
“Baiklah, kalau begitu aku tidak keberatan mencoba makanannya, atau anda mau aku membayar nya saja? Aku benar-benar tidak bisa menerima gratis terus.” Ucap Abraham.
“Jangan pak Abraham, aku senang kok bawain makanan untuk pak Abraham dan Ridwan.” Tolak Monik yang tidak ingin di bayar.
“Kata Ridwan kau punya restaurant, bagaimana kalau kami menjadi customer kau saja? Jadi kau tidak rugi?” tawar Abraham.
Monika sejenak berpikir.
“Kami bukan kasihan pada mu, hanya saja kalau makanan mu enak, pasti banyak yang suka dan memesan nya. Terus kalau sendainya ada yang minta kamu bawakan lagi untuk yang lain secara gratis? Apa kamu tidak rugi?
Kalau untuk satu orang saja mungkin kamu tidak masalah, karena bisa saja kan kau mengantarkan untuk pacar mu.” Ucap Abraham menjelaskan.
“Apa kalian pacaran?” tanya Abraham menunjuk Ridwan dan Monik.
Adley juga penasaran dengan jawaban Monik, dia melirik diam-diam.
Ridwan salah tingkah dan tidak menjawab, dia hanya tersenyum menggaruk kepala.
“Kalau kami cocok, kenapa tidak?” jawaban Monik yang membuat semua terkejut.
“Daripada mengejar orang yang tidak menghargai perasaan orang lain, lebih baik dengan orang yang membuat kita di hargai kan?” ucap nya lagi tenang dan tersenyum.
“Wah.. benar juga ya.” Abraham menganggukkan kepala nya.
“Kalau begitu, besok aku akan membawakan makanan untuk pak Abraham, kalau memang enak, dan banyak yang suka, aku sepakat dengan saran pak Abraham.” Jawab Monik senang.
***********
Tim Shadow gerah karena berita yang mereka ciptakan sudah redup dan bahkan berbanding terbalik dengan gossip itu. Beberapa anak buah nya juga sudah tertangkap.
Bossa berkumpul dengan Audrey dan semua anak buah nya.
Suasana nya mencekam dan tegang, pemimpin nya sedang marah dan emosi.
‘Santapan’ pun tidak dapat, karena pengawasan dan penjagaan ketat yang di lakukan Abraham, ruang gerak Shadow pun tidak bebas selama Abraham yang bertugas.
“Kenapa yang kalian kerjakan gagal? Kalian yang bodoh atau bagaimana?” tanya Bossa dengan tatapan sinis.
Anak buah nya saling melihat.
__ADS_1
“Audrey! Mana hasil pekerjaan mu? Sudah berapa minggu ini? Kalau kau tidak bisa mengerjakan nya, katakan saja, biar aku ganti orang untuk mengerjakan nya.” Tanya nya pada Audrey yang berdiri tidak jauh dari nya.
“Maafkan saya tuan, saya..
Ppprraang..
Bossa melemparkan gelas dan botol ke arah Audrey.
“Kau tahu kan aku paling tidak suka dengan alasan-alasan. Sama arti nya kalau kau sudah gagal.” Ucap Bossa dengan suara keras.
“Sudah seharus nya kau aku buang dan menggantikan dengan yang baru.”
“Tuan, tolong jangan buang saya, saya hanya kurang cekatan dan malas, tapi saya akan…
Bossa bangkit berdiri berjalan mendekati Audrey. Orang-orang yang dekat berdiri dengan nya ikut ketakutan dan gemetaran, takut terkena imbas nya.
“Kau sudah sangat lemah dan tua, pergerakan mu juga sangat lambat di bandingkan dengan diri ku.” Bossa menggenggam keras dagu Audrey.
Wanita tua itu penuh dengan keringat, memasang wajah melas agar bisa di maafkan.
Bossa melepaskan genggaman nya dan berbalik membelakangi nya. Sekilas dia melirik Felix.
“Bos, seperti nya ada yang melindungi polisi itu, dan itu dari pihak lawan yang tidak suka dengan Shadow.” Ucap Felix.
