KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
Episode 37


__ADS_3

Bellova yang kebetulan ada di dapur segera berlari saat mendengar ketukan pintu nya. Di intip terlebih dahulu, setelah tahu siapa yang


datang, dia pun membuka pintu.


Ceklek….


“Hallo Kak Ab…….”


Arshinta tidak melanjutkan kalimat nya. Di lihat bukan Abraham yang ada di hadapan nya.


“Selamat sore nona Arshinta dan nona Ina.” Sapa Bellova ramah.


Ina dan Arshinta saling menatap.


“So…sore Bellova…” jawab Arshinta.


“Silahkan masuk nona…” Bellova membuka pintu dengan lebar. Kedua wanita yang dekat dengan Abraham juga akhir nya masuk.


“Di mana kak Abraham, dia bilang sudah pulang.” Arshinta mencari sosok kakak laki-laki nya.


Mereka berdua langsung duduk di sofa rumah itu.


“Pak Abraham memang sudah pulang nona Arshinta, dan sekarang beliau sedang ada di dalam kamar nya.” Jawab Bellova.


“Ya ampun, jangan panggil ‘nona’ dong. Kesan nya kayak ada jarak gitu.”ucap Arshinta yang menolak panggilan itu.


“Tapi nona…..


“Tidak apa-apa, aku juga tidak suka dengan panggilan itu. lagi pula kami kan bukan majikan mu.” Ina juga sepakat, setuju dengan Arshinta.


“Baik lah…..


“Shinta, kamu panggil aku dengan nama itu saja ya, Love…” ucap Arshinta, dia bisa menebak kalau wanita itu kesulitan untuk memanggil nya.


“Aku panggil saja Ina. Oke..” tambah Ina juga.


“Baik no….Shinta dan Ina…” ujar Bellova.


“Apa ada yang kalian ingin kan? Biar saya buat kan.” Tanya Bellova.


“Es the tarik saja. Ada kan? Soal nya kak Abraham juga suka dengan minuman itu.” jawab Arshinta.


“Aku kopi latte saja ya.” Tambah Ina.


“Baik, saya akan membuatkan nya dulu.”


“Tunggu….. ini ada daging dan ikan, kamu bersihkan dulu ya, nanti kita akan bantu untuk memasak nya.” Pinta Arshinta, memberikan bungkusan yang dia bawa dari toko.


Bellova menganggukkan kepala nya, menerima dan segera membawa nya ke dapur.


Arshinta dan Ina pun pergi ke lantai atas, menuju kamar Abraham.

__ADS_1


Bellova melihat dua wanita itu menuju atas.


Tok…Tok…Tok…


“Pergi lah, aku sedang tidak ingin di ganggu!” ucap Abraham yang tidak tahu siapa yang mengetuk pintu.


“Idih… ketus amat ya….” Celetuk Arshinta.


Tok…Tok…Tok….Tok….Tok…Tok…Tok…


Berkali-kali Arshinta mengetuk pintu Abraham, agar kakak nya itu segera membuka pintu.


“Kak….kak Abraham, bukain pintu nya… kamu kenapa kak……” teriak Arshinta.


“Bram… kamu tidak apa-apa kan? Ada apa dengan mu?” Ina pun ikut-ikutan. Mereka berdua bersamaan meledek Abraham. Seakan pura-pura panik.


Arshinta masih tanpa henti mengetuk pintu Abraham.


“Kak….apa aku harus panggil papa dan mama ke sini…. Pasti mereka akan sangat khawatir…


“Bram, apa kakak juga panggil kan Adley dan anggota kepolisian lain nya?” tambah Ina.


Sementara itu Abraham menahan tawa nya dari dalam.


Ceklek…..


Akhir nya pintu pun di buka kan Abraham.


“Kak… kau tidak apa-apa kan? Apa ada yang sakit? Yang mana yang sakit kakak ganteng ku, wajah mu….wajah mu masih oke kan…” Arshinta menyentuh wajah Abraham.


“Bram, kakak juga sangat khawatir pada mu, kaki mu masih bisa berdiri kan? Tangan mu masih kuat mengangkat senjata kan? Coba kakak lihat…” Ina mengambil bagian mengecek tubuh Abraham.


“Ya ampun…. Apa-apaan sih kalian…. Berhenti…” Abraham kelabakan dengan dua orang wanita itu.


*****


“Jadi…. Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanya Abraham.


Bellova juga sudah mengantarkan pesanan Ina dan Arshinta.


