
Monik yang masih berdiri merasa canggung, tapi tidak dengan Adley yang sesekali melirik nya.
“Duduk lah di situ, apa tidak capek berdiri terus?” suruh nya walaupun ketus.
“Iya, terima kasih ya pak Adley.” Monik melihat kursi kosong dekat dengan penjara yang ada tahanan nya.
“Ssstt…ssstt..” goda tahanan melihat Monik yang duduk di samping sel nya.
Monik diam mengabaikan, tidak perduli.
Suara-suara kecil itu terus berlanjut, membuat nya perlahan merasa risih.
Plak…
Adley menghentakkan buku besar yang di pegang nya ke atas meja. Semua melihat nya termasuk Monik dan tahanan yang menggoda nya.
Adley berdiri, membawa pentungan yang terbuat dari besi, dia berjalan mendekati sel yang berisi tahanan yang menggoda Monik.
Prang..prang..prang..
Tongkat besi itu di pukul nya keras dari luar sel. Suara yang memekakan telinga, bahkan Monik menutup telinga nya.
“Tidak tahu diri, sudah dalam penjara pun masih bikin ulah.” Ucap Adley dengan suara keras.
Tidak ada yang berani bersuara lagi, semua nya takut menundukkan wajah.
Setelah berteriak seperti itu, dia menatap Monik yang duduk, wanita itu tersenyum pada nya, walaupun di abaikan.
__ADS_1
“Pak Adley, kenapa tidak mau mencoba masakan ku, enak loh. Semua teman-teman nya menyukai.” Monik mencoba mengajak nya mengobrol sambil menunggu Ridwan.
Orang yang di bawa nya pun sudah kembali bekerja setelah membagikan pesanan makanan, tinggal Monik menunggu Ridwan, mungkin dia ingin bertemu dan berbicara dengan nya.
“Terima kasih, tapi aku tidak usah.” Jawab nya bersikap cuek.
“Oh iya, pak Abraham kan di luar, aku juga sudah membawa pesanan nya, tidak mungkin di buangkan? Lagi pula juga semua di sini sudah mendapatkan bagiannya, jadi… kalau pak Adley mau, ini buat kamu saja.” Monik mengeluarkan makanan yang seharus nya untuk Abraham tapi di berikan pada Adley.
Adley menatap makanan itu, Monik berharap agar makanan itu di ambil.
“Tapi, kalau anda tidak mau juga tidak apa-apa sih, saya tidak akan memaksa nya.” Monik perlahan menarik makanan nya.
Adley mendekati Monik dan mengambil makanan dari tangannya.
“Aku akan makan, terima kasih.” Ucap nya memegang makanan yang di bungkus stereofom putih dengan tangan kanan nya.
“Kalau anda nanti menyukai nya, anda bisa memesan pada ku juga seperti yang lain nya.” Monik menawarkan pada Adley kalau dia tertarik.
Adley hanya menjawab dengan menganggukkan kepala dan meletakkan makan siang nya di atas meja.
Tidak ada obrolan lagi di antara mereka, Monik melihat orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing, pokok nya dia tidak berpusat pandangan pada Adley, malah sebalik nya, diam-diam Adley yang mencuri
pandang melihat wanita itu.
“Apa kau tidak sibuk?” tanya Adley mencoba mengajak ngobrol, daripada hanya diam saja.
“Tidak terlalu sih, lagipula aku punya beberapa karyawan yang bisa melakukan nya. Oh ya, kalau anda tidak keberatan, anda bisa kok datang ke restaurant ku, memang kecil sih, tapi di jamin makanan nya enak dan
__ADS_1
bersih, karena itu yang menjadi prioritas kami.” Jawab nya sambil menawarkan restaurant nya.
“Di mana?”
“Di jalan XXX, nama nya ‘My Cooking’.” Jawab nya semangat.
Adley menganggukkan kepala nya lagi.
“Oke, kalau aku ada waktu akan sempatkan kesana.” Balas nya dengan suara pelan dan ramah.
Ridwan datang bersamaan dengan rekan nya, dan mereka langsung melihat Monik bersama Adley.
“Monik, kamu sudah datang?” tanya Ridwan menatap nya.
“Iya, makanan pesanan kalian ada di sana.” Tunjuk nya pada meja yang ada beberapa kotak makanan.
Ridwan melihat arah yang di tunjuk.
“Terima kasih ya, kamu tidak bosan kan menunggu di sini?” tanya nya mengintip bekal makanan nya.
Monik menggelengkan kepala, “ Tidak, ada pak Adley yang menemaniku mengobrol.” Jawab Monik melirik Adley.
Ridwan melihat Adley yang mengabaikan obrolan mereka, sebenar nya dia dengar tapi tidak perduli.
“Mengobrol? Seperti nya hubungan kalian sudah akrab ya.” ledek Ridwann melirik Adley.
Adley tidak berespon apapun, tetap hanya diam.
__ADS_1