
Rakha memeluk erat Arshinta agar tidak lepas dan jatuh dari Arshinta. Kepala nya memang sudah berdarah, tapi anak itu tidak menangis atau berteriak, padahal sakit.
“Satmaka, kamu gendong Rakha.” Arshinta memberikan anak itu pada Satmaka. Rakha pun sudah pindah menuju papa nya.
Arshinta berdiri dengan kedua kaki yang di buka membentuk huruf ‘A’, tangan nya di kepal hingga mengeluarkan suara.
Orang-orang jahat itu masih berdiri di hadapan Arshinta, meski mereka sudah terluka.
“Ayo! Maju sekarang! Aku sudah siap menghajar kalian!” dengan yakin dan sombong, Arshinta menantang mereka, dia sudah menyiapkan ancang-ancang.
Mereka saling melihat, seakan menyuruh untuk maju lebih dulu.
Salah satu dari mereka berlari membawa tongkat, ingin memukul Arshinta.
Arshinta menunggu dengan ujung bibir yang terangkat.
“Hhhiiyyaaattt……” teriak Arshinta memukul mereka satu persatu. Mereka semua mendapat pukulan dan tendangan dari wanita yang sudah marah itu. tanpa jeda, dia menghajar dengan kaki, dan tangan. Sedikit pun tidak ada yang mengenai tubuh nya. Satmaka saja kagum dan salut pada keberanian Arshinta.
Ada sepuluh lawan nya, bisa di tangkis semua. Seperti kesetanan, Arshinta memukul habis mereka, tidak terlihat kelelahan sama sekali.
Di rasa sudah cukup dan sudah pasti pihak lawan kalah besar, Satmaka datang ingin menghentikan perkelahian itu. dia tidak ingin Arshinta membunuh pria-pria yang hampir badan nya besar itu.
“Shinta… sudah cukup. Hentikan sekarang.” Ucap Arshinta, menarik tangan Arshinta untuk menghentikan.
“Belum Sat, belum cukup.” Jawab Arshinta, tangan nya di tarik dan memukul lagi.
Satmaka menurunkan Rakha di tempat yang aman.
“Shin, kita bawa saja mereka ke kantor polisi, jangan sampai kau membunuh mereka.” Satmaka berusaha menarik tangan Arshinta lagi.
“Sudah..sudah. Jangan di lanjutkan lagi. Kita bawa saja mereka ke kantor polisi.” Sekarang Satmaka sudah menahan kedua tangan Arshinta.
Kaki nya masih bisa memberikan tendangan menyakitkan untuk mereka.
Merasa Arshinta yang sangat kuat, dia berinisiatif untuk menghubungi Abraham, agar segera datang membawa polisi dan memisahkan mereka.
Setelah memberitahukan pada kakak nya Arshinta, Satmaka hanya diam menyaksikan Arshinta yang masih belum lelah memukul mereka.
“Papa… kenapa papa tidak membantu kak Arshinta?” tanya Rakha yang berdiri di samping papa nya, dia bertanya sambil menarik ujung baju papa nya.
“Sayang, apa Akha lihat kalau kakak Arshinta sedang membutuhkan bantuan? Atau apa Akha lihat kakak nya kesulitan?” tanya Satmaka, di genggam nya tangan kecil Akha.
“Enggak sih pa. Justru kakak kelihatan sangat kuat dan hebat.” Jawab Akha menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
“Jadi kita harus ngapain pa?”
“Kita tunggu saja, sampai om Adley dan om Abraham datang ya.” Jawab Satmaka, masih menyaksikan pertarungan itu.
“Ampun bu… Ampun. Tolong hentikan, sakit sekali bu..” teriak mereka yang sudah merasa kesakitan.
“Apa? Ibu? Memang nya aku sudah sangat tua di mata mu?” tanya Arshinta melayangkan tinju nya.
“Ampun… ampun, sakit… memang nya kalian tidak mikir dulu sebelum bertindak? Dasar bodoh! Kalian, benar-benar sangat bodoh.” Arshinta semakin beringas.
Iiiiiuuu…Iiiuuuu….Iiiiuuuu….Iiiuuu….
Sudah terdengar suara dari mobil polisi yang mengarah pada mereka.
“Papa, polisi nya sudah datang.” Tunjuk Rakha.
“Syukurlah. Kalau tidak nanti akan ada korban yang melayang.” Ucap Satmaka dengan pelan.
