
“Ada apa nak? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Lucifer, yang sudah tahu apa yang ada dalam pikiran nya.
“Bagaimana kabar papa dan mama?” tanya Abraham, yang duduk di samping nya.
“Seperti yang kau lihat nak, kami yang sudah tua ini sedang menikmati masa tua dengan tenang. Sambil mengingat kenangan-kenangan jaman dulu.” Jawab Lucifer, kalau pada anak dan keluarga nya dia sangat ramah, tidak pelit untuk tersenyum, beda lagi kalau di luar.
Abraham mengangguk kan kepala. Tapi Lucifer masih melihat raut wajah anak nya yang tidak tenang, gelisah.
“Katakan saja apa yang ingin kau ketahui Abram.” Ucapan yang keluar dari mulut Lucifer, membuat Abraham menatap nya.
Abraham mengambil gelas kopi yang sudah di buatkan pelayan nya, dan meminum nya.
“Pa, aku tahu kalau papa sudah tahu tentang kasus kejahatan yang sedang terjadi. Antara Shadow dan….. Deadly Poison.” Setelah mengatakan kalimat itu, dia diam.
“Beberapa hari yang lalu kami menangkap salah satu anggota dari Deadly Poison, dan dia mengatakan kalau bos nya adalah ‘tuan Lucifer’. Apakah… apakah papa pernah dengar atau kenal….dengan si ‘Lucifer’ itu?” tanya
Abraham.
Lucifer tidak langsung menjawab, suasana menjadi diam, Aris dan Hendra pun saling melihat.
Lucifer tersenyum, seraya berkata , “Si ‘tuan Lucifer’ itu ada di hadapan mu..” jawaban Lucifer yang membuat kening Abraham mengkerut. Entah dia harus percaya atau menganggap itu hanya candaan. Tapi sejauh yang di ketahui Abraham, kalau papa nya itu tidak pernah bercanda.
“Apa papa bercanda? Karena kalau…
“Papa tahu, kalau dalam pikiran mu papa ini tidak bercanda kan?” tanya Lucifer dengan senyum tenang nya.
“Sebenar nya…. Siapa papa dulu?” pertanyaan Abraham yang besar, yang selama ini ada di kepala nya.
Lagi, Lucifer tetap tenang, dan masih tersenyum.
“Papa adalah ketua dari Deadly Poison itu.” jawab Lucifer tenang, namun pasti.
Seperti suara gelegar petir yang keras dan mengagetkan, begitulah yang di rasakan Abraham saat ini.
“Jadi… papa adalah bos mafia? Mafia??” tanya Abraham menegaskan.
__ADS_1
“Iya. Papa mu ini adalah seorang mafia. Bukan cuma papa, paman mu Vicky, Revand, dan bahkan kakek mu Mahendra juga adalah seorang mafia. Apalagi si Aris dan Hendra.” jawab Lucifer, menunjuk arah Aris dan Hendra.
Abraham terdiam, wajah nya terkejut, pasti nya dia tidak percaya.
“Dulu papa mu juga tidak mau terlibat, tapi mereka memaksa papa untuk meneruskan kelompok ini.” Ucap Lucifer.
“Apa mama, Arshinta dan Ina tahu?...
“Kalau mama mu sudah tahu, tapi untuk Arshinta dan Ina, mereka sama seperti mu, sama-sama tidak tahu. Mama dulu bahkan sangat terkejut dan takut, ketika tahu siapa papa sebenar nya, tapi karena sudah takdir, mama mu bisa menerima papa tanpa paksaan.” Jawab Lucifer tenang.
Sekali lagi Abraham meminum kopi nya, bahkan menghabisi isi dalam gelas. Lucifer melihat gelas yang sudah kosong.
“Bi… tolong ambil kan kopi lagi.” suruh Lucifer, kopi untuk Abraham.
“Apa… apa papa juga terlibat kasus yang sedang marak sekarang? Tentang…. Penculikan dan penjualanan organ-organ tubuh manusia?” pertanyaan selanjut nya dari Abraham.
Tatapan mata Lucifer tajam, namun terpancar aura tenang untuk Abraham.
