
Arshinta dan Rakha mengantar Satmaka sampai ke Bandara.
Seperti isteri dan anak yang mengantar suami nya bekerja ke luar kota.
“Rakha sama kak Shinta dulu ya, dan jangan nakal. Jangan buat kak Shinta nya kerepotan.” Satmaka menasehati anak nya sebelum berangkat.
“Iya pa, hati-hati di jalan ya pa.” Rakha mengangguk menerima nasihat papa nya.
“Aku pergi dulu ya, nanti kalau ada butuh sesuatu, kamu bisa menghubungi ku.” Sekarang Satmaka pamit pada Arshinta.
“Iya, gampang itu.” Arshinta menjawab santai.
Satmaka yang masih berdiri di depan Arshinta, menatap nya sambil mengusap kepala gadis itu, Arshinta mengernyitkan dahi nya, tidak
mengerti.
Setelah mendengar pengumuman pemberangkatan pesawat nya, Satmaka bersiap-siap berangkat, tidak terlalu banyak yang dia bawa.
Baru dua langkah maju, dia berbalik dan menghampiri Arshinta yang masih berdiri di belakang nya.
“Cup..” spontan Satmaka mencium kepala wanita itu, lalu segera pergi, seperti tidak ada masalah.
Arshinta merasa ada yang aneh,Satmaka melambaikan tangan dan tersenyum, Arshinta dan Rakha juga membalas lambaian tangan nya.
“Apa yang barusan terjadi tadi? Apa Satmaka melihat sesuatu di rambutku? Masa iya sih dia mencium kepala ku tanpa alasan?” gumam Arshinta tidak percaya.
“Kak Shinta, Aka lapayl..” Arshinta tersadar setelah Rakha menggoyangkan tangan yang di genggam Arshinta.
“Iya sayang, kita makan ya.” Arshinta menggendong Rakha agar cepat berjalan.
Sementara itu Satmaka yang sudah masuk dalam pesawat…
“Apa yang aku lakukan? Aku mencium nya? Walaupun cuma kepala, tapi…. Ya ampun… aku malu sekali, apa yang ada dalam pikiran nya
sekarang?” gumam Satmaka, baru merasa malu dengan perbuatan nya.
**********
“Selamat datang di Jakarta tuan Bossa..” sapa salah satu anggota dari Bossa, dia dan beberapa rekan nya menyambut kedatangan bos besar nya di negara itu.
Bossa, bos besar Shadow, walaupun sudah tua, tapi wajah garang dan tubuh besar nya masih bisa menakutkan orang-orang di sekitar nya.
Dengan memakai jas yang panjang seperti jubah, berwarna hitam juga kacamata nya. Mata di balik kacamata itu menatap tajam sekitar nya.
__ADS_1
“Di mana Felix?” tanya nya dengan suara bas nya.
“Mereka ada di hotel untuk menyambut anda.” Jawab nya.
Bossa dan yang lain nya segera pergi, meninggalkan bandara, tidak lama dari Arshinta dan Akha yang baru saja meninggalkan lokasi.
“Dia sudah tiba di Indonesia, dan sekarang akan keluar dari Bandara.” Salah satu anak buah Abraham memberitahukan informasi.
“Bagus, tapi tetap jaga jarak dari nya, jangan sampai ketahuan dan hindari bahaya.” Balas Abraham.
Lalu mengikuti Bossa dari belakang. Dengan menggunakan mobil.
Mereka yang sudah keluar dari Bandara, dan berada di jalan raya, mobil Arshinta berada di depan mobil Bossa, di belakang nya tidak jauh,
mobil anak buah Abraham, Herman bersama dengan satu rekan nya.
“Hhhmmm… ada yang mengikuti kita. Tambahkan kecepatan mobil nya.” Bossa yang sudah mengetahui kalau ada yang mengikuti nya, tetap tenang dan santai.
Mobil yang membawa Bossa pun sangat cepat, tidak perduli dengan mobil-mobil yang lain nya, bahkan hampir menyenggol mobil Arshinta yang ada di depan nya.
Anak buah Abraham juga tidak mau diam, dia menambahkan kecepatan. Di dalam jalan tol, mobil yang saling berkejaran itu membuat
pengendara lain marah dan kesal, bunyi klakson dan teriakan di abaikan mereka.
