KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
Episode 29


__ADS_3

“Kamu duduk juga, ngapain berdiri seperti itu, apa tidak capek?” Abraham tidak suka ada yang berdiri di samping nya saat makan. Dia


sudah duduk, tapi gadis itu berdiri, membuat nya tidak nyaman.


“Tapi pak, saya kan cuma pelayan saja, lagi pula….


“Aku bilang duduk ya duduk… jangan banyak kata ‘tapi’, aku tidak suka.”


“Baik pak.” Akhir nya Bellova pasrah, dan duduk di kursi kosong, jarak nya ada 3 kursi yang kosong.


Abraham menyendokkan nasi ke dalam piring nya.  Bellova menuangkan air minum di gelas untuk majikan nya. Dan setelah di suruh lagi, gadis itu menyendokkan makanan juga di


piring nya. Di meja makan, hanya mereka berdua saja. Bellova makan dengan gugup


dan ragu.


“Makanan nya enak juga, ternyata kamu benar-benar bisa masak ya. Aku salut pada mu.” Puji Abraham sambil mengunyah makanan yang ada di mulut nya.


“Terima kasih pak, saya senang kalau anda suka masakan saya.” Jawab Bellova.


“Apa kamu juga bisa masak ayam bakar kecap? Kalau kau bisa, tolong di masak ya, aku lebih suka daging dari pada ikan.” Pinta nya.


“Saya….bisa kok pak. Asal bahan nya sudah lengkap, saya bisa masak yang enak buat anda. Apa anda suka sayuran? Biar saya tahu sayur apa yang anda suka.” Tanya nya yang sambil makan.


“Aku lebih suka lalapan, tumis, dan goreng-goreng an. Tidak suka yang terlalu berkuah dan bening. Oh ya, jauh kan bayam dan kemanggi dari ku, karena itu yang paling tidak aku suka.” Abraham memberitahukan apa yang di suka dan tidak di suka.


“Baik pak, akan saya ingat.” Jawab Bellova.


“Ternyata kalau mengobrol seperti ini, pak Abraham bisa berbicara santai juga.” Gumam Bellova dengan bibir terangkat.


******


Arshinta yang sedang menginterview satu-persatu pelamar, sambil menunggu kedatangan Satmaka dan Rakha. Sudah ada sekitar 15 orang yang selesai. Ada Ruly juga yang membantu nya. Pertanyaan yang di sampaikan Arshinta tidak terlalu sulit, dia lebih mencari yang sabar, dan tulus dalam mengajar dan bekerja. Tidak ingin menerima guru-guru yang asal-asal an.


Arshinta bisa memberikan gaji yang besar, asal kan bisa bekerja dengan baik.


Di lihat nya ada Satmaka dan Rakha yang berdiri di depan pintu, sedikit jauh agar tidak mengganggu. Mereka saling memberi senyum, sebagai tanda untuk bisa menunggu. Pelamar yang ada di hadapan Arshinta adalah

__ADS_1


yang terakhir sebelum istirahat siang.


“Baik lah ibu Tiara, mohon di tunggu untuk hasil akhir nya. Karena sudah menjelang istirahat, sebaik nya anda istirahat dulu. Tapi nanti anda kembali lagi ke sini ya, untuk mendapatkan hasil nya.” Ucap Arshinta


sebagai kata penutup.


“Baik bu Shinta, saya harap saya bisa di terima bekerja di sini.” Ucap nya menjabat tangan Arshinta.


Setelah ibu Tiara pergi, Arshinta mengambil tas kecil dan keluar untuk menemui Satmaka yang sedang menunggu.


“Maaf ya sudah membuat kalian menunggu.” Ucap nya dengan langkah sedikit cepat.


“Tidak apa-apa kok, kami saja yang datang nya terlalu cepat.” Ucap Satmaka dengan tersenyum.


“Hallo kak Shinta…” Rakha yang tidak mau kalah, memberikan sapaan pada Arshinta. Tangan kecil nya yang masih menggenggam tangan Satmaka.


