KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 55


__ADS_3

Pagi hari yang sangat sibuk untuk semua. Ina karena beberapa hari tidak masuk bekerja, jadwal meeting sangat padat, Satmaka karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan Arshinta dan Rakha, pekerjaan nya jadi menumpuk. Arshinta, Abraham, Adley dan semua nya.


Di kantor polisi, Venam datang beserta beberapa rekan nya.


“Selamat pagi Pak Abraham.” Ucap Venam memberi hormat.


“Ada apa Venam?” Abraham dan Adley yang sebelum nya sedang berbicara, melihat Venam.


“Kami membawa salah satu anak buah dari kelompok Shadow, tapi mereka tidak mau bicara sedikit pun..” ucap Venam.


“Di mana sekarang mereka?” tanya Abraham, sambil berdiri menghadap Venam.


“Di dalam sel, ada tiga orang dan langsung kami masuk kan.” Jawab Venam, seakan mengajak mereka untuk melihat apa yang sudah mereka tangkap.


Mereka bersama-sama keluar dari ruangan nya, dan langsung melihat sel yang sudah di penuhi penjahat-penjahat yang sudah berhasil mereka


tangkap.


Sudah ada mereka yang babak belur di pukuli Venam, sampai wajah nya bengkak.


Penghuni tahanan itu bukan nya takut, mereka seperti menantang Abraham dan yang lain nya, membuat Abraham geram.


“Mata mu itu… mau aku congkel keluar??” teriak Abraham, saat mereka menatap Abraham dengan tajam.


Abraham membuka jam tangan, dua kancing baju dari atas, dan kancing di bagian lengan nya.


“Buka sel nya!” suruh nya pada salah satu anggota yang menjaga.


Adley dan Venam hanya menyaksikan sambil duduk, melihat keberingasan Abraham.


“Siapa nama bos kalian…?” tanya Abraham, yang melangkah memasuki sel. Isi tahanan yang ada tiga orang itu tidak mundur, malah berdiri diam tanpa kata.


“Tidak mau bicara? Aku bisa membuat kalian….


“Sudah jangan banyak omong, kalau kau mau membunuh kami, bunuh saja! Kami tidak takut!” salah satu dari mereka menantang Abraham.


“Tch… aku tidak akan membunuh mu begitu saja.” Dia mendekati orang yang berbicara dengan berani.


Abraham melihat pria itu dari ujung kaki sampai ujung kepala nya, penuh memar dan luka. Dia memeriksa pakaian dan bagian-bagian dari tersangka itu.


Sssrreeett… Ssssrreett….


Pakaian mereka di sobek paksa, terlihat tubuh yang penuh dengan tattoo. Abraham kemudian memutari nya, sambil terus memperhatikan. Lalu pindah ke dua rekan nya yang lain, sama seperti sebelum nya, baju mereka juga di sobek dengan paksa. Ada tattoo yang banyak di punggung mereka.


“Aku tahu kalau kalian ini anak buah dari mafia Shadow kan? Dan..

__ADS_1


“Kalau kau sudah tahu, sebaik nya kau jaga nyawa dan…


Bbbrruugghh….


Pukulan pertama mengenai wajah orang itu, sudah bengkak, semakin bengkak.


“Tttccuuhh…” yang di pukul membuang ludah di hadapan Abraham.


“Ckckckckckck…. Berani sekali orang itu, padahal kematian nya hanya tinggal berapa centimeter.” Ucap Adley menggelengkan kepala nya.


Bbrruugghh….Bbbrruugghh…


Abraham memukul yang meludah itu, dua rekan nya hanya diam, seperti mayat yang tidak takut dengan rasa sakit. Karena orang itu yang paling berontak dan menantang Abraham, maka dia lah yang menjadi pelampiasan Abraham.


Di injak, di tending, di pukul, rambut di tarik, di tonjok, begitu sampai beberapa kali.


Hingga yang di pukul pun jatuh tersungkur di lantai dengan darah yang keluar dari luka tubuh nya. Tidak sadar kan diri. Melihat itu, tentu


saja Abraham menghentikan aksi nya. Dua orang rekan nya di lihat Abraham, kondisi nya tidak separah teman nya yang sudah tidak sadarkan diri. Abraham mengatur napas, merapikan rambut nya yang berantakan dan mengusap keringat di wajah nya.


