
Abraham, Adley dan Bellova pun masuk ke dalam, berkumpul bersama keluarga besar nya. Bellova takjub dan kagum melihat rumah yang rapi, luas dan besar. Sudah terdengar suara tawa canda dan obrolan dari luar.
Abraham sudah tidak sabar untuk segera bertemu.
“Selamat ulang tahun papa Adam…..” suara Abraham yang langsung membuat semua orang yang sedang asik mengobrol seketika menatap nya.
Abraham, merentangkan kedua tangan nya sambil berjalan menghampiri papa nya, Adam.
Adam tersenyum, putera nya sudah datang. Dia berdiri, dan menunggu sampai anak nya datang dalam pelukan nya.
“AKhir nya kamu datang nak…” kalimat yang langsung di tujukan pada Abraham yang sudah di peluk, di tepuk nya pelan bahu putera nya itu.
“Iya pa, maaf ya, datang nya terlambat, ada urusan mendadak.” Ucap Abraham melepas pelukan nya.
“Selamat ulang tahun ya paman Adam.” Sekarang giliran Adley, dia pun memeluk Adam tanpa segan dan risih, hanya ada rasa hormat untuk orang yang sudah perduli pada nya.
“Ma….” Abraham pun tidak lupa memeluk mama nya, Eva yang berdiri di samping Adam.
Orang tua dan anak pun saling berpelukan.
Semua di salami Abraham dan Adley, sebagai rasa sayang, sapa, hormat nya.
Bellova yang tidak tahu harus berbuat apa, masih diam berdiri sambil memperhatikan apa yang di lakukan Abraham dan Adley.
Abraham melihat pria yang baru saja di temui, Arshinta pun melihat wanita yang baru saja juga di temui.
“Se…..selamat…ulang tahun…. paman…” dengan mengumpulkan sedikit keberanian, Bellova memberi salam dan ucapan.
Bellova menjadi sasaran untuk di lihat.
“Eehheeemmm…. Siapa gadis ini Bram?” tanya Eva melirik Abraham.
Abraham melihat Bellova gugup, yang masih berdiri.
“Gak tahu ma, tadi nemu di jalan, jadi di bawa saja ke sini.” Jawab Abraham dengan maksud bercanda.
“Pppffftthh…” Leo, yang mendengar dan melihat Bellova menahan tawa.
“Jangan bercanda nak….” Eva merasa kalau candaan Abraham sedikit tidak enak.
“Dia salah satu korban penculikan, nama nya Bellova, tapi Adley sih memanggil nya… ‘Love’..” jawab nya dengan memonyongkan bibir nya.
“Jadi dia datang dari desa nya, di janjikan untuk bekerja, ternyata malah ingin di jual, dan Bram memang bertemu kembali dengan nya di jalan, saat itu dia bilang tidak tahu mau kemana dan sedang kebingungan juga,
maka nya Bram bawa dia kesini dan sekaligus bekerja di rumah Bram…. Gitu loh mama ku yang cantik..” jawab Abraham memberi penjelasan, singkat dan jelas.
__ADS_1
Mama nya pun menganggukkan kepala nya.
Sekarang, Abraham melihat pada satu anak laki-laki kecil dan seorang pria yang dewasa.
“Kak Abraham, lihat nya jangan sampai begitu dong…..kenalin, dia Satmaka dan ini anak nya Rakha, Satmaka ini teman aku. Jadi pandangan kakak jangan seperti itu.” ucap Shinta langsung mengerti apa yang ada dalam pikiran Abraham.
“Ooohh… kirain pacar kamu…”
“Ya enggak lah, malah aku pikir kakak datang ke sini bawa calon, hahahahaha…” balas Arshinta melihat Bellova.
“Sudah lah, kalian duduk saja dulu. Bel, kamu juga duduk ya..” ajak Eva yang melihat Bellova masih berdiri dengan kebingungan.
“Leo, apa kau sudah mencuci tangan mu dengan bersih?” tanya Abraham pada Leo yang memakan potongan buah apel yang tadi sudah di potong.
“Sudah dong, kenapa? Masih bau amis ya..” Leo dengan santai menjawab pertanyaan Abraham tanpa tersinggung.
