
Bossa duduk di kursi yang sudah di atur anak buah nya, dan ada beberapa anak kecil duduk di samping nya. Anak-anak perempuan dan
laki-laki, berusia 6 sampai 13 tahun. Mereka bukan keturunan Bossa, tapi mereka di culik untuk memuaskan hasrat nafsu nya. Anak-anak itu di suruh untuk melayani Bossa, Bossa sangat menyukai s*x aneh nya.
Audrey pernah beberapa kali hamil dan melahirkan, ada yang sudah meninggal, ada yang masih mengikuti nya sebagai pelayan atau anak buah Bossa, tapi pada saat anak nya masih kecil, Bossa sering melampiaskan nafsu nya pada anak kandung nya sendiri.
Bossa akan berhenti kalau si anak sudah mendapatkan haid pertama, itu sengaja di lakukan agar tidak hamil, dan dia akan mencari korban baru lagi. Bisa berhubungan dengan Audrey sampai melahirkan itu karena pertemuan saat Audrey bekerja di salah satu club malam di Singapura, dan Bossa adalah pelanggan nya.
Di depan anak buah nya, Bossa menciumi anak-anak malang yang sangat ketakutan itu, siapa yang menangis, Bossa tidak ragu untuk memberikan tamparan pada mereka. Dan suara tangisan nya membuat Bossa semakin suka dan gila sambil tertawa. Anak buah nya tidak heran melihat nya. Dan kalau ada yang meninggal, organ tubuh nya akan di ambil untuk di jual, dan darah mereka akan di minum.
Mengerikan dan sadis, sebenar nya beberapa di antara anak buah Bossa, tidak ingin bergabung, tapi karena kesulitan ekonomi dan ancaman,
juga Bossa yang memiliki ilmu sakti, membuat anak buah nya ketakutan dan tidak bisa lepas.
“Felix!” panggil nya pada anak buah kepercayaan nya.
“Siap bos.” Jawab nya dengan cepat.
“Bunuh Tedy dan anggota yang tertangkap. Lakukan bagaimana pun cara nya.” Suruh nya pada Felix, sambil meremas tubuh anak kecil di
pangkuan nya.
“Baik bos.” Jawab Felix tanpa bertanya lagi.
“Dan tanyakan pada Irwan Prasetyo, ada anak buah nya yang berani mencari masalah dengan ku, kalau dia masih mau menjabat posisi nya
sebagai Jenderal Polisi, keluarkan anggota nya yang sok jagoan itu.” suruh Bossa.
“Baik bos, saya akan melaksanakan nya.” Jawab Felix.
Felix pergi, meninggalkan Bossa yang masih sibuk dengan nafsu nya. Audrey dengan memakai pakaian seksi berwarna hitam, duduk di samping, tidak jauh dari Bossa merasa di abaikan.
Irwan Prasetyo, adalah Jenderal Polisi, dia bisa mencapai posisi tertinggi ini karena perbuatan Bossa, bukan cuma Irwan, masih ada banyak
lagi yang terlibat dengan Bossa, hanya Abraham dan beberapa rekan nya yang
bekerja dengan jujur, bertanggung jawab dan berani.
*******
__ADS_1
Di dalam kediaman Lucifer, Aris dan Hendra sedang berbicara dengan si empunya rumah.
“Apa mereka ada yang terluka?” tanya Lucifer.
“Tidak ada tuan Lucifer, bahkan nona Arshinta tidak tersentuh sedikit pun. Hebat sekali anak anda.” Jawab Aris.
“Kalau sampai dia terluka sedikit pun, aku yang akan mencincang orang nya. Walaupun Abraham dan Shinta pintar bela diri, tapi kalian
harus tetap menjaga mereka. Penjahat pasti akan ada.” Lucifer yang tetap khawatir pada anak-anak nya.
“Yang menjemput Bossa, tidak banyak, hanya ada satu mobil saja tuan Lucifer. Apa dia tidak curiga?” tanya Aris, sempat aneh karena
penjemputan Bossa yang tidak di kawal banyak anak buah nya.
“Anak buah nya banyak, anggota Deadly Poison yang lebih suka kekerasan mundur dan masuk dalam kelompok nya, dan alasan lain nya adalah….. dia ingin memancing ku keluar, Lucifer Deadly Poison. Tapi dia tidak menyangka kalau Abraham seorang polisi yang hanya seekor semut dalam pikiran nya yang
datang.” Lucifer menjawab pertanyaan Aris.
