
Di taman, Satmaka dan Arshinta menemani Rakha bermain pasir di taman. Bersama anak-anak kecil lain nya, Rakha terlihat sangat senang.
Beberapa anak juga terlihat di temani orang tua nya. Ada yang bermain rumah-rumahan, boneka, yang terbuat dari pasir.
Satmaka membeli kopi untuk nya, dan Arshinta Chat***e,
minuman dingin, sedangkan untuk Rakha susu kotak rasa strawberry.
“Seperti nya Rakha sangat senang bermain di taman ya.” Arshinta membuka obrolan.
“Bukan seperti nya lagi, tapi memang dia sangat suka bermain di sini, hanya saja aku terlalu sibuk, jadi jarang membawa nya ke taman.” Jawab Satmaka.
“Apa kau sudah menemukan pengasuh Rakha yang baru? Kasihan dia kalau tidak ada teman main.” Tanya Arshinta, menyedot minuman nya.
“Belum ada, sebenar nya juga aku tidak terlalu mencari nya. Aku rasa itu tidak perlu, lagi pula karena dia sudah TK, dan ada kau juga yang di sana, Rakha tidak terlalu kesepian. Aku takut kalau pengasuh yang baru sama sifat dengan yang sebelum nya. Maka nya tidak aku prioritas kan.” Jawab Satmaka santai.
Arshinta mengangguk kepala nya.
“Tapi kau keberatan tidak? Karena aku dengar dari guru nya kalau Rakha sering datang ke kantor dan mengganggu mu.” Satmaka melihat
Arshinta, lalu melihat anak nya lagi.
“Tidak, aku tidak masalah. Dia tidak lama di ruangan ku, hanya sebentar lalu kembali ke kelas nya. Hanya memberi salam. Kak Ina juga
ingin bertemu dengan Rakha, ingin mengajak nya jalan-jalan dan bermain. Boleh tidak?” tanya Arshinta, dari tatapan mata nya berharap agar pria yang ada di depan nya menyetujui.
“Tentu saja boleh. Aku justru sangat senang. Aku senang kalau banyak orang yang menyukai anak ku. Apalagi itu kalian.” Jawab nya tersenyum.
“Loh, apa beda nya?” tanya Arshinta lagi.
“Tentu saja ada beda nya. Aku percaya pada kalian. Karena kita kan sudah berteman dari kecil.” Satmaka tersenyum lagi.
“Siapa yang bilang kita berteman? Sejak kapan?” ledek Arshinta.
Arshinta sengaja meledek nya dengan menaik kan salah satu alis nya.
“Hhhmm… jadi kita tidak berteman nih? Kan dari kecil kita pernah mengalami hal yang buruk bersama-sama…
“Terus dari situ kita jadi berteman? Gitu?” balas Arshinta tidak mau kalah.
__ADS_1
Satmaka tidak bisa membalas nya lagi, bukan nya tidak bisa, hanya saja tidak mau berdebat lagi. Sementara Arshinta merasa puas membuat pria masa kecil nya cemberut.
“Oh ya, apa kau sudah punya kekasih? Kau kan tampan, jadi tidak mungkin kan tidak ada yang mau dengan mu?” tanya Arshinta mengganti topik pembicaraan.
“Aku tidak punya pacar. Aku bukan hanya tampan, tapi aku juga mapan. Kau bisa lihat sendiri kan?” ucap Satmaka dengan berbangga diri, ujung bibir nya terangkat.
“Tapi, setelah aku membawa Rakha, perasaan mereka berubah, mereka hanya menginginkan diri ku dan uang ku. Bahkan ada yang meminta ku untuk memasuk kan Rakha ke panti asuhan..” pria tampan itu menunduk kan wajah nya.
“Ya ampun, jahat sekali dia. Pasti kau lebih memilih Rakha kan?” tanya Arshinta, suara nya sedikit keras, dan kesal.
“Tentu saja. Rakha adalah satu-satu nya anggota keluarga ku yang hidup normal. Sedangkan adik ku…. Sudah lebih dari 5 tahun keadaan nya masih seperti itu, bahkan lebih parah lagi. Setiap hari dokter yang merawat nya
mengatakan kalau dia lebih sering melukai diri nya sendiri. Hhhaaahhh…..” di ujung kalimat nya, Satmaka menghela napas, terlihat sekali begitu banyak yang di pikirkan nya.
