KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
DUA GURU DAN MURID


__ADS_3

" Gue gapapa, Lak. Udah sekarang lo jemput Anya, lagian ini hari-nya lo sama dia. " Ujar Sea meyakinkan.


Kadang-kadang ia berfikir kalau dirinya adalah selingkuhan Galaksi atau pacar kedua Galaksi, karena Galaksi seolah memberi jadwal kapan dia bersama pacarnya dan kapan dia bersamanya dan Rian.


Galaksi masih menatap tidak tega Sea, " Lo yakin, udah gapapa? "


Sea menghembuskan nafasnya panjang, " Lo bilang gitu lagi, lo yang gue bikin sakit, nih! "


Galaksi terkekeh, Nah kalau udah ngegas gini kan, dia jadi yakin.


" Yaudah, kalau ada apa-apa kabarin gue. " Sambil bergantian menatap Rian, Setelahnya dia pergi untuk menjemput pacarnya yang bersekolah di Sekolah lain.


" Yan, Anterin gue ke tempat les balet. " Pintanya kepada Rian.


Rian mengacungkan dua jempolnya, " Hokeyy-- "


Keduanya sama-sama pergi ke motor sport milik Rian yang terparkir. Setelah keduanya menaiki motor, Rian dengan cepat mengemudikan motornya meninggalkan area Sekolah menuju tempat Les balet Sea.


Selang beberapa menit akhirnya motor Rian berhenti tepat di depan tempat les balet Sea, dia turun dari motornya.


" Pulangnya lo gimana? " Tanya Rian sambil menerima sodoran helm dari Sea.


" Gue bisa minta jemput helikopter gue atau  pesawat pribadi gue, gue kan kaya. "


Tak.


" Jangan bikin gue emosi! Nih, helm yang kalem, kalau nimpuk kepala lo, bisa buntung! " Sungut Rian dengan berapi-api.


Sea bukannya takut, ia malah geleng-geleng dengan menatap Rian kagum.


" Lanjutkan, itu namanya semangat daun muda. " Tukasnya dengan bersemangat, lalu ia berbalik pergi meninggalkan Rian yang masih terpaku.


" Sebenarnya yang gak waras gue atau dia, sih? Kok malah gue yang insinyur. " Gumamanya sambil menatap Sea yang sudah masuk.


Ia menggeleng cepat, lalu memilih menghidupkan motornya dan pergi dari sini. Otaknya kalau berhubungan sama Sea, kadang gak nyampek.


Keringat mulai bercucuran membasahi pelipisnya, satu tangannya yang bebas mengusapnya. Latihan hari ini berhasil menguras tenaganya, membuat perutnya sangat lapar, Padahal baru saja ia tadi makan malam.


" Sea, kamu harus lebih banyak latihan. Gerakan tangan kamu harus diperbaiki, dan rasa yang kamu tampilkan disetiap gerakan masih kurang. "


Sea kembali bersemangat memulai latihannya, setelah perkataan pelatihnya terlintas.


Sialan! Gue harus bisa jadi yang terbaik.


Jarum jam sudah menunjukan pukul delapan malam.


" Guys, udahan dulu hari ini. Kita pulang sekarang, trus istirahat. " Seru Nadira selaku orang untuk mengingatkan jam pulang disetiap latihan.


Serentak semuanya langsung terduduk di lantai untuk sedikit iatirahat. Barulah mereka pergi ke ruang ganti.


" Lumayan bor, latihannya. " Keluh Kanaya salah satu teman dekatnya di sini.


" Banget. " Ujarnya membenarkan.


Mereka melihat satu bilik kamar mandi yang kosong, sontak keduanya saling menatap.


" Mau siapa dulu, nih, yang pakai? " Tanya Sea.


Kanaya tersenyum cengengesan, " Gue duluan, ya? Udah ditungguin pacar, nih. "


" Ck! Yaudah, gih. Jangan lama-lama! "


Kanaya menegakan bahunya lalu bergerak hormat. " Wokehh-- " Serunya lalu masuk ke kamar mandi.


Sea mengulum senyum, lalu ia menatap rekannya di sekeliling dengan canggung. Ia memang sangat tidak mudah untuk bergaul, ia dekat dengan Kanaya juga karena Kanaya duluan yang mendekatinya. Mangkanya, ia hanya sedikit memiliki teman.


Tak lama Kanaya keluar dengan baju yang sudah ganti, " Mau gue tungguin atau duluan? " Tanyanya menawarkan atau mungkin hanya basa-basi.


" Gih, pergi. Pacar lo udah nungguin gitu. "


" Hehehe, lo peka banget sih. Sayang Sea banyak-banyak. " Kekehnya.


