KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 209


__ADS_3

“Kampung Melayu… Kampung Melayu…


“Pulo Gadung…Pulo gadung…


Beberapa kernet bus meneriakan tujuan bis nya, mencari penumpang untuk di antar sesuai tujuan bis nya.


“Ayah, apa sudah di beritahukan pada mereka kalau kita sudah di terminal?” tanya Ibu nya yang mencari-cari menantu dan puteri nya.


“Sudah, Anak itu mengatakan kita untuk tetap tunggu di sini.”


“Hey pak, Bu, kalian mau kemana? Ayo biar aku antar.” Seseorang entah dari mana asal nya menawarkan


bantuan pada mereka.


“Tidak usah, kami sedang menunggu menantu kami.” Tolak pria tua dengan pelan.


“Mereka pasti lama datang, karena di jalanan lagi ada demo besar-besaran, bisa-bisa kalian di jemput tengah malam loh.” Pria itu sengaja berbohong untuk menipu keluarga yang baru datang dari desa.


“Tidak kok, dia sedang dalam perjalanan, sebentar lagi akan tiba.” Si ibu menjawab walau gugup.

__ADS_1


Pria itu berbadan besar, dengan tattoo dan menghisap rokok nya.


Orang tua Bellova berusaha untuk tidak membuat nya marah, karena mereka takut sesuatu yang buruk terjadi pada mereka.


“Dasar orang kampung, sombong sekali, karena tidak bisa di ajak pelan, lebih baik secara kasar saja kan?” ucap nya dalam hati memperhatikan tas dan barang bawaan keluarga itu.


“Ibu aku takut.” Bisik anak nomor dua pada ibu nya.


“Tenanglah nak, sebentar lagi kakak mu datang.” Si ibu berusaha menenangkan si anak yang ketakutan.


Karena terus diabaikan, pria bertatto mendekati si ayah, dan berbisik, “Kalau begitu, berikan semua uang kalian padaku sekarang.” Dia mengeluarkan pisau kecil, yang sudah di todongkan di pinggang.


“Sstt.. diam, kalau kalian tidak mau-


“Wah, ada apa ini?” suara Abraham yang muncul dari belakang tubuh ayah mertua nya.


“Ayah mertua, siapa orang itu? apa dia ikut dengan kalian dari kampung?” tanya nya dengan melangkah mendekat.


“Kakak.. akhir nya kalian datang juga, orang itu menakutkan, dia terus memaksa kami untuk ikut dengan nya.” Si adik mengadu pada Bellova.

__ADS_1


Pria bertatto mulai khawatir, apalagi seragam kerja Abraham terlihat walau memakai jaket kulit yang tidak di kancing.


“Oh, jadi dia bukan anggota kalian.” ujar Abraham yang sudah tahu, dia berjalan mendekati pria yang perlahan menyelipkan pisau kecil ke pinggang belakang.


“Ha…Hahaha… tadi saya hanya ingin membantu mereka saja, saya kasihan, karena melihat mereka yang


sudah lama menunggu, jadi aku menawarkan bantuan untuk mengantar mereka ke tujuan nya, hanya itu, hahahahhaha..” ucapnya beralasan, tertawa dengan terpaksa.


“Kalau begitu, pergilah! Tapi jangan lakukan itu lagi pada siapapun, bekerja yang halal lah, biar perutmu atau perut keluargamu tidak sakit karena memakan hasil pekerjaan haram. Kalau kau tetap nekad, kau bisa lebih buruk lagi kalau tertangkap polisi, apalagi kalau aku yang menangkap mu, bisa aku siksa kau sampai berlutut minta ampun.” Ucap Abraham dengan tatapan tajam, pistol yang di selipkan di pinggang nya sedikit di pamerkan, agar si pria bertatto itu menyadari ancaman Abraham.


“Baik… baik, saya pergi dulu, maafkan saya.” Pria itupun pergi ketakutan.


“Ayah, Ibu, maafkan kami datang terlambat, apa kalian sudah lama menunggu?” Bellova memegang tangan Ibu nya.


“Yah, sekitar 30 menit kami menunggu kalian. Tapi untunglah kalian datang nya tepat waktu, sebelum orang tadi nekad dan menyakiti kami.” Sahut Ibunya.


“Kalian masuk saja kedalam mobil, biar aku yang masukkan barang-barang kalian. Bellova bukakan pintu nya ya, biar Ayah dan Ibu masuk.” Suruh Abraham pada Bellova.


“Iya.” Jawab Bellova senang, karena bisa bertemu dengan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2