KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
Episode 48


__ADS_3

“Cantik sekali.” Gumam pria itu masih menatap Bellova.


Karena barang bawaan nya yang banyak, Bellova masih menggunakan troli nya sampai di depan taksi. Saat itu tidak ada taksi yang


sedang menunggu penumpang.


Di lihat ke kiri, ke kanan, tidak ada satu pun taksi yang terlihat.


“Apa pakai taksi online aja?” ucap nya pelan.


Dia mengeluarkan ponsel nya untuk memesan taksi online dari aplikasi.


Baru saja ingin mencatat alamat penjemputan, ponsel nya berbunyi, ada seseorang yang menghubungi nya.


“Pak Abraham?” Bellova senang mendapat panggilan dari majikan nya.


“HALLO PAKK…” teriak Bellova saking senang mendapat telpon dari nya.


Sementara di seberang sana…


Abraham menutup telinga nya.


“Woy… ngapain teriak? Aku enggak budeg loh.” Ucap Abraham terkejut.


“Maaf, maafkan saya pak, itu karena saya senang mendapat telepon dari pak Abraham, hehehehe.” Tawa Bellova merasa malu.


“Kamu lagi ada di mana sekarang?” tanya Abraham sambil memegang kemudi mobil seorang diri.


“Saya… saya lagi ada di mall pak, habis belanja bahan makanan.”


“Di mana? Mall apa nama nya?”


Bellova melihat sekitar nya, karena dia juga tidak tahu ada di mana. “Di mall XXX pak.” Balas Bellova setelah menemukan nama mall nya,


berjalan sedikit ke depan untuk melihat tulisan di atas gedung nya.


“Oke, kalau begitu kau tunggu di sana saja dulu, aku sekalian mau pulang dan kebetulan searah juga.” Abraham sengaja ingin barengan


dengan Bellova, dan karena searah juga.


“APA? BAPAK MAU…..


“Jangan teriak!! Pelankan suara mu, apa kau mau membuat ku terkejut dan kecelakaan? Aku sedang bawa mobil juga nih.” Ucap Abraham merasa kesal, suara keras Bellova membuat nya terkejut.


“Ma…maafkan saya pak, saya…


“Sudah, jangan ngomong lagi. Kamu tunggu aja di sana, sebentar lagi aku udah mau sampai, nih udah masuk ke mall nya.” Ucap Abraham


memutar arah masuk ke dalam mall.


“’Baik pak, saya dekat pos tenda warna hijau ya.” Ucap Bellova, melihat lokasi terdekat yang gampang di kenali.

__ADS_1


Seorang pria berjalan mendekati nya, dengan maksud ingin mengajak nya ngobrol.


“Hai nona.” Sapa pria yang sedari tadi mengamati dan mengagumi nya.


Bellova mengernyitkan dahi nya.


“Iya? Ada apa?” tanya nya, meski merasa tidak kenal dia tetap berusaha ramah.


“Apa kamu sedang menunggu taksi? Kalau kamu mau aku bisa mengantar mu, karena aku lihat barang belanjaan mu banyak sekali, dan….


“Tidak usah repot-repot. Karena aku sudah datang menjemput nya.” Abraham memotong pembicaraan pria yang sedang mengobrol dengan Bellova.


“A….


“Sssttt…” Abraham meletakkan jari telunjuk di bibir nya sendiri agar Bellova tidak berbicara.


Dan gadis itu menganggukkan kepala nya.


“Oh, maafkan saya, kalau begitu saya permisi dulu.” Pria itu merasa tidak enak hati dan sedikit malu juga, meninggalkan Abraham dan Bellova.


Bellova melihat pria itu yang pergi.


“Lihatin aja terus. Apa dia pacar atau rekan dari kampung mu?” tanya Abraham yang melihat Bellova memperhatikan pria itu.


“Bukan kok pak Abraham, saya baru berbicara pada nya beberapa menit yang lalu, dia menawarkan bantuan untuk mengantar saya pulang, karena melihat belanjaan saya yang banyak. Tapi kan tidak jadi karena anda


sudah datang.” Bellova memberi penjelasan.


“Terus kamu kecewa karena tidak di antar sama pria tadi?” ledek nya.