Bossa tetap tenang, namun bibir nya terangkat walau sedikit, tersenyum tenang.
“Apa yang mereka lakukan? Sudah tahu banyak kendaraan malah main kejar-kejaran.” Ucap Arshinta kesal.
Rakha yang duduk di samping sudah menggunakan sabuk pengaman, sibuk dengan mainan nya.
Tidak lama kemudian mobil anak buah Abraham melaju lagi, melewati mobil Arshinta.
“Loh… itu kan rekan kerja nya kak Abraham?” Arshinta melihat sekilas pengemudi mobil yang melewati nya.
“Apa mereka sedang mengejar penjahat ya?” tanya nya sendiri.
“Kak Shinta bicaya sama siapa?” tanya Rakha menyadari kakak nya berbicara sendiri.
“Tidak apa-apa Ka.” Arshinta menenangkan Rakha.
“Siapa yang mereka kejar ya?” ucap nya dalam hati.
Arshinta yang sangat penasaran pun ikut mengejar.
__ADS_1
“Seperti nya ada tambahan lagi yang mengejar kita. Bawa ketempat yang sepi, dan habisi mereka tanpa jejak.” Ucap Bossa tenang.
“Siapa lagi mereka? Apa mereka tidak tahu siapa yang mereka lawan? Bukan manusia, tapi monster.” Gumam anak buah Bossa, Teddy.
“Mereka memasuki kawasan XXX, seperti nya itu adalah jalan yang sepi.” Anak buah Abraham memberikan laporan.
sementara itu Abraham sudah membagi tiga kelompok. Abraham dan Adley berada dalam titik A, Venam dan rekan nya di titik B, dan Ridwan beserta beberapa rekan nya berada di titik C. Dan Bossa menuju titik C. Abraham
segera memberi laporan dan arahan agar Ridwan tetap waspada.
Tiga mobil yang terus cepat, hingga akhir nya memasuki kawasan sepi.
“Berhenti di sini dan habisi mereka, kalau ada wanita atau anak kecil, bawa mereka pada ku dalam keadaan hidup.” Suruh Bossa, dia tahu ada wanita dan anak-anak yang mengikuti nya.
“Mereka berhenti.” Ucap Arshinta dan anak buah Abraham bersamaan.
Arshinta mengambil pistol kecil dari laci mobil nya.
“Rakha di sini dulu ya, jangan keluar dari mobil.” Ucap Arshinta.
“Kakak mau tangkap penjahat lagi?” tanya anak kecil itu polos.
“Iya. Makanya Akha di sini saja.” Jawab Arshinta.
“Oke kak, nanti penjahat nya kasih sama om Abram aja.” Ucap Akha, dengan imut.
Arshinta tersenyum, senang kalau Rakha bukan anak yang rewel dan cengeng.
Arshinta turun dari mobil nya, mobil nya berada di tengah-tengah Bossa dan anak buah Abraham.
“Ya ampun, itu kan nona Arshinta, apa yang sedang di lakukan nya di sini?” anak buah Abraham mengenali wajah Arshinta.
“Pak Abraham, di sini ada nona Arshinta, dan dia membawa pistol di belakang nya.” Laporan untuk Abraham.
“Apa?? Kenapa dia bisa ada di situ? Awasi dia, jangan sampai dia terluka.” Suruh Abraham, dia sangat panik dan khawatir.
“Arshinta ada di sana? Sedang apa Bram?” tanya Adley yang mendengar laporan itu.
“Aku tidak tahu. Sebaik nya kita kesana!” Abraham dan lain nya bersiap-siap pindah ke titik C.
******
“Wah, ternyata memang benar ada wanita di sini. Bos Bossa sangat hebat.” Ucap Teddy, yang bertugas untuk menyelesaikan nya.
__ADS_1
“Kalian urus yang pria nya, biar aku yang membawa wanita itu, pasti ada anak kecil juga di dalam mobil.” Suruh Tedy membagi tugas.
Arshinta yang bersiap-siap, tapi tetap waspada, dari luar terlihat wanita anggun, lemah lembut, menggunakan dress berwarna putih sebatas lutut, namun tatapan mata nya, sama tajam seperti papa nya, Lucifer.