
“Iya pak. Anda sangat baik, walaupun wajah anda yang galak itu, tapi hati anda baik dan lembut, sama seperti tuan besar, papa anda.” Jawab Bellova tersenyum.
Ucapan Bellova entah kenapa membuat Abraham seperti salah mengartikan nya. Masih berpikir keras.
********
Sepanjang malam Abraham tidak bisa tidur, dia hanya duduk di dekat jendela sambil berpikir, antara cara untuk menangkap Shadow, dan
kepulangan Bellova ke kampung halaman nya.
Tidak ada aktifitas yang di lakukan selain duduk diam sambil melipat tangan di atas paha nya. Walaupun tubuh nya bersandar di sofa, tidak
membuat nya mengantuk.
Jam 4 pagi sudah terdengar suara kesibukan dari pelayan nya.
“Hhhmmm… dia sudah bangun? Seperti nya dia sangat bersemangat sekali.” Ucap Abraham pelan.
Sebenar nya Abraham baru tahu saja kalau Bellova bangun di jam 4 pagi, karena biasa nya gadis itu memang bangun di jam segitu dan Abraham bangun jam 7 pagi, itupun terkadang di bangunkan Bellova agar tidak telat bekerja.
Satu jam kemudian tercium bau masakan, bau yang enak membuat Abraham ingin segera memakan nya. Sebelum itu, dia harus membersihkan diri, yaitu mandi pagi.
Jam 6 pagi, semua sudah selesai di persiapkan, dan Abraham juga sudah duduk di kursi meja makan. Bellova mengangkat satu piring untuk di isi makanan Abraham.
Mata pria itu tertuju pada satu tas besar yang berisi pakaian. Bukan koper, melainkan tas yang dari bahan kain tipis namun besar, yang harus di jinjing dengan tangan atau bahu, lalu ada bungkusan lain nya, mainan-mainan dan oleh-oleh untuk keluarga nya.
“Silahkan di makan pak sarapan nya.” Ucap Bellova tersenyum, membuat Abraham tersadar pada manusia yang ada di hadapan nya.
Abraham pun mulai menyendok kan makanan ke dalam mulut nya, tapi sesekali dia melirik wanita itu.
Acara makan pagi pun berlangsung begitu saja tanpa kata.
Hanya ada terdengar suara sendok dan piring. Abraham juga sudah mengatakan semua yang ingin di katakan dan di tanyakan, apalagi dia bukan tipe orang yang banyak bicara, sama seperti papa nya, tuan Lucifer.
Jam 7 kurang 20 menit, mereka pun bersiap-siap berangkat.
Mobil yang sudah di panaskan pun sudah bisa di bawa.
Abraham yang melihat Bellova bersusah payah mengangkat tas dan benda-benda lain nya, segera ke sana dan membantu nya membawa tas besar itu.
“Terima kasih pak Abraham.” Ucap nya tersenyum ramah.
Tidak ada jawaban dari mulut pria itu, tapi dia bisa dengar apa yang di katakan wanita itu pada nya.
__ADS_1
Bellova tidak tersinggung, karena sudah biasa dengan tingkah majikan nya yang untuk beberapa jam lagi saja.
Setelah semua nya sudah masuk, Abraham segera masuk ke mobil, duduk di kursi kemudi.
“Kamu ngapain duduk di belakang?” tanya Abraham yang melihat Bellova membuka pintu belakang.
“Maaf pak.” Ucap Bellova, pindah ke depan, di samping Abraham.
“Kenapa suasana nya tidak enak ya?” gumam Bellova, merasa mencekam.
Di lirik nya wajah Abraham yang terlihat ketus dan seperti menahan amarah.
“Kau kan biasa nya duduk di samping ku, kenapa malah tadi mau duduk di belakang? Dan kau juga tahu, kalau aku tidak suka duduk sendirian di depan, seakan aku adalah supir.” Ucap Abraham, berusaha tenang tapi ketus.
“Ma… maafkan saya pak. Saya lupa.” Jawab Bellova.
Abraham diam lagi, dia menyalakan mobil dan mereka pun berangkat.
