan bertubi-tubi agar bisa membaca reaksi dari nya.
“Ada… hanya ada… nyo…nyonya…
“Isteri dari pak Agus?” tebak Venam.
“Iya, isteri nya..”
“Kalau begitu bawa kami bertemu dengan nya sekarang. Kami ingin bertanya-tanya pada nya.” Pinta Venam.
“Tapi…
“Tapia pa lagi bu?”
“Nyonya… sedang…sedang sakit pak, dan beliau juga tidak bisa menerima tamu..
“Sakit? Sakit apa?”
“Sakit pencernaan…
“Belum mati kan? Kalau belum mati, jadi saya masih bisa bertemu dengan nya!”
“Tapi pak….
Brraagghhh….
Karena sudah merasa emosi dan kesabaran nya juga sudah mulai habis, Venam memukul pintu dengan sangat keras. Si wanita yang gugup itu terkejut.
“Bu! Kalau anda berusaha berbohong dan menghalangi tugas pekarjaan kami, kami akan membawa anda juga ke kantor polisi untuk di introgasi. Dan anda juga bisa di kenakan hukuman karena berusaha menyembunyikan kejahatan, tentu saja anda akan di penjara dalam jangka waktu yang lama. Apa anda mau?” ancam Venam. Tatapan mata nya yang tajam, mengisyaratkan agar tidak usah di halangi lagi.
Wanita itu bingung. Dia juga mendapat ancaman dari si pemilik rumah.
Karena belum ada jawaban, Venam mendorong paksa pintu itu.
sempat tubuh wanita itu tersungkur ke tanah. Tapi Venam tidak perduli. Dia dan kedua rekan nya masuk dan berjalan ke dalam rumah. Wanita itu bangkit berdiri, masih berusaha untuk menahan Venam, tapi tetap saja tidak bisa.
__ADS_1
“To…tolong pak, kalian tidak bisa masuk kedalam rumah ini sembarangan.” Wanita itu merentangkan kedua tangan nya untuk menahan Venam. Venam tidak perduli, tangan itu di turunkan Venam dan memaksa untuk masuk.