KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
LIMA UNTUK AWAL


__ADS_3

HAPPY READING, GUYS 📖


JANGAN LUPA VOTE⭐ DULU YA!


...×...


...÷...


Tubuhnya yang lentur, mengikuti alunan nada dan irama yang mengiringinya. Tapi Sea langsung menghentikan baletnya saat menatap pantulan tubuh Samudra dari kaca di depannya. Ia berbalik menghadap Samudra.


" Lo sejak kapan di sana? Ngintipin gue ya! " Tuding Sea.


" Badan rata semua, apa yang harus gue intipin coba! " Tukas Samudra tak tanggung-tanggung.


Sontak Sea menatap ke buah dadanya, lalu menyilangkan tangannya didada dan menatap galak Samudra.


" Eh, Gini-gini banyak yang bilang Body gue kayak gitar spanyol!  " Sungut Sea.


" Gitar mainan mungkin. " Sahut Samudra semakin membuat Sea kesal.


" Sialan, emang! Lo kesini mau ngajarin gue atau ngehina gue? " Ketusnya.


" Menurut lo, ngapain gue bawa buku banyak kalau harus ngehina lo doang? "


Dari awal ia kenal Samudra, memang ia tidak pernah menang jika beradu agumen. Omongannya selalu bikin ia kicep seketika.


" Yaudah, duduk! Gue mau ganti baju dulu. " Suruh Sea masih dengan nada tidak bersahabat.


Samudra menatap bergantian sofa yang ada disana dan Sea.


" Gue duduk dibagian mana-nya? " Tanyanya dengan menyindir.


Sea mendengus sebal, lalu menyingkirkan selimut, bantal, dan guling yang selalu menemaninya jika tidur di ruang latihannya.


" Nih, udah! " Sungutnya lalu pergi ke kamar mandi.


Setelah sudah berganti baju rumahan, ia bergabung dengan Samudra yang sedang menulis.


Ia mengambil bukunya yang sudah dipersiapkan sedari tadi. Jika mengira hari Sabtu ia akan libur Les, itu salah! Karena Samudra malah menambah jam belajarnya, dari 2 jam jadi 3 jam.


" Mau belajar yang mana? " Tanya Sea.


" Lo ada tugas gak? "


" Ada, Fisika, Biologi, dan Bahasa Indonesia disuruh nulis surat lamaran kerja. " Jawab Atasya memaparkan.


" Trus ada yang udah lo kerjain? "


Sea tersenyum bangga, " Ada, dong. Kemarin malam nyontek Bahasa Indonesnia-nya Galaksi. "


" Dih-, Nyontek aja bangga! Bahasa indonesia lagi. " Nyinyir Samudra.


" Kok lo nyebelin, sih! " Kesal Sea, memang itu cowok dikasih hati malah ngelunjak!


Samudra bergidik tak peduli, " Kerjain PR-nya, kalau udah nanti kita masuk ke pembelajaran les hari ini. " Suruh Samudra.


Ingin sekali ia mencakar muka songong bin nyebelin Samudra, kalau gak inget sayang sama itu muka yang ganteng.


Duh! Kok malah muji-muji mukanya Samudra, sih!


" Jangan ngedumel mulu! " Sarkas Samudra.


Sea berdecak, lalu mendengus sebal sambil menatap kilat Samudra. Tapi sedetiknya ia memfokuskan dirinya mengerjakan PR.


Lebih cepat, lebih baik untuk tidak berlama-lama di samping Samudra!


Fokus Sea kembali buyar saat cemilan datang memenuhi meja, Apalagi piscoknya yang seolah melambai meminta dimakan. Setelah latihan perutnya terasa lapar, dengan cepat tangannya bergerak untuk mengambil satu piscok.


Satu aja gak bakal ngaruh sama diet, lah.


Plakk.


" Auwhh--, "


" Kerjain dulu tugasnya, baru makan! "


Sea semakin menatap sebal Samudra dan kembali fokus mengerjakan tugasnya.


" Ini gimana caranya? " Tanyanya sambil menunjuk soal nomor 5.


" Oh, Ini-- "


🐣


" Akhh-, Akhirnya. " Seru Sea sambil merebahkan tubuhnya di lantai.


Samudra yang melihat hanya terkekeh, lalu kembali melanjutkan mengoreksi tugas yang dikerjakan Sea.


Sea kembali bangun dari tidurnya, lalu menatap jam yang menempel di dinding dan sedetiknya langsung mengulum senyum.

__ADS_1


" Les hari ini udah kan, ya? " Tanya Sea yang dibalas anggukan kepala Samdura.


" Akhirnya sepuluh menit ke depan sampai hari senin gak ketemu lo. " Serunya Senang.


