
Abraham berusaha bangun, mengubah posisi menjadi duduk, Bellova masih berbaring, dan mereka masih dalam satu selimut.
Abraham melihat selimut yang di pakai terhubung dengan isteri nya.
“Perubahan sikap, yang bagaimana maksud mu?” tanya Abraham.
Bellova tidak menjawab, masih ragu. Kedua bola mata nya berputar ke kiri dan ke kanan, seperti sedang berpikir.
“Apa kau mau duduk?”
Awal nya Bellova diam, lalu menganggukkan kepala nya. Abraham membantu nya, untuk bisa duduk dan bersandar di ranjang, sama seperti nya.
“Apa… apa aku melakukan kesalahan? Atau.. ada yang tidak kau sukai dari… ku?” mungkin karena sudah terlalu lama dan penasaran, Bellova memberanikan bertanya seperti itu.
Abraham melihat Bellova, yang masih belum berani menatap nya.
“Tidak, kau tidak melakukan kesalahan-
__ADS_1
“Lalu kenapa kau menjauh dari ku? Atau apa itu hanya perasaan ku saja?” Bellova bertanya lagi, masih tidak melihat Abraham.
Abraham yang terdiam.
“Dengan diam nya Abraham, membuat ku banyak prasangka dan menduga-duga, maksud dari perlakukan anda.”
“Anda? Kenapa kau-
Tes…tes…tes…
Bellova menangis tanpa suara.
“Tidak, jangan katakan seperti itu-
“Lalu kenapa anda menghindariku? Kenapa anda membuat jarak diantara kita? Diam nya anda, membuat ku… membuat ku sakit, aku…aku benar-benar tidak nyaman.” Ucap Bellova, suara tangisan nya terdengar walaupun sudah berusaha untuk menahan nya.
“Hiks..Hiks..Hiks… aku kan sudah bilang, jangan melakukan ini dengan terpaksa, jangan menolongku karena kasihan, aku tidak mau di kasihani seperti itu.”
__ADS_1
Abraham hanya diam, membiarkan isteri nya itu berbicara sepuas nya.
Tanpa mereka ketahui, Eva, Ina dan Arshinta berada di luar, di depan pintu, menguping apa yang sedang Abraham dan Bellova bicarakan. Adam dan Satmaka hanya menunggu di belakang tiga wanita itu.
“Aku minta maaf.” Ucap Abraham dengan tulus.
“Tidak! bukan anda yang harus mengucapkan kata itu. Aku… aku yang harus nya minta maaf pada anda. Aku minta maaf karena menjadi beban dan benalu bagi anda. Harus nya aku lebih tahu diri lagi, harus nya aku tidak boleh terlalu berharap dan menikmati semua ini.” Bellova mengusap air mata yang sudah jatuh di pipi nya.
“Ketika anda menyuruh ku untuk mengantarkan makan siang anda, aku senang walaupun aku gugup, setiap hari, aku selalu berpikir mencari ide untuk memasakkan menu makanan baru yang enak kesukaan anda, hhiks..Hiiks..Hikks..” mengusap pipi nya lagi. Wanita itu mengeluarkan uneg-uneg nya, walau dengan nafas tersengal, dan Abraham saat ini menjadi pendengar yang baik dulu. Selama Bellova berbicra pun, tidak berani melihat Abraham.
“Aku sangat senang, apalagi anda menghabiskan makanan nya, aku… aku benar-benar sangat senang, sampai aku lupa dengan kekurangan ku, aku pikir aku sangat bahagia.”
“Ternyata hanya beberapa saat saja. Dan ketika anda melarang ku datang untuk mengantar makan siang anda, aku pikir itu hanya satu hari saja, tapi ternyata… anda juga tidak menerima telepon ku, anda tidak tidur di sini
bersama ku, tapi malah tidur di sofa seperti orang yang menumpang dirumah ini, padahal kan… padahal kan akulah yang menumpang di sini, hhikks…hhiikss..hhikss…” suara tangisan Bellova semakin jelas, sembari
memainkan jari tangan karena gugup.
__ADS_1
Arshinta di depan pintu mengusap pipi nya karena ikut terhanyut kesedihan kakak ipar nya yang sedang curhat.