
Bellova membuka bekal makanan yang dibawanya. Abraham memperhatikan sedari tadi tidak jauh darinya.
“Sepertinya kau terlihat senang.” Tebak abraham.
Bellova menoleh melihatnya.
“Oh ya? apa terlihat ya?”
“Iya, wajahmu menunjukkan kalau kau sedang senang.”
Bellova langsung menyentuh wajahnya.
Abraham berjalan menghampiri Bellova, “Pasti kau senang karena bisa mengantar makan siangku lagi kan?” tebaknya menaikkan salah satu alisnya.
Bellova yang merasa tebakan Abraham itu benar, salah tingkah menyelipkan rambutnya di belakang telinga.
“Lihat tuh, wajahmu memerah kayak saos tomat.” Abraham yang masih meledeknya.
Sekarang Abraham sudah duduk di depan Bellova.
Suasana hening, diam. Hanya saling menatap, namun Bellova tidak kuat menatap suaminya dalam waktu lama, apabila Abraham juga menatapnya.
“Jangan meledek ku. Aku.. aku malu.” Ucap Bellova dengan suara pelan menundukkan wajahnya.
Abraham hanya tersenyum, malah semakin ingin menggodanya, berusaha melihat wajah Bellova walau sengaja wanita itu menundukkan wajahnya.
“Bram..” panggilnya agar Abraham berhenti melakukan itu.
“Oke.. Oke..” abraham mengangkat kedua tangan untuk berhenti melakukannya lagi.
__ADS_1
“Bagaimana? Apa kau sudah memutuskan mau bulan madu dimana?” tanya Abraham mengalihkan suasana.
Bellova berpikir sebentar, mengangkat wajah untuk melihat suaminya, lalu menggelengkan kepala.
“Apa tidak ada tempat yang ingin kau datangi?”
Bellova menggelengkan kepalanya lagi.
“Ya ampun, masa sih tidak ada tempat yang ingin kau datangi? Jepang, Amerika atau Thailand gitu?”
“Aku pernah mendengarnya, tapi tidak tertarik, kecuali…
Belllova berhenti melanjutkan kalimatnya, sedangkan Abraham sudah sangat penasaran dengan jawaban
Bellova.
“Kecuali apa?”
“Thailand? Kenapa?” tanya Abraham yang tidak menyangka kalau isterinya malah tertarik dengan negara itu.
“Pertama, karena aku ingin bertemu dengan aktor-aktor Thailand yang tampan, lalu makanannya yang banyak sayuran, budayanya…
Abraham hanya diam memperhatikan dan mendengar penjelasan dari isterinya yang terlihat sangat antusias berbicara. Bellova sangat bersemangat dan seakan tidak sabar lagi untuk mengunjungi negara itu.
“Bagaimana kalau kita kesana saja?”
“Hah? Kemana?”
“Ke Thailand, sepertinya kau ingin kesana.” Jawab Abraham.
__ADS_1
“Apa boleh?” Bellova menggaruk pipinya.
Abraham mengangkat bibirnya, dan mengambil sendok untuk menyendokkan makanan.
“Boleh lah, siapa yang bilang tidak boleh. Buka mulutnya.” Jawabnya sembari menyuapi Bellova makan lebih dulu, dengan polosnya Bellova membuka mulut dan mengunyah makanan sembari memikirkan tawaran Abraham.
“Dengan uang, apa saja bisa kita dapatkan.” Abraham mengedipkan mata dan tersenyum pada Bellova, seakan dia tahu apa yang ada dalam pikiran Bellova.
“Iya ya, Abraham kan punya banyak uang, pesawat saja punya.” Bellova mengangguk.
“Iyalah. Tidak apa-apa kan sombong dikit.” Giliran abraham menyendokkan makanan kedalam mulutnya.
“Jadi… kita akan pergi ke Thailand?” tanya Bellova lebih untuk meyakinkannya lagi.
Abraham mengunyah makanan sembari menganggukkan kepala, memberi jawaban pada Bellova. Bellova
sangat senang dan puas mendengarnya.
“Tapi nanti disana jangan jauh-jauh dariku, karena Thailand penduduknya sangat banyak.” Pinta Abraham berjaga-jaga.
Bellova hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Mereka berdua melanjutkan makannya lagi,
hanya Abraham yang menyuapi dirinya dan isterinya. Ada rasa kelegaan untuknya. Mereka hanya duduk di sofa untuk dua orang, dan bersampingan dan sebuah meja di hadapan mereka. Salah satu kaki Abraham sengaja diangkatnya agar bisa berhadapan dengan Bellova.
Tok.. Tok.. Tok..
Ridwan datang dengan terburu-buru.
“Maafkan saya pak Abraham mengganggu makan siang anda. Di luar ada-
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan pada puteriku Abraham????” teriak seorang pria tua yang berada di belakang Ridwan.