
“Saksi dari Bossa sudah sadar sekarang, tapi kita harus tetap menjaga nya. Karena sudah beberapa kali dia berusaha untuk membunuh nya.” Ucap Abraham.
“Tapi, walaupun ada saksi dari Bossa, dia tidak akan di hukum atau masuk penjara, kalaupun di penjara hanya hitungan bulan saja, setelah itu dia akan bebas lagi.” Venam menjelaskan.
“Benar, lebih baik dia mati saja, dari pada melakukan kesalahan yang sama. Aku harap dia mati di bunuh ketua kelompok mafia, siapa itu nama nya, De…Deadly Poison, Lucifer.” Ucap Ridwan.
Abraham dan adley saling menatap.
“Aku dengar Lucifer itu sangat kejam dan kasar, dia juga sudah banyak membunuh orang, memakan mereka setelah di bakar, memotong tu-
“Kau tahu dari mana Ridwan?” Abraham langsung bertanya.
“Semua orang sudah pasti tahu itu pak Abraham.”
“Tapi aku belum pernah dengar?”
“Anda kurang informasi saja. Tapi dia hanya melakukan pada musuh nya saja kok.” Jawab Ridwan.
“Aku saja anak nya merasa tidak percaya. Apa itu benar? Aku harus tanyakan ini pada papa.” Gumam nya dalam hati.
__ADS_1
“Tutup mulut mu Ridwan, sebelum tubuh mu yang di makan anak Lucifer ini, apa kau tidak tahu kalau itu adalah orang tua atasan mu ini?” gumam Adley dalam hati juga, melirik Ridwan yang tidak tahu apa-apa.
“Baiklah, karena semua nya sudah selesai, aku mau pulang. Kau, jangan lupa obati pak Yanto sampai sembuh.” Tunjuk Abraham pada anak buah yang menangkap Yanto.
“Baik pak.”
Abraham mengajak Bellova untuk pulang, dan beberapa anggota lainnya yang bergantian sift atau jadwal.
“Kami permisi dulu.” Bellova menundukkan wajah nya untuk memberi hormat pada anak buah Abraham, tangan nya sudah di tarik Abraham.Mereka heran dan hanya membalas dengan tersenyum saja.
“Itu tadi… isteri nya pak Abraham?”
“Ramah sekali sih, tapi-
*************
“Kamu mau makan malam di mana?” Abraham bertanya pada Bellova yang sudah duduk di samping nya.
“Kamu sudah lapar?” Bellova melihat Abraham.
__ADS_1
“Tentu dong. Memang nya kamu belum lapar? Ini kan sudah jam 6.” Jawab santai.
“Aku belum lapar. Tapi kalau kamu mau makan, makan saja duluan. Aku makan di rumah saja.” Jawab Bellova yang sudah mulai bisa tenang.
“Hhhmm… ya sudah deh, kalau begitu kita makan di rumah saja. Kamu tidak apa-apa kalau memasak makanan di rumah?”
Bellova mengangguk, “ Iya, aku kan suka memasak.” Jawab nya tersenyum.
“Apa ada yang ingin kamu beli? Misal nya daging, ikan atau apa gitu? Biar sekalian kita mampir.” Abraham menawarkan.
Bellova berpikir sejenak, “Ada, tapi tidak terlalu banyak sih.”
“Kalau begitu kita belanja bahan-bahan nya dulu ya. kebetulan searah jalan pulang kita.” Ucap Abraham.
Bellova mengangguk lagi.
************
“Kamu tidur di sini saja Rafhael, nanti biar pelayan nya yang mempersiapkan kamar untuk mu.” Eva mengajak Rafhael untuk tidur di rumah nya.
__ADS_1
“Iya tante, awal nya aku memang mau menginap di sini. Ngomong-ngomong di mana tiga sepupu ku tinggal? Apa mereka tidak pernah datang kesini?” tanya Rafhael duduk bersandar di sofa, bersamaan dengan Lucifer yang membaca koran.
“Mereka tinggal di tempat nya masing-masing, tapi sering kok datang kesini. Oh ya, Abraham sudah menikah loh.” Eva memberitahukan pada Rafhael.