“Lain kali jangan gampang menyetujui ajakan orang lain, karena kita tidak tahu, apa mereka itu orang baik atau jahat. Pantas saja kamu


bisa dengan mudah nya di tipu mereka dan berakhir di penjualanan manusia.” Sindir Abraham yang hanya ingin menasehati nya.


Bellova diam, menundukkan wajah nya, merasa sedih.


Melihat seperti itu, Abraham menjadi tidak enak hati, merasa bersalah.


“Ehem… tidak usah di pikirkan lagi, aku mengatakan seperti itu agar kedepan nya kamu tidak mengalami hal yang buruk seperti sebelum nya.” Abraham menggaruk kepala yang sebenar nya tidak gatal.


“Ini kita mau pulang atau masih menunggu berapa lama lagi? Apa sampai mall nya tutup dulu baru kita pulang?” Abraham sengaja mengalihkan pembicaraan nya, agar wanita itu tidak larut dalam kesedihan.


“Kita pulang sekarang saja pak, pak Abraham kan pasti sudah lapar, biar saya bisa langsung masak makan malam.” Wanita itu mengangkat kepala nya, berbicara dengan semangat tidak ingat dengan ucapan yang sebelum nya.


“Akhir nya..” gumam Abraham yang tersenyum.


Tanpa kata lagi, satu persatu belanjaan nya di masukkan di bagian bagasi mobil. Mereka berdua kompak mengerjakan nya.


Tidak lupa Abraham mengembalikan troli besi ke pos satpam yang ada. Tanpa di suruh pun, Bellova berinisiatif duduk di depan, samping


kemudi.

__ADS_1


“Sudah pintar sekarang.” Gumam Abraham tersenyum, menyusul masuk kedalam mobil. Mobil mereka akhir nya keluar dari area Mall, dan di belakang nya, mobil pria tadi sengaja menunggu mobil itu keluar.


“Siapa pria itu ya? Apa suami nya? Atau?” ucap pria itu setelah melihat mobil itu keluar.


*****


“Pria tadi tampan ya?” tanya Abraham, sebenar nya ingin melupakan itu, hanya untuk mencari topik pembicaraan.


“Iya pak, dia tampan, tapi tidak setampan pak Abraham…..


“Pppfftt…” spontan Abraham menahan tawa.


Bellova heran, dia tercengang melihat Abraham yang hampir tertawa.


Merasa lucu dengan wajah Bellova, Abraham seperti tidak bisa menahan tawa nya lagi.


“Hahahahaha……wajah mu itu loh… mulut nya di tutup…” ucap Abraham sambil tertawa terbahak-bahak.


Bellova langsung menutup mulut setelah di ingat kan.


“Anda kenapa tertawa?” tanya nya dengan nada polos.


Abraham menggelengkan kepala nya, masih menahan tawa.


“Terima kasih loh kamu sudah mengatakan aku yang paling tampan dari pada pria tadi. Aku tidak menyangka saja kamu bilang begitu.”setelah berhasil menghentikan tawa nya, Abraham menjawab pertanyaan gadis itu.


“Memang pak Abraham yang paling tampan kok. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya saja.” Ucap Bellova, wajah nya menatap jalan di


depan nya.


“Ngomong-ngomong kamu mau masak apa nanti?” Abraham mengalihkan pembicaraan, kembali fokus pada jalan raya.


“Mmmm… pak Abraham mau di masakin apa? Nanti biar saya siapin bahan-bahan nya.” Tanya nya, melihat kembali wajah Abraha.


Abraham mengusap bibir nya dengan jari telunjuk, yang bertumpu pada jendela kaca mobil, sambil berpikir menu makan malam yang di inginkan.


“Mmm…..Capcay dengan isian potongan ayam dan seafood, udang saos tiram, ikan sambal manis. Apa kamu bisa memasak nya?” tanya Abraham semangat.


Bellova tersenyum.


“Tentu saja saya bisa pak. Untung saja bahan-bahan nya sudah saya beli tadi. Bapak tenang saja, saya akan bikin masakan yang enak.” Ucap nya dengan percaya diri.


“Iya, aku percaya kok.” Balas Abraham dengan tersenyum.


.


.


.


Bellova : “ Bagaimana kalau kita buka rumah makan saja dan

__ADS_1


menjual menu makanan?”


Abraham : “Tidak usah, kau hanya memasak untuk ku saja.”


__ADS_2