“Kalau begitu kita makan dulu ya, papa yakin kalian sudah kelaparan, mungkin ada yang sampai menahan tidak makan kan? Seperti kebiasaan Ina dan Abraham. Kalau Shinta sih… jangan tanya, lapar tidak lapar pasti selalu makan..” ledek Adam pada anak-anak nya.
“Papa benar…. Benar sekali.” Arshinta mengangkat jempol nya dengan tertawa.
Karena semua nya juga sudah di siapkan di atas meja makan, mereka pun berkumpul di meja makan.
Suasana yang ramai, banyak orang dan banyak suara-suara sahut-menyahut. Satmaka, Bellova, Adley, Ina dan Leo merasa sangat bahagia bisa berkumpul walaupun bukan keluarga kandung.
“Kakak…. Akha mau empe goyeng..” Rakha yang duduk di samping Oksana meminta nya untuk mengambil piring berisi tempe goreng.
Karena anak kecil itu tidak bisa mengambil, maka Oksana yang mengambil nya.
Setelah selesai makan malam, semua nya duduk di ruang tamu.
Ruangan itu sangat luas, walaupun ada banyak orang, saat nya mereka berbicara
santai sambil minum kopi dan teh.
Lucifer dan Satmaka saling mellihat. Lucifer tahu kalau pria itu sedang memikirkan atau ingin bertanya sesuatu, namun dia hanya menunggu sampai Satmaka yang berbicara sendiri.
Satmaka memang ingin bertanya, masih menunggu waktu yang tepat.
“Sat, kenapa kau melihat papa ku seperti itu? apa kau ada niat jahat ya?” tanya Shinta yang melihat pandangan Satmaka.
“Tidak…. Aku hanya merasa seperti pernah bertemu dengan nya. Tapi… belum yakin juga sih…”
“Memang nya kapan kau pernah bertemu?” tanya Shinta lagi yang penasaran.
“Dulu waktu kecil, saat itu ketika umur ku 7 tahun, aku pernah di culik….
Ina, Adley, Leo dan Arshinta terkejut dengan ucapan Satmaka.
“Waktu kecil kau pernah di culik??” sekarang Leo yang bertanya dengan suara keras yang membuat semua nya terkejut.
__ADS_1
“Iya…. Saat itu, aku kenal dengan salah satu yang ada di sana, nama nya….. Shinta….. dan papa nya……
“Jadi kamu juga ada di situ??
“Kamu siapa???”
“Iya, nama kamu siapa???”
Satu persatu mereka bertanya secara bergantian.
Adam hanya diam sambil nyimak, seperti kebiasaan sebelum nya.
Sebelum menjawab, Satmaka melihat mereka satu persatu, dengan menunggu jawaban.
“Nama ku Nathan Satmaka Harun……
“Apa???? Nathannn???? Kamu Nathan?? Tapi kenapa jadi Satmaka? Terus kamu kemana aja? Aku pikir….
“Shinta… tenang dong, dia jadi bingung mau jawab apa. Kamu duduk dulu..” Ina yang juga penasaran, tapi tetap berusaha untuk tenang.
“Iya, nama ku Nathan, setelah orang tua ku menjemput ku di rumah sakit, aku di jaga dengan ketat. Dan kenapa nama ‘Nathan’ tidak ku gunakan, karena aku merasa trauma dengan kejadian itu, dan supaya penculik-penculik itu tidak balas dendam.” Jawab Satmaka.
“Saat itu aku sangat jelas melihat tuan Adam bertarung melawan penculik itu, kemarahan dan kebencian. Aku tidak bisa lupa dengan
ekspresi tuan Adam.”
“Memang papa ku hebat kan, hehehehehhe…” Arshinta dengan bangga nya menyanjung papa nya.
“Tapi kenapa kalian bertanya pada ku seakan kita pernah bertemu?” sekarang Satmaka yang penasaran.
Mereka yang pernah di culik bersamaan pun saling melihat dengan menaikkan salah satu alis nya.
“Itu karena kami sama seperti mu Nat..eh…. Satmaka..” ucap Leo.
Satmaka mengernyitkan dahi nya.
“Aku, Adley, Shinta dan Ina, kita pernah berada dalam satu ruangan saat di culik.” Ucap Leo lagi.
.
.
.
Hallo, terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau memberikan koin pada novel ku ini. koin mu menambah pundi rejeki ku.
Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian.
Jangan lupa jaga kesehatan, dan jangan lupa berdoa.
__ADS_1
Terima Kasih...