
“Aku sudah mengatakan sebelum nya kan? Hubungan kita adalah suami dan isteri, bukan majikan dan pelayan. Kalau orang tua ku tahu aku memperlakukan mu seperti itu, aku bisa mati di tangan mereka, apalagi papa ku itu. Jadi…tolong di ralat ya.” Ucap Abraham.
“Tapi, sebagai…isteri juga, saya….saya harus..
“Dan juga jangan bicara formal seperti itu ah. Risih aku dengar nya. Pakai bahasa informal saja, seperti aku dan kamu, gitu saja.” Abraham memotong ucapan Bellova.
“Tapi saya..
“Aduh Bellova, kamu kok banyakan tapi-tapi nya sih? Susah ya jadi isteri nurut? Lagipula aku kan tidak menyuruh mu melakukan hal yang berat dan memalukan. Dulu kamu tidak seperti ini loh kalau bicara dengan ku.” Abraham
menjelaskan nya kembali, walau sedikit emosi karena kekeras kepalaan Bellova, apalagi Abraham yang sudah sangat lelah.
“Ma..maafkan say…aku. Maafkan aku.” Jawab Bellova.
“Nah, gitu dong. Kalau kau keras, aku bisa lebih keras lagi.” Ucap Abraham.
Bellova menundukkan wajah nya, merasa bersalah.
__ADS_1
“Tapi kau jangan khawatir, walaupun kita menikah dadakan kayak tahu bulat di goreng dadakan, percayalah, aku tidak main-main dengan yang namanya pernikahan. Menikah tanpa rasa cinta atau kasih sayang. Bisa saja kan,
seiring nya waktu akan ada cinta diantara kita.” Ucap Abraham serius.
Tes..tes…tes..
“Loh, kok kamu jadi menangis sih? Apa yang sudah aku lakukan?” Abraham terkejut melihat Bellova yang menangis dalam diam nya.
Bellova mengusap pipi dan hidung nya.
“Kalau tidak apa-apa, kenapa kamu menangis? Apa kamu lapar? Kamu mau buang air? Kamu haus?” Abraham panik.
Bellova menggelengkan kepala, masih menangis.
Abraham mencari tempat untuk berhenti, melihat keadaan Bellova.
“Apa kamu lelah? Kamu mau tidur? Hmm? Ada apa?” Tanya Abraham setelah memarkirkan mobil nya, berusaha membujuk Bellova untuk bercerita.
__ADS_1
Semakin di bujuk, Bellova semakin sulit mengendalikan air mata nya. Abraham malah merasa menyakiti dan merasa bersalah pada nya.
Dia menarik tisu, mengusap air mata Bellova.
“Kamu kalau ada kesulitan, bicara saja. Apa ada sesuatu yang kasar yang aku lakukan pada mu? Kalau ada, aku minta maaf ya. Aku tidak ada niat kasar kok sama kamu. Wajah dan omongan ku saja yang kasar, tapi aku tidak
bermaksud menyakiti mu loh.” Ucap Abraham menjelaskan diri nya.
“Bukan anda yang salah Pa… Bram. Say…Aku…Aku hanya merasa bersalah dan menganggap tidak pantas untuk menjadi isteri anda. Anda harus menikah dengan ku, karena masalah ku sendiri. Hhiks.. Hiks..Hiks..” Tangis Bellova.
“Padahal, dengan jabatan pendidikan anda, anda bisa saja menikah dengan wanita yang setara dengan anda, tidak..tidak seperti…saya, yang…yang hanya..lulusan SD saja, hiks..hiks..hiks..”
Bellova terus bercerita, mengusap air mata dan air hidung nya. Abraham hanya diam sambil memperhatikan wanita itu. Di biarkan nya sampai dia puas menangis. Dia melipat kedua tangan di depan dada nya, posisi mobil mereka pun sudah terparkir di sisi kiri jalan.
Sesekali Abraham memberikan tisu baru untuk Bellova, dan wanita itu menerima sambil mengusap air mata nya. Ada rasa menggelitik untuk Abraham melihat tingkah nya. Dia berusaha menahan tawa nya itu, tidak ingin Bellova merasa tidak enak hati dan malu lagi. padahal itu adalah hal yang lucu bagi nya.
“Wanita ini. Pikiran nya terlalu jauh. Entah dia lugu dan polos atau… bodoh. Sebenar nya aku juga tidak keberatan menikah dengan nya. Kenapa dia yang merasa bersalah?” Ucap Abraham dalam hati.
__ADS_1