
Abraham bangun pagi untuk siap-siap berangkat, sedikit malas tapi karena banyak kasus, membuat nya harus semangat bekerja. Dan Bellova juga sibuk membuatkan sarapan pagi untuk majikan nya. Setiap pagi, sarapan Abraham seperti ke nasi goreng, mie goreng, gorengan, nasi dan ayam goreng, pokok nya
yang di goreng-goreng. Untuk menu malam, lebih suka rendang, dan santan, harus ada ayam.
“Selamat pagi pak Abraham.” Sapa Bellova, melihat Abraham berjalan di anak tangga.
“Mmm…” jawab sekadar nya.
“Saya sudah buatkan nasi ayam goreng.” Ucap Bellova tersenyum ramah.
“Terima kasih.” Abraham menarik kursi untuk duduk.
“Kau juga sarapan saja, seperti biasa.” Suruh Abraham.
Bellova pun langsung duduk, tidak jauh dari majikan nya.
“Kamu jadi besok berangkat nya?” tanya Abraham sambil menyendok kan makanan nya.
“Jadi pak. Besok pagi saya berangkat nya. Saya sudah pesan tiket melalui online tadi malam.” Jawab Bellova.
Abraham mengangguk kan kepala nya.
Dia mengeluarkan amplop berwarna cokelat seukuran uang kertas, dan tebal.
“Ini ambil,” ucap nya memberikan amplop tersebut. Meletak kan nya di atas meja.
“Ini apa pak?” Bellova mengambil amplop, masih belum tahu isi di dalam nya.
“Bom.”
“Apa?” saking terkejut nya, amplop di lempar ke lantai.
“Hhmm.. bodoh banget sih, ya mana mungkin kan aku kasih kamu bom.” Ucap Abraham menghela napas.
“Jadi itu apa pak Abraham?” Bellova melihat amplop, belum di ambil.
“Ambil dan lihat saja sana.” Suruh nya ketus.
Dengan pelan-pelan akhir nya di ambil, di pencet-pencet, di cium dan di buka.
“Hhhhhhaaahhh…. Ya ampun pak Abraham, ini uang nya banyak banget. Untuk siapa ini pak?” Bellova terkejut melihat jumlah uang yang ada di dalam amplop, saking terkejut nya, mulut terbuka lebar.
“Ambil saja, anggap saja itu bonus untuk mu, dan keluarga mu.” Jawab Abraham, suara nya kembali pelan dan lembut.
“Tapi ini banyak sekali pak, gaji dari bapak saja saya sudah banyak, bapak juga setiap bulan selalu kasih saya bonus, di tambah lagi ponsel
ini….
“Sudah ya.. ambil saja. Jangan sampai aku mengulangi perkataan ku lagi.” tegas Abraham.
__ADS_1
“Terima kasih pak Abraham, semoga bapak panjang umur, murah rejeki, dan dapat calon pendamping yang baik, sayang dan sesuai untuk pak Abraham.” Bellova mengucapkan dengan tulus dan ikhlas.
“Ucapan mu seperti aku sedang berulang tahun saja.” Ucap nya pelan.
Bellova menutup amplop nya lagi, menyimpan nya dengan baik dan hati-hati. Lalu memakan makanan nya lagi.
“Aku harap kamu bisa kembali lagi kesini, itupun kalau kamu masih butuh kerjaan. Tapi, jangan datang karena keterpaksaan juga.” Ucap
Abraham, berharap namun cuek.
“Iya pak, tapi bapak nya jangan terlalu bergarap ya, karena kalau saya sudah menikah, saya tidak datang lagi, saya akan tinggal di kampung.” Jawab Bellova.
“Perempuan ini, terkadang kalau berbicara seperti menyindir loh, padahal nada nya pelan dan tenang.” Gumam abraham.
“Besok aku akan mengantar mu ke terminal.” Ucap nya sebelum berangkat.
“Tidak usah pak, nanti bapak terlambat bekerja.” Tolak Bellova pelan.
“Jangan menolak, anggap saja untuk yang terakhir kali. Oh ya, nanti kunci nya jangan di bawa, letak kan di dalam laci lemari.” Abraham
mengingat kan Bellova.
