
Satmaka mengantarkan Rakha masuk sekolah TK di hari pertama, tentu saja ada Arshinta yang mendampingi.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru nih.” Arshinta jongkok berbicara pada Rakha. “ Akha, kamu kenalin nama kamu ya.” Ucap
Arshinta.
Rakha menganggukan kepala nya.
“Hallo, selamat pagi. Nama saya Akha Ivandey hayun. Mayi belajayl dan beylteman.”ucap Rakha yang masih belum bisa menyebutkan huruf ‘R’.
“Kamu belum bisa bilang ‘R’ ya? Aku bisa loh.” Salah satu anak TK membalas ucapan Rakha.
“Iya, nanti kamu ajayin aku ya, hehehehe…” tanpa tersinggung, anak itu mengakui kelemahan nya, dia tidak marah, malah mengajak untuk mengajari nya.
“Aku bisa kok ngajarin kamu.” Balas anak yang bernama Ricky itu.
“Nah, sekarang Akha gabung dengan mereka ya. Jangan bertengkar dan jangan musuhan juga ya. Harus berteman. Okey..” ucap Arshinta,
dia berdiri kembali ke posisi semula.
Satmaka yang berdiri di samping nya senang, Rakha tidak di asingkan, dan lebih senang nya lagi anak nya itu bisa cepat beradaptasi nya.
Anak-anak bermain dan belajar bersama. Semenjak punya teman baru, Rakha lupa kalau masih ada papa dan Arshinta di situ.
“Seperti nya, Rakha sudah dekat dengan mereka, jadi tidak usah di khawatarkan lagi kan?” Arshinta berbicara pada Satmaka yang berdiri di samping nya. Satmaka menganggukan kepala nya,sepemikiran.
“Ngomong-ngomong kamu tahu siapa yang menyuruh preman-preman waktu itu?” tanya Satmaka, teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu.
“Itu salah satu dari guru yang pernah aku pecat dari sini, tapi sudah di urus kak Abraham kok. Aku juga sudah nyerahin ke dia aja. Kalau
__ADS_1
aku yang mengurus nya lagi, bisa gawat nanti mereka nya.” Ucap Arshinta, sadar akan emosi yang tidak bisa di control.
“Iya, kamu waktu itu hebat banget ya, bisa ngalahin mereka kayak gitu. Sama kayak papa kamu. Aku tidak bisa lupa waktu kejadian kita masih kecil dulu.” Satmaka teringat dengan Lucifer, saat menebas tangan dari salah satu penjahat itu.
“Papa ku hebat kan?” Arshinta membanggakan papa nya, Satmaka pun setuju, karena memang saat itu Lucifer sangat hebat dan keren.
“Waktu itu, aku tidak sempat mengucapkan rasa terima kasih ku pada paman mu, dan aku juga tidak tahu bagaimana keadaan yang lain nya, aku langsung di bawa orang tua ku dari rumah sakit dan di pindahkan. Dan ternyata
papa mu merawat banyak anak-anak yang menjadi korban dan saat ini sudah berhasil sukses. Aku salut banget.” Puji Satmaka.
“Iya dong, walaupun wajah nya sangar…
“Aku tidak merasa wajah nya sangar atau seram, justru aku suka dengan wajah papa mu yang seperti itu, laki banget. Walau dingin namun dari dalam nya sangat lembut dan perhatian. Kepedulian nya juga besar.” Puji Satmaka lagi untuk Lucifer.
“Papa kamu kerja nya apa sih sebelum nya? Apa dia bodyguard ya?” tanya Satmaka, yang tidak tahu siapa Lucifer.
“Apa Ina juga belajar bela diri seperti kalian berdua?”
“Iya, kak Ina juga.”
“Aku ingat banget, dulu dia sangat takut, dan kau berani mendekati nya, apa dia tidak punya keluarga?” tanya Satmaka lagi.