“Apa kau sudah membawa mereka?” tanya Bossa kembali kesinggasana nya.
“Sudah bos.” Jawab Felix.
“Bawa ke sini, aku sudah sangat haus.” Suruh nya.
Semua tahu dan mengerti apa maksud dari ucapan Bossa.
Felix menyuruh anak buah nya yang lain untuk segera membawa mereka, mereka adalah anak buah Shadow yang berkhianat atau yang lalai melakukan pekerjaan. Wajah mereka di tutupi dengan kain hitam, hanya tangan
yang di ikat, mereka masih bisa berjalan menggunakan kaki nya.
Bbbrruugghh…
Ada sekitar empat orang yang di dorong jatuh ke lantai.
__ADS_1
Suara jeritan dari mulut nya tidak terdengar karena mulut nya ditutup.
Bossa berdiri, berjalan mendekati ke empat anak buah yang ‘terbuang’ itu. Semakin dia dekat, maka waktu hidup empat orang malang itu semakin tipis.
Salah satu orang yang di percaya Bossa datang dengan membawa sebilah pisau yang tajam dan mangkuk berwarna putih. Setiap Bossa akan melakukan ritual nya, anak buah nya itu yang sering mempersiapkan bahan dan
alat nya. Bossa selalu melakukan nya di depan anak buah nya, bisa di bilang itu adalah cara nya agar tidak ada yang melakukan kesalahan saat bekerja.
Satu orang sudah di tangan asisten Bossa, posisi nya berbaring dengan memegang bagian batang leher, tempat darah nya mengalir.
Bagaikan menyembelih binatang, begitu juga yang di lakukan pada mereka berempat.
Sayatan yang di goreskan di leher, membuat si empunya leher menggelepar, agar tidak melakukan perlawanan, dua anak buah nya yang lain memegang kaki yang akan menjadi korban bos nya.
Ccuuurr…..
Bunyi darah yang keluar dari batang leher orang pertama, darah yang banyak keluar bahkan sampai terciprat di lantai dan si penyayat leher.
Bunyi suara darah pun terdengar jelas di telinga anak buah nya, membuat mereka gemetaran dan menahan mual agar tidak muntah.
Mangkuk yang sudah di bawa tadi juga sudah terisi penuh dengan darah dan di angkat untuk di berikan pada Bossa yang sudah menunggu di samping ritual.
Ggllupp..Ggllupp..Ggllup..
Bossa meminum darah itu dengan menikmati nya. Tidak ada rasa jijik dan amis bagi Bossa.
“Aaahhh…lanjutkan.” Ucap Bossa membersihkan darah yang berada di pinggiran bibir Bossa.
Si asisten yang tidak ragu dan gugup itu sudah cekatan. Selanjut nya dia akan melakukan tugas selanjut nya.
Sekarang, orang itu mencongkel mata dan isi otak dari pria yang sudah kehabisan darah.
Ada yang ingin muntah tapi di tahan, karena bisa saja dia akan mendapat ‘jatah’ dadakan dan ikut menikmati yang Bossa lakukan.
Bagian yang sudah di congkel itu lalu di makan Bossa, sepasang mata setelah masuk ke mulut nya meletus dan mengeluarkan cairan, lalu di lanjutkan dengan memakan otak korban nya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Dengan tangan nya, dia memakan lahap otak itu, ruangan itu tercium bau amis dan darah, namun Bossa menikmati nya.
“Lakukan seperti tadi pada mereka, dan simpan. Sementara itu, bagian organ dalam perut nya keluarkan dan jual di pasar gelap.” Suruh Bossa setelah dahaga dan lapar nya terpuaskan.
__ADS_1
“Baik Bossa.” Asisten nya menganggukkan kepala.
“Aku akan melakukan ini kalau kalian melakukan kesalahan lagi, terutama kau! Audrey. Jangan coba kalian menentangku, kalau tidak kalian akan mati mengenaskan seperti mereka.” Bossa memberikan peringatan pada mereka.