Arshinta mengerti apa yang di rasakan pria itu. Tapi, dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain dukungan dan semangat hidup.
“Kamu yang sabar, kamu sudah bisa menjadi kakak dan papa yang terbaik, buat adik mu dan buat Rakha.” Ucap Arshinta mengusap bahu
Satmaka.
“Eehhemm… sama adik dan anak adik mu saja kau begitu sayang, apalagi kalau sama anak kandung sendiri, pasti beruntung yang akan menjadi isteri mu nanti.” Puji Arshinta, tidak bermaksud apa-apa.
Satmaka melihat Arshinta, tersentuh dengan ucapan nya.
Rakha yang tersenyum pada nya.
“Hahahahaha…. Tidak mungkin. …..
Satmaka mengernyitkan dahi nya.
“Kau itu pria, pasti butuh pasangan wanita. Di mana-mana pria itu tidak bisa hidup tanpa wanita, apalagi untuk urusan s*x..” ucap
Arshinta tertawa.
Satmaka terkejut mendengar ucapan wanita itu. Dia tidak menyangka, kalau Arshinta akan berbicara lugas tentang hal yang masih di anggap rahasia itu.
“Wah… sepele sekali anda. Apa anda lupa kalau laki-laki itu bisa ‘bermain’ sendiri loh.” Balas Satmaka tidak mau kalah.
Arshinta merasa terpancing, “ wanita juga bisa kok ‘bermain’ sendiri! Ada alat nya lagi. Mau yang getaran nya tinggi, sedang atau rendah,
__ADS_1
bahkan ukuran nya juga bisa di sesuaikan, tinggal pilih mau yang besar atau kecil, dan untuk warna nya…..
Beberapa pengunjung mendengar ucapan Arshinta. Satmaka merasa malu, sementara Arshinta masih saja berbicara.
“Ada warna merah muda, ada warna hitam, berbulu ata…..” tiba-tiba Satmaka langsung menutup mulut Arshinta yang tidak berhenti bicara.
Merasa malu, Satmaka tersenyum kecil pada ibu-ibu dan bapak-bapak yang mendengar obrolan nya, sambil mengangguk kepala nya beberapa kali.
“Aku tidak akan menutup mulut mu, asal kan kau diam, jangan melanjutkan omongan mu yang tadi. Dengar tidak?” bisik Satmaka di telinga Arshinta.
Arshinta menjawab dengan mengangguk kan kepala nya.
Dan benar saja, Satmaka sudah menarik tangan nya. Arshinta baru sadar, kalau pembicaraan nya juga di dengar pengunjung lain, dan dia pun
mulai merasa malu.
“Sudah tahu kan sekarang, kenapa aku menyuruh mu diam dan berhenti bicara?” ledek Satmaka, menaik turunkan alis nya.
Arshinta lagi mengangguk kan kepala nya.
“Ini karena mu…
“Kok aku?” tanya Satmaka tidak terima.
“Hhhmm… memang nya siapa yang duluan mengatakan kalau laki-laki itu bisa ‘bermain’ sendiri?” balas Arshinta dengan pertanyaan nya.
“Terus, kalau kalimat ini, ‘ Kau itu pria, pasti butuh pasangan wanita. Di mana-mana pria itu tidak bisa hidup tanpa wanita, apalagi untuk urusan s*x ’, siapa yang berbicara seperti itu?” balas Satmaka.
Arsinta diam, dia hanya melihat Satmaka, dia tahu kalau ucapan itu adalah dari nya. Karena tidak ada obrolan, mereka sama-sama tertawa
kecil.
“Wah… kalian suami isteri yang kompak sekali ya…”
“Anak laki-laki itu pasti anak kalian ya?”
“Pasti kalian akan menambah anak lagi ya?”
“Tentu saja, mereka kan masih muda, pasti berencana untuk tambah anak.”
__ADS_1
Begitulah ucapan beberapa pengunjung di sana. Satmaka dan Arshinta hanya tersenyum, menganggap itu biasa saja, meski wajah mereka malu.