KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 237


__ADS_3

“Kompak ya?” ledeknya pada Adley dan Monik, hanya Monik yang membalas dengan tersenyum, Adley wajahnya biasa saja.


“Habis ini kalian mau kemana?” tanya Abraham berdiri.


“Aku akan mengantar Monik pulang dulu.” Jawab Adley ikut berdiri juga, membantu Monik berdiri.


“Kalau begitu berhati-hatilah.”


“Kau masih di sini?”


“Ya iyalah, isteriku saja masih disini, mana mungkin aku pergi meninggalkannya.” Jawab Abraham  santai.


“Bram, siapapun yang mendengar ucapanmu ini, pasti akan mengira kalau kau sangat cinta mati dengan


isterimu itu, tapi… kau bilang kalau kau tidak…” Adley tidak melanjutkan kalimat saat melihat Monik.


“Sudahlah, kami pergi dulu.” Adley mengajak Monik untuk diantar pulang.


Abraham masih memperhatikan mereka berdua, dengan kedua tangan memegang pinggangnya.


**********


Esok hari, Bellova sudah di ijinkan untuk meninggalkan rumah sakit, hanya tinggal perawatan dirumah saja. Dan saat ini, Arshinta membantu Bellova untuk berganti pakaian, untuk prianya menunggu diluar depan pintu.


“Apa kau akan langsung membawa Bellova kerumah mu?” tanya Satmaka pada Abraham saat menunggu Arshinta dan Bellova.

__ADS_1


“Heemm… tentu.”


Arshinta dan Bellova sudah keluar, Bellova sudah duduk di kursi roda di bantu Arshinta.


“Kalian sudah selesai ya, kalau begitu ayo berangkat.” Ajak Abraham, mengambil posisi di belakang kursi roda Bellova untuk di dorong.


“Aku ingin kerumah Papa dan Mama dulu kak, aku ingin bicara pada Papa.” Ucap Arshinta.


Langkah Abraham sejenak berhenti, menoleh kearah Arshinta.


“Apa kau ingin bicara tentang ‘itu’?”


“Iya.” Arshinta menganggukkan kepala.


Dua pasangan itu bersama-sama berjalan kearah parkiran mobil.


“Aku juga berencana untuk kerumah Papa, tapi aku ingin mempertemukan Bellova dulu dengan keluarganya, karena mereka sudah rindu dan khawatir padanya.” Ucap Abraham sembari mengobrol dan terus berjalan.


Mereka berhenti bicara saat sudah berada di depan mobil masing-masing. Abraham langsung menggendong Bellova untuk masuk kedalam mobil, Satmaka membantu dengan membuka dan menahan


pintu mobil agar tidak tertutup, dan Arshinta mengurus kursi roda, dan memasukkan kedalam bagasi mobil Abraham.


“Udah beres kan?” Arshinta menutup bagasi.


“Udah, sampai bertemu lagi, kalian berhati-hati juga.” Ujar Abraham yang masuk kedalam mobil di kursi kemudi. Begitu juga dengan Arshinta dan Satmaka.

__ADS_1


Dua mobil itu bersamaan juga keluar dari parkiran, dan memasuki jalan raya yang tidak terlalu ramai. Mereka masih berjalan di jalur yang sama, dengan mobil Abraham yang berada di depan.


Awal perjalanan juga masih aman, tidak ada kendala. Bellova pun hanya melihat sisi kiri jalan dengan tenang.


Bbrruugghh….


Tiba-tiba mobil di depan berhenti mendadak, membuat Abraham pun terpaksa berhenti. Untuk Abraham


masih sedikit beruntung, karena memiliki bantalan yang muncul di kemudi stirnya, sedangkan Bellova, keningnya berdarah karena terkena benturan.


“Lov, kamu… kamu tidak apa-apa?” tanya Abraham panik dan langsung mengecek keadaan isterinya.


“Ssshh… aahh…. Kepalaku sakit.” Jawabnya memegang kening yang sudah mengeluarkan darah.


Arshinta yang melihat kejadian itu pun menghentikan mobil dan ingin keluar dari mobil.


“Kurang ajar! Siapa mereka? Apa ini sengaja?” gerutu Abraham marah.


Darah yang sudah mengalir hingga turun ke batang hidung, Abraham segera membersihkan dengan pelan.


Dari mobil yang ada di depan mereka, keluar beberapa orang dan mengarahkan pistol kepada Abraham dengan posisi mereka berdiri.


“Apa yang mereka lakukan?” tanya Abraham yang semakin panik.


“Hhhheeyyyy!!!! Jangan lakukan itu!!” teriak Arshinta yang juga melihat seseorang mengarahkan pistol pada kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2