Sea mendengus sebal, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama ia keluar dengan pakaian yang sudah ganti.


Ia segera memasukan barang-barangnya ke totebag yang tadi ia bawa. Baru setelah itu ia pergi menghampiri Sean yang sudah menunggunya di dalam mobil.


Ia masuk ke mobil yang langsung menghampirinya.


" Kamu latihan atau pengen ngerjain Abang, sih! Lama banget, Se. " Gerutu Sean.


Sea langsung cengengesan, " Maaf, tadi Arse lupa bilang kalau latihannya lama. "


Sean langsung mendengua sebal, " Oh, iya. Tadi kenapa bisa jatuh? "


Sea menggidikan bahunya tak tau, " Kayaknya gara-gara kulit pisang, deh. "


" Mangkanya hati-hati, Se! " Tukas Sean yang hanya dibalas deheman dan setelahnya suasana mobil kembali senyap karena Sea yang tertidur dan Sean yang fokus menyetir.

__ADS_1


Setelah beberapa menit akhirnya mereka telah sampai, Mobil berhenti tepat di halaman depan Rumah mereka. Sea langsung turun dan pergi ke studio balet miliknya yang ada di samping halaman depan rumah.


" Arse, waktunya istirahat! " Teriak Sean memerintah dari dalam mobil.


" Iya, nanti. " Sahutnya dengan berteriak juga.


Sean mengerang frustasi, adeknya memang selalu keras kepala.


🐣


Sea mencoba mengurut leher bagian sebelah kanan, ia bahkan sudah mempersiapkan minyak urut dan koyo, siapa tau nanti masih gak bisa digerakin.


" Kenapa lagi, lo? " Tanya Galaksi yang baru menyadari.


" Salah tidur gue, Leher rasanya kayak mau dipatahin. " Keluhnya.


Ini adalah akibat karena dia ketiduran di studio balet, dan lupa meminta pelayannya untuk mengambil selimut dan bantal untuknya.


" Sini, gue patahin sekalian. "


" Sialan, lo! " Umpatnya.


Mobil telah berhenti di parkiran sekolah, mereka turun bersama-sama dengan Sea yang masih mencoba mengurut lehernya.


Sesampainya di kelas, Sea langsung duduk di bangkunya.


" Lak, urutin dong. Pegel jari gue, nyet! " Pintanya.


" Gue bukan tukang urut, mana paham urat gue. "


" Lah, menurut lo gue tukang urut gitu? Tinggal ngurut naik-turun naik-turun, Nyet! " Nyolot Sea.


" Lah, lo kok nyolot?! "


" Yah, terus gimana? Masa gue teleng terus? " Sewot Sea.


Dengan mendumel ia mengambil koyo yang ada disakunya, lalu membuka bungkusnya dan menempelkannya di area lehernya yang sakit.


" Njim, udah kayak mak-mak lo. Pakai koyo bergitu. " Ujar Rian dengan kekehannya yang baru saja menginjakan kakinya di kelas.


" Gak usah ceriwis, entar mulut lo yang gue kasih koyo! " Dengan tatapan tajamnya, Membuat Rian langsung bungkam.


Tak lama bel masuk sekolah telah berbunyi dan pelajaran sudah dimulai. Beberapa jam akhirnya bel istirahat berbunyi, rasa kantuk Sea akhirnya terobati. Tapi semangatnya sudah terganti dengan kekesalan karena Abangnya yang tiba-tiba masuk ke kelas dan menggeretnya.


" Pelan-pelan Bang, nafsu bener. Leher masih teleng, nih! " Sungutnya, tapi tak diindahkan Sean meskipun dia sedikit mengurangi kecepatan menggeret Sea.


" Sam, makasih karena lo mau ngajarin adek gue. Kalau bisa secepatnya, ya? "


Loh, loh. Ada apa, kenapa ini? Kok dia jadi lem tu de mot seketika, ini. Masa Bang Sean minta tolong sama pohon?


" Gue titip dia. " Setelah mengatakan itu, Sean pergi meninggalakan Sea dengan kebingungannya.


" Eh? "


Sea langsung menatap terkejut pria yang baru saja keluar dari balik pohon. " Lo kan, cowok yang gak mau nolongin gue kemarin, kan? " Tanyanya dengan suara naik 3 oktaf.


" Ck! Kalau tau lo, gue juga males! " Ketus pria itu, yang tak lain Samudra.


" Heh--, Gue juga males sama lo, Bye! " Tak kalah ketus.


Ia lalu berbalik dan bersiap pergi jika genggaman Samudra tidak menahannya.