“Hallo anak tampan. Sudah lapar ya?” Arshinta berjongkok, mengusap kepala Rakha.


“Sudah nih kak, ayo kita makan….


*****


Abraham dan Bellova juga sedang dalam perjalanan ke pusat belanja. Awal nya Bellova tidak ingin duduk di depan, seperti biasa, Abraham memaksa nya dan duduk lah dia di samping Abraham di depan.


Bellova selalu jaga jarak agar pria yang sudah menolong nya itu tidak marah apa lagi risih pada nya.


Sesekali wanita itu mencuri pandang melihat Abraham, lalu mengalihkan pandangan nya ke tempat yang lain agar tidak ketahuan.


“Aku tampan ya?” tanya Abraham yang sadar kalau sedari tadi di pandangi Bellova.


“A…. apa?” tanya Bellova yang terkejut dengan pertanyaan Abraham.


“Aku tahu kamu dari tadi ngeliatin terus. Maka nya aku tanya, apa aku tampan?” ucap Abraham yang sangat fokus dengan jalanan.


“I..iya, pak Abraham…sangat…. Sangat tampan..” Bellova menjawab dengan jujur walau gugup.


Abraham senang di puji seperti itu.

__ADS_1


“Lebih tampan siapa di antara pria-pria yang ada di rumah keluarga ku?” tanya nya lagi.


Abraham sebenar nya bertanya itu untuk membuat wanita itu tidak canggung.


“A….anda yang paling tampan… lalu…. Lalu tuan… Aditya.” Jawab nya terkesan malu.


“Hahahaha…. Ternyata Aditya saingan ku ya. Tapi tidak apa-apa, selama aku yang menduduki peringkat pertama. Dari dulu juga begitu, Aditya selalu berada di urutan kedua.” Abraham yang tertawa mengubah image


galak di mata Bellova.


Abraham yang ternyata banyak bicara itu membuat Bellova kagum. Hampir semua ucapan Abraham tidak di dengar dengan benar, itu di buat sebagai kesempatan nya untuk bisa melihat Abraham lebih lama.


Sesekali gadis itu merespon dengan menganggukkan kepala nya.


“Oh ya, apa kau berencana untuk lama bekerja dengan ku?” tanya Abraham.


Kening Bellova mengkerut.


“Ma…maksud nya pak?” Bellova yang takut untuk di usir terlihat khawatir.


“Maksud ku apa kau ingin pulang ke desa mu? Kalau kau mau pulang, aku akan memberikan uang untuk mu.” Jawab nya melihat Bellova sebentar.


Gadis itu diam, berpikir dengan wajah melas nya.


“Ada apa? Kenapa malah diam? Dari tadi kamu tersenyum terus.” Tanya Abraham yang tidak tahu dengan perubahan mimik wajah Bellova.


“Apa….apa pak Abraham tidak mau kalau saya bekerja dengan anda? Atau apa saya sangat merepotkan anda?”


“Bukan begitu….


“Saya janji akan bekerja dengan baik pak, saya tidak akan makan banyak, tidak akan minta gaji yang besar juga. Asalkan saya….. saya bisa bekerja dengan anda.” Ucapan nya pelan, tidak berani melihat Abraham yang melihat nya.


“Pppffftthh…. Hahahahha….. siapa yang melarang mu untuk makan banyak….. aku kan tanya apa kamu mau pulang atau tidak? Apa kamu betah bekerja dengan ku atau tidak… tapi kenapa kamu malah jawab nya seperti itu. …


“Aku tidak masalah kalau kamu mau bekerja di rumah ku, karena aku suka dengan masakan rumahan dari pada memesan nya di online. Tapi kalau kau ingin pulang, aku juga kan tidak bisa melarang nya.”


Bellova melihat Abraham, tidak di sangka nya kalau pria itu mengatakan seperti itu. Perkataan yang membuat nya senang.

__ADS_1


__ADS_2