“Melayang? Siapa yang melayang pa?” tanya Rakha melihat wajah papa nya.
“Bukan siapa-siapa nak.” Satmaka mengusap kepala Rakha yang ingin tahu.
“Waduh…waduh… Arshinta..” Adley yang turun dari mobil bagian depan. Adley memisahkan perkelahian itu.
Butuh beberapa orang untuk memisahkan mereka. Ada juga yang sudah menahan beberapa penjahat agar tidak bisa berlari kabur.
“Akhir nya kalian sudah datang, sedikit lagi mungkin akan ada yang tewas.” Satmaka dan Akha menghampiri Adley.
“Sudah berapa lama sih kalian berkelahi nya?” tanya Adley.
“Hampir dua jam, tapi itu bukan aku, aku hanya diam mengamati nya saja, menunggu sampai Arshinta membutuhkan bantuan, tapi ternyata tidak. Jadi aku hanya menunggu kedatangan kalian saja.” Jawab Satmaka.
“Tunggu dulu Dley, aku ingin bertanya pada mereka.” Tahan Arshinta.
“Sebaiknya kau bertanya saat di kantor polisi saja Shinta, karena mereka akan kami introgasi di sana.” Ucap Adley yang sudah membawa beberapa nya naik ke atas mobil di bagian belakang.
Adley masuk di depan, Arshinta dan Satmaka juga sudah masuk kedalam mobil dan mengikuti Adley dari belakang.
Ada dua mobil yang berjalan menuju kantor polisi tempat Abraham bertugas.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Satmaka pada Arshinta yang duduk di samping nya.
“Tidak, tapi Rakha kan sudah terluka. Sebaik nya kau antarkan saja dulu Rakha kerumah sakit, biar cepat di obati.” Suruh Arshinta,
__ADS_1
yang melihat luka Rakha yang hampir mengering.
“Akha mau peygi nya sama dengan kak Shinta.” Rengek Rakha dalam pelukan Arshinta.
“Dengarkan. Rakha mau nya pergi bersama mu. Dari dulu dia tidak suka ke rumah sakit. Jadi, kau harus ikut bersama kami, sekalian kau juga harus di periksa, siapa tahu ada luka dalam.” Bujuk Satmaka.
“Hhmm… baiklah. Tapi nanti kita tetap ke kantor polisi ya, aku harus tahu, siapa yang menyuruh mereka menyerang kita.
“Oke.”
**********
Adley sudah tiba di kantor polisi, semua nya juga sudah di turun kan dan di periksa.
“Mana Arshinta dan satmaka?” tanya Abraham yang tidak melihat sosok adik nya.
“Kata nya mereka ke rumah sakit dulu, karena Rakha mengalami luka di bagian kepala. Tapi nanti mereka akan kesini.” Jawab Adley.
“Apa parah luka nya?” tanya Satmaka lagi.
“Tidak terlalu, aku rasa itu terkena di bagian kulit luar. Tapi apa kau tidak khawatir dengan Arsihinta?”
“Dia? Dari luka yang dialami mereka saja aku yakin kalau Arshinta baik-baik saja.” Jawab Abraham menunjuk pada kelompok penjahat
tersebut. Adley melihat memang mereka sudah terluka parah, memar dan berdarah.
“Iya sih, apalagi kata Satmaka, Arshinta berkelahi hampir dua jam, belum capek lagi saat aku melihat nya.” Adley menceritakan apa yang di lihat nya. Sebenar nya Adley tidak heran, karena dari kecil semenjak lepas dari
penculikan itu, dia selalu belajar bela diri.
“Mana?.... mana mereka?...” terdengar suara teriakan dari luar.
Adley dan Abraham saling menatap dan menggelengkan kepala. Mereka tahu, itu suara siapa.
“Kak Abraham, di mana mereka?” tanya Arshinta yang dengan menggebu-gebu bertanya pada kakak nya yang berdiri bersama Adley.
“Panjang umur, baru saja di omongin udah muncul.” Ucap Adley.
“Kenapa sih teriak-teriak, duduk dulu lah, enggak capek apa?” tanya Abraham menenangkan adik nya.
Di belakang nya sudah ada Satmaka dan Rakha yang sudah di balut kepala nya.
Abraham melihat perban di kepala anak kecil itu.
__ADS_1