“Abraham, Deadly Poison tidak pernah melakukan itu… dan kalaupun ada yang menyimpang, aku yang turun tangan langsung, kalau tidak mati… ya lumpuh.” Jawab Lucifer, di ujung kata nya, dia tersenyum.
“Membunuh? Jadi… apa papa pernah melakukan nya?” tanya Abraham lagi.
“Wah, tuan Lucifer sangat hebat dan keren, bisa berkata setenang itu pada anak nya.” Gumam Aris dan Hendra.
“Apa papa tidak takut, anak-anak mu ini, akan marah, takut dan benci pada papa?” ujar Abraham.
“Apa Abraham benci pada papa sekarang?” balik tanya Lucifer.
Abraham diam berpikir, “Entahlah pa.” jawab nya gelisah.
“Walaupun papa bilang kalau papa sudah berhenti, tapi imej dan nama itu tidak akan bisa hilang, kalau kalian anak-anak ku membenci papa… itu hak kalian. Tapi yang terpenting dalam hidup papa adalah, menjaga dan
melindungi kalian, dari siapa… dan bagaimanapun cara nya. Papa bisa membunuh
seribu kalipun, demi bisa menjaga kalian, atau masuk ke neraka untuk membalas dendam, papa akan lakukan…
__ADS_1
“Apa yang ada dalam pikiran papa? Apa papa tidak perduli dengan diri papa sendiri?” tanya Abraham memotong ucapan Abraham.
“Sejak papa jatuh cinta pada mama mu, separuh nyawa papa ada padanya, dan sejak papa memiliki kalian anak-anak ku, serpihan nyawa papa pun ada pada kalian, jadi…. Kalau kalian terancam bahaya… papa pun akan mati… dan untuk membuat kalian tetap aman dan tenang, papa rela mengorbankan hidup papa….
“Pa…jangan berbicara seperti itu.” Abraham memotong ucapan papa nya, dia juga tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada papa nya.
“Aku… aku tidak benci pada papa, atau..
“Siapa yang bilang kamu membenci papa nak? Jangan katakan itu, papa juga tahu, kalau kau tidak membenci papa.” Ucap Lucifer, lagi tersenyum.
Memang benar, apa yang di katakan papa nya, kalau dia tidak membenci papa nya. Yang sekarang menjadi hambatan nya adalah jabatan nya, pekerjaan nya.
“Lakukan apa yang ingin kau lakukan nak, jangan membatasi dirimu. Kalau memang papa harus di hukum, papa…
“Tidak pa! aku tidak akan melakukan nya. Aku juga akan melindungi papa, karena dari kecil sampai sekarang, aku tidak pernah melihat
kejahatan atau kekejaman papa di luar dengan sengaja.” Jawab Abraham dengan yakin.
Lucifer mengusap kepala anak nya, dengan tersenyum.
“Ternyata, kau sudah dewasa nak. Sudah bijak dan pintar. Tapi tetap papa ingatkan pada mu, jangan karena papa, pekerjaan mu menjadi terhambat. Kau tetap harus bersikap adil.” Nasehat Lucifer.
Abraham mengangguk kan kepala nya tersenyum.
“Apakah kalian sudah selesai mengobrol nya?” Eva, mama nya keluar dari dapur.
“Mama….
“Nah, kalau sudah selesai, sebaik nya kita makan malam dulu, makanan nya juga sudah siap.” Ajak Eva.
“Seperti nya aku dan Hendra ingin pulang saja. Rihana pasti sudah menyiapkan makan malam.” Aris berdiri.
“Benar, Citra pasti marah kalau aku tidak memakan masakan nya, dan Sakya ikut membela mama nya, hehehe…” Hendra pun ikut berdiri.
Akhir nya, yang makan malam hanya mereka bertiga, Eva, Abraham dan Lucifer.
__ADS_1
Sebenar nya, Eva sudah tahu kalau putera nya ada di rumah, tapi saat mendengar obrolan mereka, Eva hanya mendengar di sudut pintu. Eva sengaja tidak muncul, agar papa dan putera nya bisa berbicara dengan tenang
tanpa emosi. Sedikit ada kekhawatiran dalam diri nya, khawatir kalau anak nya tidak suka dan bahkan membenci papa nya.