" Hem-, jangan sedih! Kan Seninya kita bisa ketemu lagi. "


Sea menatap sebal Samudra.


" Dih-, Gue gak ketemu lo adalah hal terindah di hidup gue. " Sungutnya.


Sea beralih menatap tas gitar yang tak jauh dari tempat Samudra.


" Mau kemana lo? Pakai bawa gitar. "


" Mau gebukin orang. " Ngasal Samudra.


" Ck! Lama-lama ngeselin lo! " Tukas Sea.


" Mau nyanyi di kafe. "


Mata Sea membulat penuh binar.


" Eh, ikut dong, oke dong? Mata gue butuh refreshing, nih. " pintanya sambil beranjak duduk di samping Samudra dengan menatap pria itu memohon.


Samudra mengrenyitkan dahinya menatap Sea yang tiba-tiba lunak.


" Ngapain ngikut? "


" Ya, pengen lihat aja gimana lo waktu di panggung. Mikirin pelajaran atau mikirin gue, gitu? "


Samudra langsung tersedak ludahnya sendiri, lalu menatap tak paham Sea yang malah tersenyum merekah menatapnya.


Enteng banget, itu mulut!


" Lo kan, harus latihan balet. " Kilah Samudra.


Sea menggeleng dengan cepa.


" Udah sering, pengen refreshing sekarang. Besok baru kerja keras lagi. "


Dengan keras Sea mencoba menahan tawanya, melihat keputus asaan terukir di wajah Samudra karena ia besikeras untuk ikut.


" Hem,- Tapi jangan ngerepotin gue! "


Sea tersenyum merekah lalu menyatukan jari telnjuk dan jempol kanannya mengartikan ' Oke '.


" Udah selesai, kan? " Tanyanya.


Samudra mengangguk lalu memberikan buku Sea kepada pemiliknya.


" Sekarang tungguin gue mandi dan siap-siap, di Ruang tamu. Ayok-, " Ajak Sea.


" Iya bentar, gue beresin buku gue dulu. "


Sea mengangguk mengiyakan, baru setelahnya keduanya pergi ke rumahnya.


" Bagaimana makan malamnya? Sudah dipersiapkan? " Tanya Sea kepada ART-nya yang sedang membersihkan Ruang tamu.


" Masih dipersiapkan, Nona. "


Sea mengangguk paham, " Bang Sean dimana? " Tanyanya.


" Tuan muda ada di Ruang kerja Tuan, Nona. " Balasnya.


" Yaudah, kamu lanjutin kerjanya. " Lalu ART-nya mulai pamit untuk pergi.


Samudra hanya bisa geleng-geleng, sedari tadi ia terlalu sibuk mengagumi Rumah besar dan mewah milik keluarga Sea. Tubuhnya langsung tersentak, tatkala Sea menggenggam jemarinya dan menuntunnya masuk lebih dalam.


" Tunggu disini, gue mau mandi dulu. " Suruh Sea.


" Eumh-, Gue mau numpang sholat maghrib. Boleh? "


" Oh, boleh lah. Ayo ikut gue, gue anterin ke mushola-nya. "


Samudra tersenyum memandang jemari mereka yang saling bertautan, rasanya sangat nyaman dan pas.


" Di sini, yaudah gue tinggal ke kamar dulu. Kalau butuh apa-apa lo bilang aja sama ART disini. " Setelah mendapat anggukan dari Samudra baru ia pergi ke kamarnya.


Setelah 10 menit mandi, lalu berganti pakaian. Sea tak lupa memoles wajahnya dengn make up tipis.


"Ck, Ck. Emang kalau orang cantik dibikin apapun tetep cantik. " Pujinya sambil menatap kagum dirinya dari pantulan cermin.


" Oke, sekarang waktunya pergi. " Serunya semangat lalu keluar dari kamar.


" Para pria tampan, tunggu tuan putrimu datang. "


🐣


" Widih-, Lemari es bawa cewek, nih. " Seru pria dengan rambut gondrongnya dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


" Mana? Mana? " Tanya pria cukup tampan  yang lain berbondong-bondong datang untuk melihat suatu keajaiban.


" Wiuww-, Guelis pisan ngalah-ngalahin artis tik-tak. " Seru pria lainnya memuji.


Samudra langsung mendelik tatkala melihat Sea yang terkekeh dengan, malu-malu? Astaga ia tidak ingin melihat kegenitan Sea.


" Eh, kenalin nama gue Reno. " Ujar Pria yang cukup tampan tadi dengan menjabat tangan. Sea menyambut jabatan tangan itu sambil menyebutkan namanya.


" Kalau gue Bagas. "


" Gue Matthew. "


" Halah Matthew-Matthew, kwetiau iya! " Tukas Bagas membuat yang lain tergelak.


" Namanya Riko kok, emang dia kalau ketemu cewek cantik suka ganjen. " Kompor Reno.


