KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 58


__ADS_3

“Apa kau percaya dengan pengakuan orang itu Bram?” tanya Adley.


“Entah lah. Aku merasa itu tidak mungkin, buat apa mereka mencuri rumah yang tidak terlalu besar? Dan kau juga sudah bilang, kalau sudah


lama tidak ada ancaman dari kelompok itu, tapi kenapa?” tanya Abraham pada Adley, antara percaya dan tidak percaya.


“Apa mungkin selama ini kita tidak tahu, karena cara mereka yang halus, dan bisa saja kan Deadly Poison mengalami kebangkrutan keuangan? Jadi karena harus bayar anggota nya, dia harus menugaskan anak buah nya untuk… mencuri..?” tebak Adley, membuat Abraham semakin tidak percaya.


“Tidak, itu tidak mungkin.” Abraham menggelengkan kepala nya.


“Tadi dia mengucapkan nama Lucifer… terus terang saja, aku pernah mendengar nama itu sewaktu kecil, dan bukan sekali dua kali aku


mendengar nya, sudah beberapa kali. Apa….” Adley melihat Abraham.


“Apa kau berpikir kalau Lucifer yang di maksud itu adalah… papa kita?” tanya Abraham, seperti tahu apa yang ada di dalam pikiran Adley.


Adley mengangguk kan kepala nya.


“Iya, papa kita kan sering di panggil ‘tuan Lucifer’, tapi ada juga yang memanggil nya ‘tuan Adam’. Aku sih berharap kalau ‘Lucifer’ yang mereka maksud itu bukan papa kita.” Adley tidak ingin membayangkan lebih jauh lagi, takut dengan kenyataan yang sebenar nya.


“Dari dulu, sifat dan karakter papa memang beda dengan orang seusia nya. Waktu kecil dia selalu menghajar orang yang mencurigakan di sekitar keluarga apa lagi di dekat Arshinta, tapi…


“Waktu itu, ketika papa mu datang menyelamatkan kami ketika penculikan itu, dengan beringas nya papa mu menebas tangan-tangan dari anak buah Shadow, sebelum teman-teman nya membawa kami pergi ke rumah sakit. Dan…. Dan… sekarang aku jadi penasaran, siapa mereka yang datang membantu papa mu?” Adley berhenti bicara. Memegang bahu Abraham.


“Abraham, apa kau tidak ingin berbicara dengan papa mu dulu? Siapa tahu ada informasi dari papa mu..” Adley menyarankan Abraham untuk


berbicara dengan papa nya. Untuk bisa mengantisipasi.


*****


“Bodoh!!... kenapa mereka bisa tertangkap?? Apa kalian ingin membunuh ku?” teriak seorang pria dengan kasar.


“Maafkan kami bos, kami tidak tahu, kalau wanita itu menghubungi seseorang. Kami pikir karena dia hanya seorang wanita…


“Dan sekarang kalian lihat kan akibat nya?? Bren***k…. bunuh diri ini nama nya!” orang yang di panggil bos itu marah, memukul meja yang ada di depan nya.


“Kalau mereka tahu bagaimana? Bisa habis aku..” gumam nya.


*****


Abraham merasa tidak enak di dalam kantor nya, dengan motor nya dia pergi meninggalkan kantor polisi. Pikiran nya masih di nama ‘Lucifer’.


“Aku mau keluar dulu.” Ucap nya pada Adley.


“Kau mau ke mana?” tanya Adley,yang tidak biasa nya pria itu keluar kalau tidak ada hubungan dengan pekerjaan.

__ADS_1


“Aku mau cari udara, pengap..” jawab Abraham ketus.


Abraham terus berjalan, mengabaikan pandangan orang-orang yang menatap wajah nya dengan terpesona.


Memakai helm dan menyalakan motor gede nya.


Bbbrruumm…..


Abraham melajukan motor nya menuju tempat Arshinta, yaitu sekolah yang di bangun adik perempuan nya.


“Kenapa aku ada di sini? Kan tadi nya gak ada niat, malah kebawa ke sini… ya sudah lah… terlanjur..” ucap Abraham melepas helm nya.


Beberapa siswa melihat Abraham berjalan, mereka tersenyum dan melirik pria tampan itu.


