
Rock beserta anak buahnya dan anak buah Bossa menguasai wilayah itu. arshinta tetap berdiri
dengan mengarahkan pistolnya yang sudah kosong, Satmaka juga berusaha melindungi Arshinta dengan tangan kosong. Sejenak keadaan diam, hanya saling mengawasi.
“Hey beautiful lady! come here, serve me! Hahahahha. I will consider letting you live ( Hey wanita cantik! kemarilah, layani aku. aku akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu hidup ).” Teriak Rock dengan gaya angkuhnya.
Cuih..
Arshinta membuang ludah ke aspal di depan Rock.
“Hahahahaha… bi*ch..”
Rock berjalan mendekati mobil Abraham dengan membawa senjata di tangannya.
Dor…
Satu tembakan mengenai tangan Rock yang membawa senjata, hingga senjatanya jatuh terlempar.
“Aaaakkhhh…” rintihnya memegang tangannya yang terluka.
Dor…
Satu tembakan lagi di bagian salah satu kakinya, dan Rock berteriak lagi karena kesakitan.
Wwuusshhh….wwwuusshhh….wwwuussshhhh…
__ADS_1
Dua helikopter yang mengatur jaraknya agar tidak bertabrakan muncul dan langsung menembaki lawannya.
Ddoor…ddoor…dddoorrr…doorr…
Pertarungan pun berlanjut lagi. Arshinta datang ingin melihat keadaan kakak dan kakak iparnya, saat berada di depan Rock…
Brughh…bbruugghh..
Dua kali tendangan di arahkan pada Rock di bagian dada dan wajahnya, membuatnya terjungkal kebelakang.
“Fu*k you!” Arshinta menunjukkan jari telunjuknya pada Rock.
Dari helikopter itu turun beberapa orang melalui tali yang sudah di rakit sebagai tangga untuk turun, tidak hanya di situ, beberapa orang juga muncul dari sisi jalan, depan dan belakang mereka.
Pihak lawan kalah telak, bagaimana tidak, Revand dan Vicky sudah datang bersamaan dengan anak buahnya. Revand menembaki lawannya dengan sangat semangat sambil berteriak-teriak. Tanpa memikirkan dosa dan ketakutan, pelurunya terus diarahkan.
“Kakak!” panggil Arshinta setelah membuka pintu mobil, melihat Abraham yang memeluk Bellova di bawah kursi.
“Ayo keluar, kami akan menjagamu.” Ajaknya.
Bellova yang pertama kali di keluarkan. Di bantu dengan pelan karena sudah banyak mengeluarkan darah.
Baju Abraham saja sudah banyak darahnya.
“Hey keponakan, sorry ya paman mu ini datangnya sedikit terlambat.” Ucap Revand melambaikan tangan saat melihat Abraham keluar dari mobil setelah Bellova. Dan Vicky juga melambaikan tangan dengan tenang dan tersenyum.
__ADS_1
“Tidak apa-apa paman, kalian datang saja sudah sangat bersyukur sekali.” Balas Abraham dengan berteriak.
Abraham melihat pertempuran itu, di mana pihaknya yang sudah menguasai arena.
Abraham menggendong Bellova, dan membawanya kedalam mobil Arshinta yang berada di belakang, dia
ingin membawanya kerumah sakit untuk mendapat pertolongan. Mereka berempat sudah bisa berjalan dengan tenang, karena banyak yang menjaga dan melindungi mereka.
“Biar aku yang bawa mobilnya, kau dan Bellova duduk dibelakang saja.” Satmaka langsung mengambil posisi duduk di kursi kemudi, disusul Arshinta duduk di sampingnya.
“Paman, kami serahkan pada kalian ya.” pinta Arshinta di balik jendela.
“Tenanglah keponakanku, ini masih belum seberapa. Kalian pergi saja, anak buah ku akan mengawali kalian.” balas Revand.
Dan benar saja, setelah mobil Arshinta sudah mulai berjalan, di depan dan di belakang nya sudah ada
mobil untuk mengikuti mereka.
Sementara itu di sisi lain, Bossa dan Dogga mengamati pertempuran itu dengan kesal karena kalah.
“Tch… sial, dasar bodoh-
Tak…
Pedang panjang sudah mengarah di bahuBossa. Dengan perlahan dia menoleh melihat kebelakang.
__ADS_1
“HALLO… BOSSA?!” ucapan dari seseorang yang menatapnya dengan tajam dan penuh dengan amarah besar. Pria yang berdiri dengan tegak dan berani.