
Di dalam rumah Abraham, semua anggota keluarga nya kecuali Aditya masih menunggu di kamar Abraham.
Yang paling panik adalah Eva, berulang kali duduk dan berdiri untuk melihat keadaan Abraham dan menantu nya.
Adam, beberapa kali juga mendapat panggilan telepon dan menjawab nya.
“Hhmm…” Abraham baru mulai membuka mata nya.
Eva, Ina dan Arshinta segera bangun, melihat Abraham karena mendengar suara Abraham walau pelan.
“Kak..
“Bram…
Mereka memanggil Abraham serentak.
Abraham melihat mereka perlahan, di rasa aneh karena mereka semua berkumpul.
“Aku di kamar? Kenapa aku bisa ada di sini?” tanya nya dengan suara pelan, terlihat masih lemas.
“Kamu pingsan di depan pintu masuk, Aditya dan Satmaka membantu membawa mu ke kamar.” Jawab Arshinta berdiri di samping mama nya.
Abraham memijit kepala nya yang masih sakit. Dia masih belum menyadari kalau isteri nya juga ada di samping, dan ikut pingsan juga.
“Kenapa kamu pingsan? Dan aneh nya barengan lagi dengan isteri mu.” Tanya Eva, dia sudah lega karena putera nya sudah bangun.
Abraham mengernyitkan dahi nya.
__ADS_1
“Pingsan? Siapa yang-
“Hhmmpp..”
Sekarang mereka melihat Bellova, yang juga sudah mulai sadar. Abraham juga melihat sisi kanan.
“Kakak ipar, kamu sudah bangun juga?” Arshinta bergeser, pindah ke sisi Bellova.
Sama seperti Abraham, dia bingung dan memegang kepala nya.
“Kak Bellova dan kak Abraham pingsan, apa kalian pingsan nya bersamaan ya? sudah janjian untuk pingsan?” tanya Arshinta menceritakan sebagian kejadian.
Abraham ingin bangun, mengubah posisi dari berbaring untuk duduk, namun di tahan mama nya.
Hingga yang bisa di lakukan nya adalah melihat Bellova dari samping, menatap nya.
“Dia… dia ada di samping ku?” gumam Bellova dalam hati.
“Aku tidak sadar kalau aku pingsan.” Jawab nya melihat Abraham juga.
“Kenapa?” tanya Abraham lagi, masih dengan suara lemah nya.
“Kalian ini ya, pingsan bersamaan, bangun nya juga bersamaan, apa kalian sudah bertemu di dunia mimpi dan janjian untuk bangun bersamaan? Gitu?” tanya Eva, melihat anak dan menantu nya satu persatu.
“Maaf ma, aku tidak tahu.”
“Sudah lah, karena mereka sudah bangun, kita biarkan saja mereka istirahat.” Ajak papa nya, yang sedari tadi hanya mengamati.
__ADS_1
Apa yang di katakan papa nya masuk akal, mereka juga tidak terlalu khawatir lagi.
“Kalau begitu, kami keluar dulu ya, kalau masih lemah, tidur saja lagi. Mama akan buatkan bubur untuk kalian berdua.” Ucap Eva lega.
Abraham tidak menjawab, dia hanya memberi kode menganggukkan kepala.
Eva dan yang lain nya keluar dari kamar, meninggalkan Abraham dan Bellova yang sudah bangun.
Klik…
Pintu sudah di tutup kembali.
Suasana menjadi hening, sama-sama diam.
“Apa dia tidur lagi?” gumam Bellova yang tidak berani melihat Abraham di samping nya.
“Kenapa dia diam?” gumam Bellova yang juga tidak melihat Bellova.
“Ehem, kenapa kau bisa pingsan?” Abraham memilih untuk mulai berbicara.
“Ah? Aku.. aku tidak tahu, mungkin karena kecapek an.” Jawab asal Bellova.
“Capek? Memang nya apa yang kau lakukan?” tanya Abraham lagi.
“Ti..tidak ada.” Jawab Bellova gugup.
Suasana kembali menjadi hening lagi.
__ADS_1
“Aku hanya lelah saja dengan perubahan sikap Abraham pada ku.” Ucap Bellova lagi, tanpa melihat Abraham, dan hanya suami nya saja yang memutar kepala nya, untuk melihat Bellova.