“Kunci nya sudah kau tinggalkan?” tanya Abraham.
“Sudah pak, di laci lemari.” Jawab Bellova.
Beberapa menit kemudian mereka saling diam.
“Pak Abraham, saya mau mengucapkan terima kasih, karena selama ini bapak sudah baik sama saya. Bapak mau menerima saya bekerja padahal saya hanya lulusan SD saja. Saya…
“Aku bosan mendengar nya, dan tidak suka juga. Untung saja kau bisa bekerja dengan baik, masakan mu juga enak, jadi aku tidak menyesal
menerima mu bekerja di rumah ku.” Ucap Abraham, memuji kinerja kerja Bellova.
“Kau sangat rajin, dan aku suka.” Ucap nya lagi.
Abraham termasuk pria yang tidak gampang memberi pujian pada orang lain.
“Terima kasih atas pujian nya pak.” Balas Bellova, tersenyum ramah.
“Kalau bapak ada waktu, bapak bisa datang kok ke kampung saya, saya akan menyambut anda dengan baik, dan memasak makanan yang enak untuk anda. Pak Abraham tahu kan alamat kampung saya?” tanya Bellova melihat nya.
“Kalaupun tahu, untuk apa aku kesana? Pekerjaan ku di sini juga sangat banyak.” Ucap nya jual mahal.
Bellova tidak tersinggung sama sekali, karena dia tahu sifat majikan nya itu. justru dia tersenyum melihat nya.
“Nanti, kalau kami menikah, bapak harus…
__ADS_1
“Kan sudah aku bilang, aku tidak sempat untuk datang ke kampung mu.” Ucap Abraham yang seakan tahu apa yang akan di ucapkan wanita itu.
Bellova terdiam, tidak melanjutkan ucapan nya lagi.
************
“Rakha… ayo bangun sayang, nanti kita terlambat loh.” Arshinta, membangunkan Rakha yang masih tertidur.
Pria kecil itu bergerak-gerak di ranjang nya, lalu bangun dengan posisi duduk. Dia mengucek-kucek mata nya.
Arshinta mengeluarkan pakaian anak itu, sambil berjalan ke arah nya.
“Ayo sayang, mandi dulu.” Ajak Arshinta yang sudah ada di depan Rakha.
Rakha mengulurkan kedua tangan nya untuk di gendong Arshinta, dan dia tidak keberatan dengan tingkah lucu anak itu. dan dia pun
menggendong membawa nya ke kamar mandi untuk di mandikan.
Rakha yang tidak bisa tenang saat di mandikan, membuat Arshinta kelabakan, anak itu suka bermain air dan menyirami Arshinta.
Tok…Tok…Tok…
“Rakha, seperti nya ada yang mengetuk pintu, kakak keluar dulu ya, kamu di sini saja.” Ucap Arshinta yang mendengar suara ketukan pintu.
Anak itu mengangguk kan kepala nya.
Arshinta meninggalkan Rakha dan pergi mengetuk pintu.
Pintu yang masih di ketuk itu pun terdengar Arshinta. Hingga akhir nya dia sudah berada di depan pintu. Dia tidak langsung membuka nya, di intip nya dulu dari lubang tersembunyi.
Arshinta langsung membuka pintu saat tahu siapa di depan pintu.
“Satmaka?” tanya nya, seakan tidak percaya kalau itu adalah Satmaka.
Satmaka, tersenyum pada nya, dan spontan memeluk wanita itu.
Arshinta terkejut, mulut nya terbuka lebar, dan tidak sadar kalau Satmaka sudah memeluk nya.
“Kau sudah pulang?” tanya Arshinta, mengusap punggung Satmaka.
Satmaka hanya mengangguk kan kepala nya, masih memeluk Shinta.
“Papa…” Rakha berlari melihat papa nya yang sudah pulang.
__ADS_1
Dalam keadaan telanjang, anak itu segera memeluk kaki Satmaka.
Setelah sadar, Satmaka melepas pelukan, dia melihat Rakha yang ada di bawah masih memeluk kaki nya, lalu dia menggendong anak itu, membawa nya dalam pelukan nya.