“Apa menurut anda, Bossa tahu hubungan anda dengan Abraham
dan arshinta?” Hendra pun ikut bertanya.
“Untuk saat ini, Bossa belum tahu, tapi pasti dia akan menyelidiki Abraham, dan… jabatan nya dalam kepolisian pasti akan terancam.” Ucap Lucifer pasti.
“Bossa, adalah lawan yang kuat dan sangat sadis di bandingkan kelompok lain. Kalian harus berhati-hati, jangan sok berani melawan
nya sendirian.” Ucap Lucifer.
Dua anak buah setia nya mengerti, dan mereka sedikit takut mendengar ucapan Lucifer.
**********
Abraham membawa Arshinta dan Rakha ke tempat Ina, atas dasar permintaan Arshinta nya juga. Sebelum kedatangan mereka, Ina sudah
mempersiapkan makan malam untuk mereka.
“Berapa lama Satmaka di Kalimantan?” tanya Ina, mengusap kepala Rakha yang masih mengunyah brownies hasil buatan nya sendiri.
“Lima hari. Awal nya sih tidak mau kesana, tapi karena sudah beberapa kali di tunda, dan akhir nya, dia pergi.” Jawab Arshinta, yang duduk
__ADS_1
bersama mereka.
Abraham, masih sibuk dari ponsel nya, sambil menggaruk kan kepala nya.
“Ada apa Bram? Seperti nya ada yang kamu pikirkan?” Ina melihat kegelisahan adik nya.
Abraham melihat kakak nya, berusaha tersenyum walau sekilas.
“Mengenai Bossa kak, kami tidak bisa menangkap nya, dia berhasil meloloskan diri.” Jawab Abraham, mereka bertiga memang selalu menceritakan apa yang ada dalam pikiran mereka. Bahkan masalah yang kecil pun
mereka pasti akan cerita.
“Apa kau melihat wajah si Bossa itu? aku penasaran dengan wajah nya.” Tanya Ina, yang serius mendengar keluhan adik nya.
“Tidak, tidak ada yang tahu bagaimana wajah nya. Dan belum di pastikan juga, apakah Bossa bos besar Shadow atau masih ada di atas nya
lagi…
“Tenang saja kak Abram, aku masih ingat kok wajah Shadow bagaimana. Kalau sudah ketemu, akan aku bantu kau menangkap nya.” Ucap Arshinta, dia tidak lupa dengan wajah itu.
“Shinta, tolong ya, kamu jangan melakukan hal yang seperti tadi lagi. Kamu itu perempuan, walaupun kamu kuat, tapi mereka jauh lebih kuat dan banyak..” Abraham tidak mau Arshinta terlibat seperti sebelum nya, karena merasa sangat khawatir.
“Mereka itu tidak hebat, hanya saja mereka lebih berani mengeroyok…
“Walaupun seperti itu, pokok nya jangan pernah ikut campur lagi!
“Aku kan tidak ikut campur, aku hanya ingin membantu kak Abraham…
“Kakak tidak butuh bantuan kamu, pokok nya jangan… jangan.. dan jangan! Kamu dengar kan nasehat kakak?” Abraham menekan kan larangan Arshinta agar tidak ikut campur yang membahayakan lagi.
Arshinta masih diam, belum menjawab.
“Shinta, kamu dengar gak apa kata ku?” Abraham bertanya lagi serius.
“Abram….
“kak Ina, tolong jangan bela Arshinta, dari kecil dia sangat suka berkelahi. Aku melarang nya agar penjahat tidak menargetkan nya. Aku tahu,
Shinta tidak bisa melihat kejahatan dan penindasan, tapi Shinta tidak pernah memikirkan diri nya sendiri.” Abraham menahan Ina.
__ADS_1
“Kamu punya keluarga yang perduli dan khawatir pada mu, apa kamu ingin membuat mereka khawatir lagi ketika kamu masih kecil? Bukan nya kakak tidak bisa bersikap seperti mu, main berkelahi, lawan penjahat semau
kita, tapi kakak juga harus memikirkan efek yang akan terjadi pada keluarga, pada mama, papa, kamu dan kak Ina.” Ucap Abraham, nada yang serius dan penuh makna.