
“Mata mu melihat kemana?” Abraham menyadari pandangan Bellova. Bellova pun terkejut dan melihat suami nya yang masih menatap nya.
“Apa… apa aku datang disaat tidak tepat?” tanya nya gugup.
“Siapa yang bilang? Justru kau datang tepat waktu, karena perut ku sudah sangat keroncongan, di tambah lagi dengan kedatangan si pembuat onar.” Jawab nya mempersiapkan makan siang nya.
“Siapa pembuat onar nya?”
“Nanti saja kita bicarakan itu. Ngomong-ngomong kamu sudah makan?”
Bellova menggelengkan kepala nya, “Belum, karena aku takut kamu menunggu terlalu lama.” Jawab nya.
“Kalau begitu aku pulang saja, nanti-
Tak…
Abraham menahan salah satu tangan Bellova karena isteri nya yang sudah berdiri ingin pergi.
“Kamu disini saja, makan berdua bersama ku.” Ucap Abraham.
“Hah? Ta…tapi, sendok dan garpu nya hanya ada satu.” Jawab Bellova malu.
“Kita bisa ganti-gantian kan. Lagipula ini makanan nya sangat banyak, aku pasti tidak bisa menghabiskan nya. Jadi kita makan di sini bersama.” Ucap nya sembari tersenyum sekilas.
Bellova yang malu, hingga wajah nya berkeringat.
__ADS_1
“Sini duduk. Kamu mau minum apa? Mau jus, ice, atau apa?” tanya Abraham yang menarik Bellova untuk duduk bersama nya.
“A..air hangat saja.” Jawab nya semakin gugup.
“Oke, kamu duduk dan jangan kemana-mana.” Abraham berdiri mengambil air hangat di dispenser yang sudah tersedia di kantor nya, sebagai fasilitas mereka.
Tatapan nya tidak lepas dari Abraham. Jantung nya berdetak sangat cepat, tidak seperti sebelum nya, saat dia menjadi pembantu di rumah Abraham.
“Ini.” Dia meletakkan dua gelas air hangat di atas meja.
Mereka makan berhadap-hadapan.
Abraham mulai mengambil suapan pertama, dan memberikan nya pada Bellova.
“Buka mulut nya.” Suruh Abraham.
Dengan gugup Bellova membuka mulut nya, mata nya berkedip dengan cepat saking gugup nya.
“Aku..aku bisa pingsan ini.” Ucap nya dalam hati.
“Pintar. Gitu dong, aku paling tidak suka dengan penolakan dan banyak tanya.” Ucap nya puas.
Suapan kedua untuk Abraham, dengan sendok yang sama.
Suapan yang ketiga…
__ADS_1
“Aaaaaa.” Abraham memberikan pada Bellova.
Isteri nya pun tidak bisa menolak nya, dia membuka mulut dan menerima suapan dari suami nya.
Begitu selanjut nya, mereka makan dengan menggunakan sendok yang sama secara bersamaan.
“Oh ya, nanti habis makan kau di sini saja, kita akan pulang bersama. Dan sekalian memilih cincin pernikahan kita. Kalau kau bosan dan memerlukan sesuatu, kau bisa menghubungiku atau Adley, atau siapapun yang ada di sinilah. Dan jangan berbicara dengan penghuni sel ya.” ucap Abraham sembari mempersiapkan suapan berikut nya.
“Apa… aku bisa keluar? Maksud ku, apa aku bisa melihat ruangan kantor ini?” tanyanya.
“Kalau kau tidak takut melihat mereka, silahkan. Kalau mereka mengancam atau berbicara kasar pada mu, katakan saja padaku, biar aku potong lidah nya. Aaaaaaa…buka mulut nya.” Jawab Abraham memberikan suapan pada Bellova.
Bellova menerima sembari membuka mulut nya.
**********
“Bodoh!! breng**k semua nya!! Aaaakkkkhhhh…” Bossa, dia mengamuk setelah mendegar dua berita penting.
Anak buah sebagai tangan kanan nya sudah di tangkap Abraham, Audrey yang harus di lenyapkan nya pun di selamat kan Abraham, musuh nya. Dan si pengacara juga tidak bisa melakukan pekerjaan nya dengan benar.
Bossa yang salah satu kaki nya pincang berjalan terus berulang-ulang, memikirkan suatu rencana lagi.
“Tuan, ini karena ada campur tangan dari Deadly Poison, mereka juga mengamati pergerakan kita, dan memperketat penjagaan untuk anak-anak nya.” Ucap anak buah nya.
“LUCIFER! Aku akan membunuh mu dan semua orang-orang yang kau cintai!!” teriak nya mengepalkan kedua tangan nya
__ADS_1