" Mau gak mau, lo sekarang jadi murid gue! " Tukasnya lalu menyentak tangan Sea agar kembali menghadapnya.


Murid? Apa-apaan itu? Ia tidak ingin punya guru yang seperti ini.


Mungkin karena kekencangan, Lehernya yang tak bisa menoleh ke kanan langsung sakit saat tarikan itu.


" AHH!! "


Setelah kejadian itu, kekesalannya semakin bertambah kepada pria yang baru saja ia ketahui namanya adalah Samudra itu. Dan sekarang ia dipaksa belajar dengannya di sebuah Kafe dekat sekolah, setelah sepulang sekolah. Tapi satu yang bisa ia syukuri, telengnya sudah sembuh.


Sialan, sialan, sialan!


Tak.


" Belajar yang bener, jangan ngedumel mulu! " Tukasnya setelah menggeplak kepala Sea dengan gulungan buku tulisnya.


Loh? Kedengeran, toh?


Sea mengaduh sakit sambil memegangi kepalanya yang kena geplakan.


" Woy! Ini kepala, main asal geplak aja. Gimana kalau gue jadi bodoh?! "


" Udah bodoh lagi, --- "


Sea semakin mencebikan bibirnya, " Huwahh-- pokoknya gue gak mau belajar! Gue mau pul--pftwftw. "

__ADS_1


" Sutt! Jangan bikin gue malu, dong. " Desisinya sambil menebar senyum palsu kepada beberapa pengunjung yang melihat mereka terganggu.


Samudra langsung melepas bungkamannya di mulut Sea saat dirasa sesuatu yang basah ditelapak tangannyanya.


" Iyyuwhh--, ahh tangan gue tercemar!. "


Sea tersenyum puas melihat Samudra yang sibuk mengelap telapaknya yang kena ludahannya.


Mangkanya jangan macam-macamg sama gue!.


" Lo-- " Dengan menunjuk Sea.


Sea sedikit ketakutan melihat Samudra yang terlihat marah.


Glek.


Samudra tersenyum menatap Sea, bukan senyum manis, tapi senyum yang mengerikan bagi Sea.


" Sekarang lo pahami materi yang gue kasih tadi, kalau gak paham, lo gak bisa pulang! "


" Lahh-- " Sea langsung menutup kembali mulutnya saat tatapan tajam Samudra menghujaninya.


Sea langsung kembali memfokuskan dirinya memahami materi yang diberikan Samudra.


Ayo otak, kali ini lo harus kerjasama. Gue gak mau seharian sama dia!


Samudra mengulum senyum puasnya melihat Sea yang sudah mulai fokus. Memang benar, Sea perlu diajari oleh orang yang ditakutinya tapi diwaktu bersamaan dia ingin memberontak.


Setelah dua jam Sea mencoba memahami dan sesekali bertanya ke Samudra, akhirnya perjuangannya tidak sia-sia. Ia berhasil memahami materi fisika yang diberikan dan menjawab pertannyaan yang dilontarkan Samudra.


" Gue udah buat soal untuk PR lo, besok udah harus selesai. "


Sea menerima lembaran folio itu, lalu melihat soalnya.


Du-dua puluh?


" Banyak banget, lo mau bikin rambut gue kesetrum? " Sungutnya.


" Gue masih berbaik hati gak ngasih 50 soal. " Ujarnya.


Oke, mungkin memang lebih baik 20 soal.


" Eh-eh, lo mau kemana? " Tanya Sea melihat Samudra yang beranjak pergi.


" Pulang. "


" Trus, lo gak nganterin gue gitu? "


Samudra mengrenyitkan dahinya menatap Sea.


" Ngapain? Kaki masih ada, ponsel ada, trus taksi juga banyak. "


Sea mengerucutjan bibirnya menatap Samudra.


Dasar lelaki gak gentle!


Samudra kembali berbalik.


" Ayok. "


Sea langsung menatap senang Samudra yang berjalan duluan.


" Siap, laksanakan. " Ujarnya lalu pergi mengikuti Samudra.


Lumayan uang gue sisa banyak.


" Maaf, mbk. Pesanannya belum dibayar. "


Hah?


Ia menatap pelayan tersebut bengong, lalu beralih menatap Samudra yang tergelak tawa.


Sialan gue dikerjain lagi!


" SAMUDRA!! "


" Bakal gue bunuh, lo! "


...©©©©©©©©©©...


...Thank's For Reading, Guyss...


...Oh Iya, jangan lupa kasih like yaa...


...Dan komen, agar saya lebih baik lagi kedapannyaa....


...see youu*...

__ADS_1


__ADS_2