
“Salah paham? Salah paham bagaimana maksud nya?” Rafhael yang tidak mengerti.
Tak…
Ina meletakkan dokumen dengan sedikit keras di atas meja, dan melihat Rafhael yang memasang wajah senyum nya.
“Kamu sekarang sudah pacar belum?” Ina bertanya lebih dulu.
“Loh? Apa hubungan nya?”
“Jawab saja!” Ina lebih serius.
“Sekarang sih sudah jomblo kak, kenapa? apa ada teman wanita kakak yang-
“Kenapa kamu jomblo?”
Rafhael mengernyitkan dahi nya lagi.
“Yah.. aku tidak tahu, setiap di tanya, tidak mau menjawab. Hanya merajuk, ngambek, tahu-tahu minta putus, ya udah, buat apa menjalin hubungan kalau hanya untuk merepotkan saja.” Jawab nya lagi.
“Dasar ya… kau tidak pernah introspeksi diri ya?”
“Aku tidak merasa melakukan kesalahan, jadi-
“Ck, berarti kau yang tidak peka ya, pantas saja pacar mu meninggalkan mu.” Ina membawa document di tangan nya, dan duduk di dekat Rafhael.
“Memang nya ada apa dengan ku?” Rafhael menunjuk diri nya sendiri.
“Rafhael, aku tahu kau sangat tampan dan ramah, tapi harus lihat kondisi keadaan dong. Jangan dengan mudah nya kau memberi senyum pada perempuan lain, jangan perhatian pada perempuan lain, karena mereka akan salah
__ADS_1
paham, dan memiliki perasaan pada mu.”
“Loh, tidak salah kan kak? Wajar lah karena aku-
Plak…
Ina memukul bahu Rafhael.
“Suatu saat kau akan tahu sendiri. Susah di jelasin. Pokok nya-
Tok…tok…tok…
Klik…
“Bos? Kata Metta anda memanggil kami berdua ya?” Sakya dan Zafran datang bersamaan.
*******
Karena sudah waktu nya makan siang, Bellova yang menggenggam ponsel nya, ragu apakah ingin menghubungi suami nya atau tidak.
“Apa aku tanya saja ya?” gumam nya.
“Coba saja lah.” Akhir nya dia memutuskan untuk menghubungi nomor pribadi Abraham.
Di kantor polisi, Abraham sedang berbicara pada Venam.
“Jadi kau melihat dia sedang bertransaksi?” tanya Abraham.
“Iya, dan aku juga sudah melihat bagaimana si Bossa itu. Kalau aku boleh jujur nih ya, ternyata Bossa itu tinggi, gemuk dan sedikit pincang, dia juga suka ganti-ganti warna rambut, tapi menurut ku dia memakai rambut palsu untuk mengelabui saja. Dia sedang melakukan transaksi dengan orang luar, dan aku yakin itu adalah senjata rahasia.” Ucap Venam memberitahukan informasi.
__ADS_1
“Senjata rahasia? Dengan siapa?”
“Rock!”
“Apa? Rock? Maksud mu, Rock ada di Indonesia?” Adley berdiri karena terkejut.
“Iya, aku tidak tahu dia sudah ada berapa lama di sini,”
“Kenapa tidak kau laporkan pada kami saat kejadian?” Ridwan gantian bertanya.
“Hey, apa kau pikir aku tidak sayang dengan nyawa ku? Saat itu aku hanya berdua, tidak bawa senjata, dan secara kebetulan saja melihat pertemuan mereka.” Jawab Venam membela diri.
“Masuk akal sih. Bela negara dengan bela nyawa, beda-beda tipis sih, tergantung orang nya saja, tapi kalau itu tuan Lucifer atau pak Abraham, pasti bela negara.” Jawab Adley.
“Kalau tuan Lucifer, aku ragu dia bela negara, dia kan sangat kejam dan tidak berperasaan.” Ucap Ridwan yang tidak tahu apa-apa.
Tak…
Ridwan mendapatkan tatapan dari sepasang mata yang tajam melihat nya, tentu saja dia menjadi takut dan gugup.
Ddrrtdd…Ddrtd..
Ponsel Abraham yang berada di atas meja bergetar, semua melihat nama yang memanggil di layar ponsel nya, walau hanya melirik.
“Isteri ku? Wah, nyonya Bellova menelepon anda, sebaik nya-
Klik…
Abraham memutuskan panggilan.
__ADS_1