
Setelah sadar, Satmaka melepas pelukan, dia melihat Rakha yang ada di bawah masih memeluk kaki nya, lalu dia menggendong anak itu, membawa nya dalam pelukan nya.
“Aku sudah pulang.” Ucap Satmaka, dia melihat Arshinta yang masih terheran.
Arshinta perlahan mengangguk kan kepala, namun mulut nya masih terbuka. Satmaka tersenyum melihat rekasi lucu dari wanita itu.
“Bukan nya kamu bilang pulang nanti sore? Kenapa pagi begini sudah ada di rumah?” tanya Arshinta yang masih bingung.
“Sebenar nya aku mengambil penerbangan malam, karena pekerjaan yang sudah selesai, jadi aku segera pulang, seperti yang aku katakan sebelum nya, aku sedang rindu pada Rakha…. Dan kamu.” Jawab Satmaka, tanpa ragu dan masih tersenyum.
Lagi, Arshinta mengangguk kan kepala.
“Terus, kenapa kamu datang ke sini? Oh, kamu mau menjemput Rakha ya.” ucap Arshinta melihat Rakha.
Satmaka menghela napas.
“Sebenar nya bukan menjemput nya sih, kan aku bilang, karena aku sangat rindu kalian dan ingin segera bertemu. Aku tahu kalau kalian pasti belum berangkat kan, maka nya aku datang cepat-cepat.” Jawab nya tersenyum
lebar.
“Oh, ya udah kalau begitu, aku urus Rakha dulu, biar tidak telat ke sekolah nya. Kamu istirahat saja dulu, atau mau aku buatkan sesuatu?
Sebenar nya aku sudah membuat kan sarapan pagi sebelum kami berangkat, kalau kau mau kau bisa memakan nya lebih dulu.” Ucap Arshinta, mengambil Rakha dalam pelukan Satmaka dan menggendongnya.
“Aku akan menunggu kalian saja, sekalian duduk istirahat di sini. Aku juga ingin menghubungi sekretaris ku tentang pekerjaan.” Jawab Satmaka, mengeluarkan ponsel nya.
“Oke, aku mandiin Rakha dulu ya.” ucap Arshinta, berjalan meninggalkan Satmaka.
Satmaka yang masih menatap punggung Arshinta tersenyum, menyandarkan tubuh nya di sofa Arshinta.
“Aku sudah di Jakarta, tolong di print laporan yang sudah aku kirimkan via email.”suruh nya pada sekretaris nya melalui panggilan telepon.
Satmaka mendengar suara Rakha dan Arshinta di kamar, suara nya sangat terdengar jelas. Rakha yang tertawa karena di gelitikin Arshinta,
saat di kejar untuk memakai seragam sekolah, semua bisa di dengar Satmaka dengan jelas.
“Aku seperti seorang suami dan papa di rumah ini, tidak masalah sih.” Ucap Satmaka dengan suara pelan sambil tersenyum.
**************
Abraham dan Bellova sudah tiba di terminal pulo gadung. Dan mereka berhenti di depan bus yang akan membawa gadis itu menuju kampung halaman nya. Bellova langsung turun dan di susul Abraham, saat Bellova ingin mengeluarkan tas besar nya, Abraham melarang.
“Biar aku yang turun kan semua nya, kau masuk saja dulu.” Suruh Abraham merampas tas Bellova.
Gadis itu tidak langsung masuk, dia menemani Abraham yang sedang sibuk dengan barang-barang nya. Abraham memasuk kan tas kain di dalam bagasi bus, ada beberapa bungkusan kecil yang ingin di bawa Bellova.
Semua melihat Abraham dan Bellova, apalagi
perempuan-perempuan yang ada di sana, kagum dengan ketampanan dan kecantikan
dua orang itu.
__ADS_1
Melihat itu, Bellova merasa risih, sesekali menghalangi pandangan wanita yang menatap Abraham.
“Kenapa masih belum masuk kedalam? Apa ada yang ketinggalan lagi?” tanya Abraham, setelah semua nya di rasa sudah di masuk kan kedalam bagasi bus.
Bellova menggelengkan kepala nya.
“Tidak ada pak.” Jawab nya, masih berdiri di depan Abraham.
“Bus nya juga masih lama kok untuk berangkat nya, jadi saya nunggu di luar saja dulu.” Jawab nya lagi menunduk kan wajah nya.
Mereka berdua diam berdiri, Abraham menggaruk kepala dengan satu tangan nya memegang pinggang.
“Loh, kenapa kalian tidak masuk ke dalam? Kalian suami isteri kan? Seperti nya kalian pengantin baru nih.” Ucap asisten supir yang
tidak tahu hubungan mereka yang sebenar nya.
“Kami bukan suami isteri. Aku hanya mengantar nya saja.” Ucap Abraham dengan cepat.