Mereka bertiga sudah duduk di sofa, di lantai bawah.


“Kakak, pertanyaan macam apa itu. apa kakak tidak suka kedatangan saudara mu ke sini?” tanya Arshinta meledek.


“Ah… Shinta, sebaik nya kita pulang saja. Seperti nya Abraham tidak menginginkan kita di sini….’


“Dih… ambekkan…” ledek Abraham, dia membalas ledekan dari kedua saudara nya.


“Kau benar kak Ina, kalau gitu….. kita serang saja dia…. Ayo kak, kita keroyok kak Abram.” Arshinta mengajak Ina untuk mengeroyok Abraham.


Terjadi pengeroyokan di antara ketiga saudara itu. tentu saja itu hanya candaan mereka. Arshinta menarik rambut Abraham, Ina memukul Abraham.

__ADS_1


“Kalian curang ya, berani nya keroyokan…. Hentikan !” Abraham yang berusaha menghindar.


“Bellova, cepat… tolong kami membalas kan dendam pada pria ini!” teriak Arshinta.


Bellova tidak tahu harus berbuat apa. Yang bisa di lakukan nya adalah hanya berusaha memisahkan mereka bertiga. Dan Abraham malah berusaha bersembunyi di belakang tubuh Bellova.


“Love… kau berada di pihak nya? Kau kan wanita, apa kau tidak mau membela kami? Cepat ke sini, bantu kami bukan dia…” protes Arshinta.


“Sudah….sudah, berhenti…. Apa kalian tidak lapar? Hah?” ucap Abraham, berusaha mengalihkan pertengkaran.


“Tidak!!” jawaban serentak Arshinta dan Ina.


“Hah?”


Pertarungan di antara mereka pun masih berlanjut beberapa menit, mereka berdua menyerang Abraham yang selalu di lindungi Bellova. Bellova merasa lucu, tidak terbebani. Ada perasaan seru.


Setelah puas saling menyerang, akhir nya mereka kelelahan, kecuali Bellova, mereka duduk dengan tubuh yang lemas.


“Kalau begitu apa saya buatkan minuman dingin?” tawar Bellova.


“Boleh!!” jawab mereka bertiga serentak.


Bellova tersenyum, mengangguk dan segera pergi ke dapur.


“Aku dengar Rakha ingin di masuk kan ke sekolah mu ya?” tanya Abraham mengatur pernafasan nya yang ngos-ngos an.


“Iya, beberapa hari ini lagi. Kata nya sih biar bisa lebih dekat dengan ku. Aku juga tidak keberatan.” Jawab Arshinta dengan yakin.


“Bagaimana dengan kasus mu kak? Apa ada kesulitan?” sekarang Arshinta balik bertanya.


“Masih sama kasus nya, tentang penculikan dan hilang nya perempuan, dari usia remaja hingga dewasa. Tapi konflik nya berbeda, aku yakin itu.”


Bellova datang dengan membawa teko kaca dan beberapa gelas untuk mereka bertiga.


Arshinta melihat Bellova, seketika teringat dengan kasus yang sama persis di alami wanita itu.


“Love, kamu juga waktu itu kan pernah di culik ya? Bisa tidak di ceritakan bagaimana itu terjadi?” tanya Arshinta.


Abraham tidak terlalu menyimak, karena langsung meminum air dingin yang di isi di dalam gelas nya.


“Iya, Shinta. Bukan cuma saya saja, ada beberapa lain nya, tapi ada juga laki-laki, dan tidak berada dalam satu tempat yang sama dengan saya. Kami di bawa dengan cara yang berbeda.” Ucap Bellova.


“Kamu sebaik nya duduk juga. Ngapain berdiri.” Suruh Abraham.


Setelah mendapatkan kesepakatan dari Ina dan Arshinta, Bellova duduk juga bersama mereka.


“Lalu, bagaimana cara mereka membawa mu?” lanjut Ina.


“Awal nya aku di janjikan kerjaan, kata mereka, mereka adalah lembaga tenaga kerja dan bisa menyediakan pekerjaan tanpa melihat pendidikan nya. Dan aku percaya. Memang sebelum nya saya merasa curiga, karena saya tidak sengaja mendengar mereka sedang berbicara tentang harga penjualanan


manusia,  bukan cuma itu saja, mereka juga berbicara tentang harga jantung, ginjal, bahkan bola mata juga di bicarakan….

__ADS_1


“Apa??” teriak Arshinta tidak percaya.


__ADS_2