“Siang pak, apa bapak guru baru di sini?”


“Apa bapak guru olahraga ya pak?”


“Pak, sudah punya pacar belum? Aku masih single loh..”


Begitulah celoteh siswa-siswa yang berpapasan dengan Abraham, dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, terus berjalan mencari ruangan Arshinta.


“Om Abam….” Teriak boocah kecil berlari ke arah nya.


Abraham melihat, dan tersenyum setelah melihat anak itu adalah Rakha.


“Iya om, Akha sudah sekolah di sini. Om mau ke mana?” tanya Akha, memeluk Abraham.


“Mau ke tempat kakak Shinta.”


“Akha mau ikut ya..”


“Tapi Akha kan harus sekolah..”


“Udah selesai kok, boleh ya om…” bujuk Akha berharap.


“Ya udah, ayo…” Abraham melepas Rakha dan menggandeng nya berjalan bersama ke ruangan Arshinta.


Terlihat seperti bapak dan anak.


Tok…Tok…Tok..


Abraham mengetuk pintu.


Arshinta melihat nya, membalas dengan tersenyum, melambaikan tangan nya, sebagai kode agar kakak nya masuk.

__ADS_1


“Kakak Shinta…” Rakha berlari menghampiri Arshinta, dia dan Abraham sudah masuk ke dalam ruangan.


“Akha sudah selesai kelas nya?” tanya nya memeluk anak itu.


“Sudah.. tadi ketemu sama om Abam..” ucap Rakha menunjuk Abraham yang berdiri di hadapan nya.


Arshinta melihat kakak nya seperti kebingungan.


“Kak Abraham, ada apa? Tumben datang ke sini?” tanya Arshinta.


“Hhhemm… kakak lagi bingung banget nih..” ucap Abraham duduk menyandarkan kepala nya di sofa.


Arshinta menggendong Rakha dan berjalan ikut duduk bersama Abraham.


“Ada apa sih kak? Apa ada masalah dengan pekerjaan nya?” tanya Arshinta, duduk memangku Rakha.


“Shinta, apa kamu ingat dengan nama Lucifer?” tanya Abraham.


Arsinta mengernyitkan dahi nya.


“Tentu saja aku pernah dengar. Kan papa kita sering di panggil dengan sebutan itu. si ‘tuan Lucifer’.” Jawab Arshinta cepat, tanpa curiga.


“Kemarin Bellova hampir di pukul oleh beberapa penjahat, mereka ketahuan mencuri, dan gadis itu sempat mengambil gambar mereka. Terus mengejar nya, untung nya ada seseorang yang berhasil menyelematkan nya, dan sudah di bawa ke kantor polisi. Dan mereka mengatakan kalau Lucifer yang


menyuruh mereka melakukan pencurian itu. Yang ada dalam pikiran ku saat mendengar nama itu, adalah papa kita….


“Dan Kak Abraham berpikir kalau papa kita benaran yang menyuruh nya? Apa kakak pikir papa kita kekurangan uang?” ledek Arshinta


memotong penjelasan Abraham.


“Bukan hanya itu saja, aku berpikir kalau papa kita pernah terlibat dengan dunia mafia, dan…


“Gini aja deh kak, kita ke rumah dan langsung tanyakan pada Papa.” Ajak Arshinta.


“Tapi, apa menurut mu papa kita akan marah atau tersinggung, kalau aku bertanya seperti itu?” tanya Abraham tagu.


“Aku yakin tidak kok, dan aku  juga percaya kalau papa kita bukan orang jahat.” Arshinta membela papa nya dengan yakin.


“Waktu kita masih kecil, papa sering kan memukul orang, dan kau ingat tidak, kata Adley, papa sempat menebas tangan anak buah si penculik kalian itu? dan tentang penganiayaan pada paman dan bibi nya kak Ina waktu di


Singapura. Aku merasa kalau papa menyembunyikan sesuatu dari kita.” Ucap


Abraham berpikir, Arshinta juga tidak bisa memungkiri aksi kejam papa nya.


“Aku masih bisa menerima perbuatan papa, karena itu di lakukan nya untuk membela anak dan keluarga nya, dan wajar bagi ku.” Ucap

__ADS_1


Arshinta, mengusap rambut Rakha.


__ADS_2