
Setelah semua sudah duduk di tempat yang nyaman, pesawat akan mulai naik, bergerak keatas.
“Paman, kita akan berangkat?”
“Iya.” Jawab Hendra.
“Berapa lama nanti kita sampai di rumah, paman?”
“Sekitar dua jam.” Jawab hendra lagi.
“Wah cepat juga ya.”
“Paman, apa kita tidak beli karcis?” tanya Dino yang melihat pemandangan langit dari jendela.
“Bukan karcis, tapi tiket.” Adiknya protes membenarkan ucapan kakaknya.
“Sama saja kan.” Dino yang tidak mau mengalah.
Suasana sangat ramai sekali oleh ocehan-ocehan adik-adik Bellova.
“Ibu, seberapa kaya menantu dan besan kita ini?” tanya Ayah berbisik pada isterinya yang kagum dengan pemandangan di luar.
“Ayah, jangan tanya seberapa kaya nya, tapi tanya apa masih ada yang kurang atau tidak ada yang dimilikinya lagi? bukan cuma besan kita saja, tapi keluarganya yang lain, mereka juga pasti sangat kaya raya.” Jawab isterinya yang tidak heran.
Bellova menikmati pemandangan, tanpa henti tersenyum sendiri, dia tidak sadar kalau Abraham suaminya duduk disamping dan memperhatikannya.
“Bram, kenapa Cuma ada kita saja di pesawat ini? Mana penumpang yang lain?” tanya Bellova menoleh
Abraham.
“Tidak ada penumpang lain.”
“Kenapa?”
“Itu karena ini milik keluarga, pesawat pribadi, jadi tidak-
__ADS_1
“Hhhhhaaaaahhhh…. Pe… pesawat pribadi?” Bellova terkejut, menutup mulutnya yang terbuka.
Abraham mengangguk.
“Pasti harganya sangat mahal kan? Pasti uangnya berkarung-karung, atau-
“Pppfftt.. kau lucu sekali. Harganya memang mahal, tapi kami tetap membelinya karena berguna untuk kami.”
“Tentu saja harus berguna, kalau tidak berguna untuk apa di beli.” Celoteh Bellova kembali menatap pemandangan.
Rambut Bellova yang terurai mengikuti kemana arah wajahnya.
“Lihat awannya, bentuknya sangat cantik.” Tunjuk Bellova di kaca jendela.
Abraham spontan ingin melihat.
“Kau lihat kan-
Jarak wajah mereka berdua sangat dekat. Bahkan terasa hembusan napas mengenai wajah mereka.
Deg… deg… deg… deg…
“Ah itu, awannya-
Cup…
Tanpa sadar Abraham mengecup pipi Bellova, wanita itu terkejut dan menyentuh pipinya yang terasa dingin.
Abraham menarik tangan Bellova agar tidak menyentuh pipinya.
Cup…
Lagi dia mengecup tangan Bellova, tatapan matanya membuat wajah Bellova merah karena merasa gugup
dan malu.
__ADS_1
Tidak ada yang melihat adegan itu, karena yang lainnya sibuk mengagumi pemandangan di luar.
“Apa kau suka?” tanya Abraham yang masih memegang tangan Bellova.
“Apa? Yang mana?” tanyanya gugup.
“Pemandangannya.”
“Oh.. pe… pemandangannya ya… i.. iya, aku.. suka.” Jawabnya gugup menggaruk pipinya.
“Aku pikir suka yang mananya.” Batin Bellova salah paham.
Setelah itu, abraham menyandarkan tubuhnya untuk duduk lebih santai, dan melepas tangan Bellova. Isterinya merasa lega karena akhirnya tangannya sudah di lepas.
“Aku akan tidur sebentar, kau juga.” Ucapnya melirik Bellova.
“Iya, kamu tidur saja, aku masih ingin melihat pemandangannya.” Jawab Bellova berusaha menutupi rasa
gugupnya.
Dia kembali melihat awan di balik jendela. Abraham sebentar melirik Bellova, dan tersenyum sekilas dan menggelengkan kepala, lalu memejamkan matanya. Hanya Abraham yang tidur, yang lainnya masih menikmati pemandangan.
***********
“Hallo, selamat siang.” Sapa Monik baru saja datang.
“Eh… Monik, kamu ada di sini?” Ridwan berdiri menghampiri Monik.
“Iya, oh iya aku bawa makan siang, tapi ini bukan aku yang masak.” Monik menunjukkan kotak makanan di
dekat pintu, yang pasti tidak menghalangi jalan dan tidak mengganggu aktifitas lainnya.
“Di mana Adley?” tanyanya mencari sosok Adley.
“Dia ada-
__ADS_1
“Monik? Kenapa kamu datang kesini?” Adley muncul dari ruangan dengan buku di tangannya, berjalan menghampiri Monik.