
Tibalah hari besar dan penting untuk Abraham dan Bellova. Semuanya sibuk masing-masing. Berdandan, berpakaian dan memilih sepatu.
Tok…tok…tok..
“Menantu, kamu sudah siap?” Eva membuka pintu setelah mengetuknya.
Bellova berbalik melihat arah pintu, “Sudah ma.” Jawabnya dengan tersenyum.
Semua tamu sudah datang, baik dari pekerjaan Abraham, maupun keluarga besarnya, sangat ramai.
**********
“Lakukan tugasmu dengan baik, jangan sampai salah sasaran! Bunuh yang wanitanya saja, sebagai pasangan mempelai prianya.”
“Baik.”
Kelompok lain lagi juga sudah bersiap-siap mengambil langkah.
“Hancurkan saja semua, jangan sampai ada sisa. Letakkan bom dimana-mana.”
“Sudah kami sebarkan, dan sekarang tinggal menunggu waktu dari anda.”
Ada banyak musuh yang sedang mengincar Abraham dan keluarganya.
__ADS_1
Lucifer juga selalu mengamati, walau terlihat santai dan tenang, tapi dalam beberapa detik saja pandangannya bisa menyatu kesekitarnya. Sesekali memberi kode pada anak buahnya, Deadly Poison.
Setelah acara penting sudah selesai, mereka mengobrol santai sambil makan malam. Semua tamu undangan juga tampak bahagia. Mereka tidak curiga kalau bahaya sedang mengancam.
Tap..tap..tap..
Langkah beberapa pasang kaki baru saja memasuki ruangan. Lucifer dan Eva yang pertama kali melihat siapa yang datang dan menjadi pusat perhatian tamu di sana.
“Hallo keponakan ku yang tampan. Maafkan paman yang datangnya telat ya.” Revand dan keluarganya baru saja datang. Dia merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Abraham, yang berdiri tidak jauh di depannya.
Revand, dan Isabella, beserta kedua anaknya, Rafhael Malik Chirathivat, dan puterinya Alsava Nara Chirathivat.Mereka juga membawa Mahesha,kakek dari Abraham, Arshinta dan Ina dengan menggunakan kursi roda karena tidak kuat berjalan lagi, itu karena usianya yang sudah tua.
Abraham dan Revand sudah melepaskan pelukan. Sekarang mereka berganti-ganti memeluk keluarganya
“Lama sekali anda paman, hampir saja aku ingin memberikan surat penangkapan atas alasan penipuan.”
Canda Abraham.
“Wah, jangan dong nak, paman mu ini pasti jadi sakit hati padamu. Oh ya, dimana menantuku itu?” Revand
melihat dan mencari pasangan Bellova, padahal wanita itu berdiri di samping Abraham.
“Selamat malam, say-
__ADS_1
“Bram, dimana isterimu? Kenapa tidak terlihat?” tanya Revand melakukan keisengan.
“Saya, saya ada di-
“Aku sepertinya mendengar suaranya, tapi… tapi dimana wujudnya?”masih menahan dan terus bersandiwara.
“Paman, kalau kau tidak bisa melihatnya, aku akan ganti bola mata paman dengan mata kucing.” Sindir Abraham memberi kode, tidak bicara serius.
“Hahahahahha…kau sama sadisnya dengan papa mu.” Revand pun menyerah dan menghentikan sandiwaranya.
Dengan langsung, Revand langsung menatap Bellova, membuatnya gemetar ketakutan karena tatapan dan wajah paman Abraham itu terlihat lebih serius dan tajam.
“Apa kau menantuku?” tanyanya dengan nada serius.
“I..iya… paman.” Jawab nya gugup.
Bibir Revand tersenyum, “Santai saja, jangan gugup seperti itu, nanti papa mertuamu bisa menghajarku, disangkanya aku melakukan kejahatan pada menantunya ini.”
“I..iya… paman.” Hanya itu yang bisa di ucapkan Bellova, masih gugup juga.
“Sudah kak, cukup bercandanya. Apa kau mau membuat menantuku gugup dan ketakutan?” Eva menyapanya.
“Tidak adikku, masa sih kakakmu yang tampan dan penuh kelembutan ini harus di takuti?”
__ADS_1
Eva pun memeluk Revand, Isabella dan papa nya. Kalau Lucifer, hanya berjabat tangan saja. Revand sudah memberi pelukan, tapi Lucifer selalu saja mendorong tubuhnya untuk melepas pelukan. Tapi iparnya itu bukannya berhenti, malah sengaja melakukan berulang-ulang, sehingga membuat Lucifer kesal. Tugas Eva dan Isabella lah yang menenangkan mereka berdua.