“Siap pak, hehehhe..” ucap nya dengan semangat, memberi hormat.
Abraham menggelengkan kepala nya.
**********
siap-siapa bekerja setelah berganti shif.
Sebuah mobil berwarna pink baru saja parkir di depan kantor, dan gadis cantik yang masih muda turun dari mobil itu. wanita itu adalah
Monika, dia datang dengan membawa bungkusan berisi makanan.
Ridwan yang lebih dulu melihat Monik.
“Pak Adley, fans nya pak Abraham sudah datang tuh.” Ucap Ridwan memberi kode.
Adley yang tidak jauh dari Ridwan melihat Monik, yang ternyata sudah berjalan menuju nya. Terlihat wajah Adley berdecak tidak suka.
“Hai, selamat pagi, aku…
“Pak Abraham nya belum tiba, sebentar lagi. sebaik nya anda…
“Aku bukan mau bertemu dengan Pak Abraham kok, aku mau bertemu dengan kamu.” Ucap Monik tersenyum ramah.
Adley dan Ridwan terkejut dengan ucapan Monik.
“Kamu sudah sarapan belum? Ini aku buatkan makanan untuk sarapan kamu.” Dia menyodorkan makanan dengan di bungkus steroform putih.
__ADS_1
Adley melihat bungkusan itu.
“Kenapa?” tanya Adley sinis.
“Maksud nya?” Monika tidak mengerti.
“Kenapa kamu mau memberikan nya untuk ku?” Adley mempertegas pertanyaan nya.
“Kenapa ya, aku juga bingung, di rumah aku hanya terpikir untuk menyiapkan makanan untuk mu.” Jawab Monik, sedikit gugup untuk menjawab.
“Bawa pulang saja, aku…
“Enggak mau, pokok nya kau harus ambil makanan ini. Aku sudah bangun pagi-pagi loh untuk siapin sarapan buat kamu…
“Aku kan tidak menyuruh mu untuk melakukan nya. Ada-ada saja kamu ini. Cepat bawa dan pulang. Pekerjaan ku masih banyak.” Suruh Adley dengan tegas.
Wajah Monik murung, semua orang melihat mereka berdua.
Adley pergi mengecek pekerjaan nya, mengabaikan Monik yang masih berdiri di depan nya dengan menggenggam makanan di tangan nya.
Ridwan, tidak tahu apa-apa di lihat Monik, akhir nya Ridwan pergi mencari kesibukan sendiri.
Monik meletak kan makanan yang sudah di buat nya di atas meja, tempat Adley bekerja. Setelah itu dia pergi keluar dengan langkah pelan dan lemah. Semua merasa kasihan melihat Monik yang di abaikan.
Adley yang melihat kepergian Monik di balik jendela, kembali keruangan nya.
“Pak Adley, kasihan banget tadi nona itu. Wajah nya hampir menangis tadi.” Ucap Ridwan.
Adley hanya diam mengabaikan nya.
Di lihat ada bungkusan yang di bawa Monik di atas meja, dan di buka.
“Wah… seperti nya enak tuh. Kalau nona itu yang membuat nya, berarti dia bisa memasak. Saya pasti akan sangat senang sekali kalau di bawain makanan seperti ini.” Ucap Ridwan, memuji masakan buatan monika.
“Kamu mau?” Adley menyodorkan makanan pada Ridwan yang berdiri di samping nya.
“Kalau di kasih sih pasti mau.” Jawab Ridwan cengengesan.
“Ya udah nih, buat kamu saja.” Adley memberikan makanan itu pada Ridwan.
“Loh pak, kan ini sudah di buatin untuk anda…
“Udah ambil saja, aku sudah sarapan tadi.” Makanan itu di dorong pada Ridwan, hingga tangan nya memegang makanan itu, lalu pergi
meninggalkan Ridwan.
Rekan nya merasa tidak enak hati.
********
__ADS_1
“Ya ampun anak muda ini, sudah di bilangin jangan coba-coba menyinggung Shadow, tapi malah membuat nya marah. Apa dia pikir dia bisa melawan orang itu? kalau kayak gini kan aku dan yang lain nya akan kena masalah.” Ucap Irwan Prasetyo panik.