" Dih, lo juga, monkey! " Sungut Riko tak terima.


" Lo pacarnya Samudra, kan ya? " Tanya Bagas memilih mengabaikam dua temannya yanh bertengkar.


Sea menggeleng kuat, " Tipe aku bukan yang tukang nyinyir kok, Kak. Dia cuma guru les aku, meskipun aku gak mau punya guru les kang nyinyir juga. " Tukas Sea dengan menatap kilat Samudra yang tetap tenang.


" Eh? Guru les? Gue baru tau Samudra mau nerima murid lagi, selain Niken. " Ujar Reno membuat kerutan di dahi Sea semakin nampak.


Sea akan menanyakan ke Samudra tentang wanita bernama Niken, tapi dengan cepat Samudra memerintah untuk siap-siap.


Samudra menarik tangan Sea, menuntunnya menuju meja dekat  tembok dan yang terpenting ia bisa mengawasi dari tempatnya.


" Tunggu di sini, trus nanti lo pesen makanan apa kek, biar gak diusir. " Suruh Samudra yang diangguki Sea dengan senyum diimutkan.


Sedangkan di tempat teman Samudra yang lain, mereka menonton sikap manis yang tidak pernah diperlihatkan kepada mereka. Jadi bisa diartikan adalah momen langkah.


" Masa begitu namanya gak pacaran, sih? " Tanya Reno masih tidak yakin dan diangguki setuju yang lain.


" Tapi gue kayak pernah lihat Sea, tapi dimana ya? "


Spontan keduanya menatap penuh kepo Riko, membuat Riko semakin buntu untuk berfikir.


" Ck! Muka kalian pahit, malah bikin gue gak bisa nginget. " Sungutnya.


" Oh, Iya. Gue pernah lihat Sea di galeri ponsel Samudra kemarin. "


" Hah?! "


Setelah kepergian Samudra, Sea memakan salad buah pesanannya ke tujuhnya dengan sesekali kepalanya bergoyang mengikuti suara merdu Samudra diiringi alat musik lain.


" Apa gue perlu belajar vokal sama dia sekalian, ya? " Tanya pada diri sendiri.


" Gak, ah. Nanti kalau gue terkenal, gimana? " Selanjutnya ia langsung tergelak karena ucapannya sendiri.


Sea menoleh kepenjuru Kafe, banyak pasangan yang datang karena malam ini adalah waktunya para pasangan memadu kasih. Lalu ia mengerang kesal menatap sebal Samudra Karena menggagalkan misi cuci matanya.


Tapi tak lama, tatapannya berubah menjadi terkejut tatkala Samudra turun dari panggung dan menghampirinya.


" Udah jam 10 malam, ayo pulang. " Suruhnya.


Bisa ia dengar desahan kecewa kaum perempuan yang sedari tadi mengagumi Samudra.


" Emang lo udah selesai? " Tanya Sea.


" Belum, tapi gue anterin lo pulang dulu. "


Sea langsung menggeleng keras, " Nungguin lo sampai selesai aja gue pulangnya. " Tukasnya.


" Gak usah manja! Entar yang ada, gue yang dimarahin Sean karena ngajakin lo main sampai malam. "


Entah mengapa mendengar kata manja keluar dari mulut Samudra membuat hatinya sakit. Pria itu memang mengucapkannya dengan nada datar, tapi menurut pendengarannya seolah dia membentaknya. Matanya berkaca menatap Samudra, lalu tanpa bicara pergi ke kasir untuk membayar pesanannya.


Gue gak manja! Gue hanya pengen nemenin Samudra untuk ngedukung dia, sebagai ganti dia yang selalu ngajarin gue.


Samudra yang melihat langsung mengejar Sea yang sudah keluar dari Kafe, setelah sebelumnya pamit kepada temannya yang lain.


" Nih. " Ujarnya sambil menyodorkan helm Sea kepadanya.


Sea langsung menerima dan memakainya tanpa protes, lalu naik ke motor Samudra. Setelahnya motor melaju membelah ibu kota Jakarta yang masih ramai.


Tak lama motor berhenti di depan halaman Rumah Sea.


" Thank's. " Ucapnya lalu masuk ke dalam Rumah.


Samudra mengrenyitkan dahinya melihat sikap Sea yang seolah menjadi dingin dadakan, kayak tahu bulat yang digoreng dadakan. Tapi langsung menggidikan bahunya tak peduli dan memilih menjalankan motornya untuk kembali ke Kafe.


...©©©©©©©©©...


...Thank's For You Reading, Guys....


...Jangan Lupa Vote Dan Komen, biar Author Semakin Semangat Nuntasin Ceritanya!....


...See You🖐🏻...

__ADS_1


__ADS_2