
“…Va..”
“Lova….”
“Bellova…”
Beberapa kali Abraham memanggil nama isterinya yang masih tertidur di sampingnya.
“Hhmm… kenapa?” Bellova membuka matanya perlahan menatap Abraham yang melihatnya juga.
“Kita sudah sampai.” Jawab Abraham menunjukkan sebuah halaman yang luas.
Bellova melihat dari jendela, pesawat yang sudah berhenti dan mendarat diatas tanah.
“Kenapa banyak sekali orang-orang dibawah sana? Dan…. Dan ini…. Oh ya ampun… Bram, ini…
“Iya, ini sudah di desa kamu. Sekarang ayo kita turun dulu, Ayah dan yang lainnya sudah turun lebih dulu.” Abraham mengulur tangannya agar di genggam Bellova dan sama-sama turun.
Bellova menerima uluran tangan, mereka berdua berjalan bersama.
Ayah, Ibu dan anak-anaknya sudah turun dari pesawat.
“Ibu, kenapa banyak sekali orang di sini?”
“Ibu juga tidak tahu ayah, mungkin karena ada pesawat yang turun di sini.”
“Eh… itu kan Ibu Lila dan Pak Rio!” seseorang menunjuk kearah orang tua Bellova.
__ADS_1
“Iya, benar. Kenapa mereka bisa keluar dari pesawat itu-
“Lihat itu! itu anak pertamanya, si Bella.”
Orang-orang di sana adalah tetangga Bellova, mereka heran karena ada pesawat yang mendarat di lapangan bola.
Abraham dan Bellova berjalan di sekitar tangga, karena takut jatuh, Bellova menggenggam tangan Abraham
dengan erat.
“Kalau tadi kau sedikit lagi belum bangun, aku akan menggendongmu untuk turun.” Ucap Abraham yang berjalan sedikit di depannya.
“Kalau begitu seharusnya kau menggendongku.” Ucap Bellova dengan suara pelan.
“Apa? Jadi kau mau aku gendong saja?” Abraham mendengar ucapan Bellova dan langsung menolehnya.
“Bagaimana caranya pesawat bisa berhenti disini? Ini kan bukan tanah kami.” Tanyanya dalam hati.
Setelah semuanya sudah turun dan berkumpul.
“Tuan muda.” Anak buah Lucifer menghampiri mereka dan memberi hormat.
Abraham tersenyum pada mereka, “Ternyata kalian cepat bergerak juga ya. Apa ada masalah di sini?” tanyanya melihat di sekitar.
“Awalnya pemilik tanah dan RT setempat tidak mau, tapi kami menawarkan uang dan akhirnya mereka mau
dan beres.” Jawab anak buahnya.
__ADS_1
“Hm.. tentu saja mereka mau, siapa sih yang tidak terpikat dengan uang.” Balas Abraham.
“Baiklah, kalian tetap jaga di sini, karena aku dan isteriku akan kembali langsung setelah mengantarkan mertuaku kerumahnya.” Suruh Abraham lagi.
“Baik tuan muda.” Jawab mereka serentak.
Bellova yang berdiri disamping Abraham semakin kagum pada suaminya. Dia bangga memilikinya sebagai
pasangan. Bukan karena dia memiliki banyak uang, tapi dia sangat senang karena ada yang berusaha untuknya dan keluarganya.
Setelah turun dari pesawat, mereka di tuntun untuk masuk kedalam mobil lagi untuk langsung diantar sampai kedepan rumahnya.
Karena masih ragu, mereka menunggu kedatangan Abraham.
“Masuk saja Ibu, mereka adalah anggota kita.” Suruh Abraham yang tahu kegelisahan Ibu mertuanya.
“Anggota?” tanya suaminya berbisik, dan si isteri hanya mengangkat kedua bahu, tidak mengerti juga apa maksud dari ‘anggota’.
Semua juga sudah masuk kedalam tiga mobil, dimana ada satu tambahan mobil untuk menjaga mereka dari belakang. Abraham dan Bellova berada di barisan depan.
Hanya 10 menit saja jarak yang di tempuh jika naik mobil, kalau berjalan kaki pasti lebih lama lagi, apalagi dengan membawa barang-barang sebelumnya.
“Apa ini semua sudah kamu atur?” tanya Bellova pada Abraham.
“Hm? Oh ini.. iya, biar tidak mengulur terlalu banyak waktu.” Jawab abraham.
“Terima kasih ya.” ucap Bellova tersenyum menundukkan wajahnya, menutupi rasa gugup yang di rasakan.
__ADS_1