“Kan waktu itu dia bilang kalau paman dan tante nya menjual nya sama mereka si orang jahat itu, terus papa dan mama tidak mau mengembalikan kak Ina pada mereka karena niat jahat nya, terus, di angkat deh jadi kakak ku
dan Abraham. Tapi kak Ina baik kok. Malah sekarang dia yang di beri kepercayaan untuk mengurus perusahaan.”
“Apa tidak masalah dengan mu dan Abraham?”
“Tidak, justru kami senang. Aku dan kak Abraham tidak tertarik, waktu itu kak Ina nilai dalam bisnis nya juga sangat menonjol, kuliah
__ADS_1
juga mengambil jurusan bisnis, beda dengan ku, aku hanya lulusan dengan nilai sealakadar nya saja, yang penting lulus, hahahahaha…” ucap Arshinta tertawa. Satmaka pun ikut tertawa, menutup mulut nya.
Mereka berdua yang mengobrol di luar kelas TK Rakha, dengan kursi panjang yang terbuat dari semen halus.
“Diantara kami bertiga, hanya aku yang agak jauh kebelakang nilai nya, karena aku dari dulu malas banget belajar, harus di paksa dulu baru
belajar, tapi kedua kakak ku, hobi nya adalah membaca buku dan belajar, ih… membosankan banget. Aku lebih sering bersama papa, latihan menembak, memanah dan berkuda. Itu lebih seru, lebih menantang. Papa dan mama tidak masalah aku tidak juara, tidak ada tuntutan untuk ku.” Arshinta tersenyum, senang dan bahagia menceritakan masa indah nya. Satmaka melihat wanita yang di kenal nya dari
kecil itu.
“Lalu, kenapa kamu berpikir untuk membuat sekolah?” pertanyaan berikut nya dari Satmaka, seolah tidak ada habis nya bahan yang menjadi obrolan mereka.
“Dulu, waktu aku sekolah, aku melihat banyak teman-teman yang berhenti sekolah karena tidak ada biaya, ada yang bekerja setengah hari
untuk membayar uang sekolah, tas, sepatu dan seragam nya juga sudah lusuh dan robek karena tidak ada ganti nya. Memang sekali lagi papa membantu mereka. Aku juga dulu pernah di hina salah satu guru, karena aku yang sulit membedakan warna biru dan hijau, bukan nya aku tidak tahu warna itu, hanya sulit untuk
membedakan nya, harus berpikir dulu beberapa menit baru aku bisa mengetahui nya. Guru itu menampar ku dengan keras, aku menangis sepanjang malam, karena aku tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar seperti itu, tapi aku tidak memberitahukan pada papa, beberapa hari kemudian, aku balas dendam dong…” Arshinta menaikkan salah satu alis nya, melihat Satmaka yang tersenyum karena
tahu apa yang akan di lakukan Arshinta.
“Kau ‘mengerjai nya’? apa yang kau lakukan pada nya?” tanya Satmaka.
“Aku bikin jebakan. Saat habis jam pelajaran nya, aku mengikuti dia sampai ke toilet, dan mengunci lalu…..siram dengan air sampai dia
teriak-teriak dan kebasahan. Rasa nya aku puas banget…hahahahaha….. dan dia bisa pulang dari kamar mandi itu tiga jam kemudian.” Arshinta menepuk tangan nya sambil tertawa, puas sekali tawa nya.
“Ehhemm… mulai dari situ lah, aku bercita-cita untuk mendirikan sekolah, mau mereka serius sekolah atau tidak, aku tidak perduli, tapi yang jelas, pasti di antara mereka akan ada orang-orang baru yang akan sukes, yang penting aku sudah menyediakan wadah dan guru-guru yang sabar, ikhlas dan tulus untuk mengajar. Aku tidak mengatakan untuk menggratiskan semua
biaya, aku juga tidak membedakan kelas atas dan bawah, tapi aku selalu mengamati, mana murid yang berpotensi tinggi tapi terbatas dengan biaya akan aku bantu. Begitulah tujuan hidup ku.” Ucap Arshinta. Tatapan mata nya melihat Satmaka.
__ADS_1