“Oh… jadi, nona ini belum menikah ya? sama dengan abang dong, boleh lah kalau kita…
“Jangan aneh-aneh pada nya!” ancam Abraham tidak suka mendengar.
“Kenapa? Memang nya anda suka pada nona ini?” tanya pria asing itu lagi.
Tidak ada jawaban dari Abraham atau Bellova.
“Tidak kan? Ya udah kalau begitu…
“Ck… susah banget sih di bilangin. Pergi sana!” suruh Abraham, dia mendorong pria itu pelan, namun bergerak.
Beberapa saat mereka diam lagi.
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Ucap Abraham, merasa tidak ada yang ingin di bicarakan lagi.
Baru mau melangkah…
“Pak Abraham,” Bellova menahan tangan Abraham.
Abraham yang tersentak saat tangan nya di tahan.
“Ada apa?” tanya nya melihat gadis itu.
“Sekali lagi… saya… saya ucapkan … terima kasih, karena… karena anda… sudah…sudah…
“Ck, ngomong saja masih seperti itu. Udah kamu masuk saja sana. Jangan berbicara terima kasih terus, aku bosan dengar nya.” Suruh Abraham, yang tahu apa yang akan di ucapkan wanita muda itu.
Perlahan Bellova melepas tangan Abraham.
“Ha… hati-hati ya pak Abraham. Dan… dan tolong anda jaga kesehatan… jangan sering memesan makanan online, sampah-sampah nya di buang di tempat sampah, pakaian…
“Stop! Masih bicara seperti itu lagi? udah sana masuk. Cerewet sekali..” Abraham menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
Abraham meninggalkan Bellova yang masih berdiri melihat nya.
Dia masuk kedalam mobil dan segera pergi meninggalkan Bellova tanpa melihat nya
masuk kedalam bus.
Setelah melihat penyelamat nya sudah pergi, dia pun masuk kedalam bus.
“Kenapa aku seperti merasa sedih dan kehilangan ya?” gumam Abraham dan Bellova bersamaan namun di lain tempat.
Mereka berdua tidak tahu perasaan apa yang sedang di rasakan nya. Mereka masih menganggap kalau hubungan mereka itu hanya sekedar majikan dan pembantu, hubungan pekerjaan. Yang terjadi saat Abraham melakukan tugas pekerjaan nya.
“Tidak apa-apa. Pak Abraham seperti itu kan karena dari awal dia memang tidak mau aku bekerja pada nya. Ini hanya perasaan ku saja.” Ucap Bellova pelan, dia sudah duduk di bangku pesanan nya.
***********
Arshinta dan Satmaka juga Rakha sudah duduk di kursi meja makan. Hanya ada mereka bertiga di dalam rumah itu.
“Rakha, selama papa tidak ada dengan mu, kamu tidak nakal kan nak?” tanya Satmaka.
“Enggak kok pa. Aka senang banget tinggal dengan kak Shinta.” Jawab Rakha ceria.
“Pa, kenapa papa dan Akha tidak tinggal sama kak Shinta?” tanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
“Uuuhhuukk…uuuuhhuukkk…” Arshinta dan Satmaka serentak batuk mendengar ucapan anak kecil itu.
Mereka berdua saling menatap. Tidak ada tatapan marah atau kesal, hanya ada
tatapan kebingungan dengan permintaan Rakha.
.
.
.
.
Hallo teman-teman, terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca novel KETIKA JATUH CINTA ini, memang masih lebih seru season pertama, tentang orang tua dari mereka. Tapi di season ini, untuk Lucifer dan
kawan-kawan nya sedikit terlihat, karena ini lebih fokus untuk anak-anak dan lain nya. Tapi sebisa mungkin aku akan memasuk kan Lucifer.
Untuk Satria Zobo, terima kasih ya atas tip koin nya, kamu setiap hari selalu memberi tip koin, semoga di beri kelancaran rejeki dan tetap
sehat, kamu dan keluarga mu. Untuk teman-teman yang lain juga ya.
Oh iya, aku ada masalah juga di penulisan novel ini dan yang lain nya, sebelum aku publish, aku mengetik di notebook ( nabung bisa membeli notebook bekas hasil dari menulis, hehehe), dan aku akan mengedit lalu aku publish. Tapi kenapa ya, saat sudah di publish, tapi penulisan nya masih acak-acakan? Padahal sudah di rapikan.
Jadi, kalau teman-teman melihat penulisan yang tidak rapi, mohon di maklumi ya.
Tapi kalau ada nama karakter yang nyasar dari novel lain milik ku, akan aku perbaiki. Terima kasih untuk komentar teman-teman yang
__ADS_1
memberi ku semangat dan dukungan.
Jaga kesehatan dan tetap semangat!