Dia keluar dari sel, Adley langsung memberikan jam tangan Abraham untuk di pakai nya lagi.


“Lakukan rencana plan B!” suruh Abraham pada Adley.


“Okey.” Adley memberikan jempol nya.


Bellova ingin membuang sampah keluar rumah. Dua bungkusan sampah di dalam plastik hitam di kedua tangan nya.


Dua hari sekali paling lama, gadis itu membuang nya, berjalan sedikit keluar dan mengumpulkan dengan tumpukan sampah dari sekitar dan akan di angkut truk sampah. Langkah nya berhenti, saat ada beberapa pria yang mencurigakan di mata Bellova.


“Apa yang mereka lakukan di depan rumah itu?” tanya nya saat melihat beberapa pria keluar dari rumah dengan mengendap-endap.


Ada empat orang, dua di antara nya membawa sesuatu dalam bungkusan karung, dua nya lagi berjaga-jaga.


Ceklek…..Ceklek…


Mereka melihat kearah asal suara, dan Bellova terkejut, karena ketahuan mengambil gambar mereka. Akhir nya dua dari empat orang itu


mengejar Bellova. Wanita itu berlari dengan kencang, ponsel masih di tangan nya.


“Woy… berhenti!” teriak mereka sambil mengejar.


Bellova tidak mau berhenti, dia terus berlari


sekencang-kencang nya.

__ADS_1


“Aku harus hubungi Pak Abraham..” gumam Bellova.


Dengan sigap, sambil berlari Bellova mencari nomor Abraham, tidak ada tempat untuk bersembunyi bagi nya.


Tanpa sadar, Bellova menghubungi Abraham melalui panggilan video dari aplikasi Whatsup, yang awal nya hanya ingin melakukan panggilan telepon biasa.


“Pak Abraham, cepat angkat!” ucap Bellova, ponsel yang di letakkan di dada, untuk menjaga agar tidak terjatuh. Dia tidak berani untuk


melihat kebelakang, karena dia yakin kalau orang itu masih mengejar.


“Cepat kejar wanita itu, jangan sampai lolos!” teriak rekan nya yang juga ikut mengejar.


Sementara itu di kantor polisi…


“Ya ampun Bram, gambar apa itu?” tanya Adley, melihat layar panggilan dari ponsel Abraham.


Abraham sudah menerima panggilan video dari Bellova, Adley dan Venam ikut melihat.


“Kenapa seperti…belahan dada wanita ya..?” ucap Venam.


“Dan kenapa ada suara desahan gitu ya?” tambah Adley berkomentar.


“Siapa itu? tapi nama nya Bellova? Kenapa dia melakukan panggilan seperti itu?” tanya Venam.


Abraham langsung menutup layar ponsel nya, tidak ingin Adley dan Venam terus melihat.


“Lova… apa yang…


“Pak Abraham, tolong saya pak…” teriak Bellova, dia tidak melihat layar, hanya berbicara sambil berlari.


“Apa? Ada apa?” Abraham panik.


“Ada….ada yang…hhhhaaahh….mengejar….saya pak…” jawab Bellova dengan lelah.


“Aktifkan GPS mu, dan cari tempat aman untuk bersembunyi, aku akan segera kesana. Jangan di matikan ponsel nya!” ucap Abraham bergegas.


“Venam, pinjam motor mu cepat!” Abraham meminta kunci motor untuk di gunakan menyelamatkan Bellova, dan tanpa bertanya lagi, teman nya itu memberikan langsung.


Abraham memasukkan ponsel nya ke saku baju setelah melihat arah kemana lokasi Bellova.


“Pak Abraham, cepat… mereka sudah dekat… aku tidak bisa berlari lagi…” ucap Bellova.


“Apa tidak ada tempat di sana?” tanya nya, dengan kecepatan motor maksimal.


“Tidak ada, saya tidak bisa melihat-lihat nya, karena jarak mereka sudah sangat dekat…”

__ADS_1


“Kau berlari ke arah jalan raya, cari tempat yang ramai…” ucap Abraham, berbicara mengarah pada saku baju nya.


Bellova terus berlari, mencari tempat seperti arahan majikan nya, dan Abraham juga terus berusaha secepat nya untuk bisa menolong Bellova.


__ADS_2