KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 240


__ADS_3

“Si…siapa dia?” tanyanya dalam hati dengan gemetar. Dilirik di sekitarnya, yang ternyata semua


anak buahnya sudah di kepung dan diarahkan pistol, hanya dirinya saja yang di ancam dengan pedang panjang yang bisa di pastikan kedua sisi yang sangat tajam.


Si pemilik pedang itu adalah Lucifer. Lucifer yang sudah berdiri di hadapannya dengan senyum dan tatapan mata psyco nya, tentu saja pedang itu masih menempel di kulit luar lehernya yang sudah terluka dengan goresan kecil. Lucifer masih belum ingin langsung membunuhnya begitu saja.


“AKHIRNYA KITA BERTEMU JUGA YA.” kepalanya dimiringkan sedikit, berbicara dengan senyum sinis yang


menakutkan.


Sebenarnya sudah ketakutan, tapi dia masih berusaha menatap Lucifer dengan tajam, seakan ingin menghipnotisnya.


Dia menurunkan pedangnya, berjongkok dan menatap mata Bossa.


Mereka berdua saling menatap, seakan menebar efek tekanan ketakutan.


“Kekuatan mu tidak mempan bagiku.” Ucap Lucifer dengan senyum sinis.


Bossa terkejut, kenapa bisa seperti itu.


“Ikat dia dan bawa ke markas! Tutup matanya.” Perintahnya sembari berdiri.


Anak buah Lucifer pun segera melakukan tugas barunya.


Lucifer berjalan menghampiri Revand dan Vicky yang masih berperang, dengan tangan kosong.


Saat Lucifer turun dan berjalan di jalanan, semua mata menatapnya dengan ketakutan. Aura kematian terasa dari Lucifer.


“Dimana Abraham dan Arshinta?” tanyanya pada Vicky.

__ADS_1


“Abraham membawa Bellova kerumah sakit, dia terluka lagi, dan Arshinta juga Satmaka mengantarnya.” Jawab Vicky.


“Lucifer! Anak-anakmu terluka, mereka ini pelakunya.” Teriak Revand memancing emosi Lucifer.


Dan pancingan Revand berhasil membuatnya marah. Gertakan giginya terdengar, tangannya juga dikepalkan.


Sret…


Lucifer mengambil pistol dari tangan Vicky dan..


Dor… Dor… Dor..


Dia menembaki semua sisa musuh yang masih berdiri. Revand dan Vicky hanya diam berdiri menyaksikan


Lucifer menembak.


“Kau lihat kan? Dia sekarang sedang mengamuk.” Ucap Revand mendekati Vikcy, menggantungkan tangan


“Kau itu, jangan sengaja melakukan itu, dasar kompor!” celetuk Vicky melepas tangan Revand dari bahunya.


Beberapa waktu sudah di habiskan untuk menembak, tidak ada yang tersisa lagi. hanya ada dia dan anggotanya.


“Sudah… sudah, sudah selesai, tidak ada lagi yang menjadi korban mu.” Revand menepuk bahu Lucifer untuk menurunkan tangan yang memegang pistol.


“Bawa mereka yang terluka kerumah sakit!” suruh Lucifer, dan beranjak ingin meninggalkan lokasi.


“Kau mau kemana?” tanya Revand menahan langkahnya.


Tap…

__ADS_1


Langkah Lucifer berhenti, menoleh melihat Revand.


“Pekerjaanku belum selesai, aku harus mematikan ‘akarnya’.” Ucapnya melanjutkan langkahnya.


“Aku ikut! Woy Lucifer, aku ingin ikut!” teriak Revand.


“Berhentilah berteriak, kau berisik sekali.” Vicky berjalan pergi.


“Kau juga mau kemana?”


“Kalian bawa rekan-rekan kalian kerumah sakit sekarang.” Suruhnya pada anak buah nya yang masih bisa berdiri dengan sedikit luka, mengabaikan pertanyaan Revand.


“Woy-


“Berisik! Aku mau menemui Abraham di rumah sakit.” Jawabnya sudah sangat kesal.


“Tunggu! Aku ikut.” Revand berlari menyusul Vicky untuk masuk bersama kedalam mobil milik Vicky.


“Apa yang kau lakukan?”


“Aku mau ikut menjenguk keponakan ku.” Jawabnya santai memakai sabuk pengaman.


“Turun dari mobil ku, kamu pakai mobilmu sendiri!” Vicky tidak mau duduk bersama orang yang berisik itu.


“Kenapa? kan tujuan kita sama. Lagi pula mobilku akan di gunakan mereka untuk kerumah sakit, dan helicopter kita juga sudah pergi, masa iya aku harus jalan kaki.” Sahutnya masih santai.


Vicky masih diam menatapnya dengan kesal.


“Kenapa diam? Ayo jalan, aku sudah sangat khawatir sekali dengan keponakan ku, kalau kau tidak mau-

__ADS_1


“Diam!” walau kesal, Vicky melajukan mobilnya.


__ADS_2